NABAWI TV – Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang penuh perdebatan, seringkali kita terjebak pada label dan bungkus luar agama, melupakan isinya yang paling manis: Cinta. Banyak yang alergi mendengar kata “Tasawwuf”, menganggapnya sesat atau berlebihan. Padahal, benarkah demikian? Syeikh Gaber Al-Baghdadi, ulama kharismatik asal Mesir, memberikan jawaban yang menyejukkan hati dan meluruskan benang kusut pemahaman kita selama ini.
Dalam wawancara eksklusif yang penuh kehangatan, beliau tidak hanya bicara soal definisi, tapi mengajak kita menyelami samudera Widad (kasih sayang) yang menjadi inti ajaran Islam. Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
Hakikat Tasawwuf: Bukan Jubah, Tapi Akhlak
Ketika ditanya apakah beliau seorang Sufi, Syeikh Gaber justru memberikan jawaban yang sangat tawadhu. Bagi beliau, menjadi Sufi bukanlah sebuah klaim atau pengakuan sepihak, melainkan sebuah pencapaian spiritual (Maqam) bagi mereka yang telah ‘sampai’ (Wasil) kepada Allah.
Beliau menegaskan bahwa Tasawwuf bukanlah sekadar ritual aneh, melainkan perwujudan nyata dari Ihsan—beribadah seakan-akan melihat Allah. Namun, definisi yang paling menohok adalah ketika beliau mengaitkan Tasawwuf dengan perilaku sehari-hari.
Tasawwuf adalah akhlak. Barangsiapa yang bertambah akhlaknya atasmu, maka ia bertambah tasawwufnya atasmu. — Syeikh Gaber Al-Baghdadi.
Jadi, jika ada orang yang mengaku bertasawwuf tapi gemar mencaci, tidak jujur, atau memecah belah umat, maka pengakuannya patut dipertanyakan. Tasawwuf adalah tentang kejujuran (shidq), amanah, dan menjaga batas-batas syariat. Sederhananya, seorang Sufi adalah Muslim yang berusaha menyamakan keindahan batinnya dengan perilaku lahiriahnya.
Fenomena Habib Umar dan Cinta yang Menggerakkan Hati
Syeikh Gaber juga menanggapi fenomena kecintaan umat yang luar biasa kepada para ulama dan habaib, seperti Habib Umar bin Hafidz. Seringkali, pemandangan ribuan orang yang berebut ingin dekat dengan para kekasih Allah ini dicibir sebagai pengkultusan.
Namun, Syeikh Gaber mengingatkan kita pada sebuah Hadits Shahih yang sering kita lupakan. Bahwa penerimaan di bumi (Qabul fil Ardh) adalah tanda cinta Allah di langit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Wahai Jibril, Aku mencintai Fulan, maka cintailah dia… Kemudian diletakkan penerimaan (rasa cinta) kepadanya di penduduk bumi.” — HR. Bukhari dan Muslim.
Jadi, bukan manusia yang merekayasa keramaian itu. Allah-lah yang menggerakkan hati hamba-hamba-Nya untuk mencintai orang-orang saleh. Membenci atau mencurigai fenomena ini justru bisa menjadi tanda tanya besar bagi kondisi hati kita sendiri. Apakah kita sedang memusuhi orang yang dicintai Allah?
Islam Adalah “Sekolah Cinta”
Di akhir pembahasannya, Syeikh Gaber menekankan bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas pondasi cinta, bukan ketakutan semata. Beliau menulis buku Al-Islam Madrasatul Hubb (Islam Sekolah Cinta) sebagai obat bagi anak-anak muda yang putus asa atau bingung dengan wajah agama yang sering ditampilkan garang.
Beliau mengingatkan para pendosa—dan kita semua—tentang luasnya ampunan Allah melalui sebuah Hadits Qudsi yang sangat menyentuh:
Wahai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi pula. — HR. Tirmidzi.
- Cinta Allah pada Penciptaan: Allah menciptakan kita dengan ‘tangan’-Nya sendiri dan meniupkan ruh-Nya, sebuah tanda cinta yang luar biasa.
- Cinta pada Ahlul Bait: Mencintai keluarga Nabi bukanlah fanatisme, melainkan perintah agama (Al-Qur’an Surah Asy-Syura) dan bukti cinta kita kepada Sang Kakek, Rasulullah ﷺ.
- Cinta pada Sesama: Kita membenci maksiatnya, tapi tetap menaruh belas kasih pada pelakunya agar ia bisa kembali.
Mari kita kembalikan wajah Islam yang ramah, yang mengajak manusia kepada Tuhan dengan jalan cinta (Hayya ‘ala al-Widad), bukan dengan jalan kebencian.
Wallahu a’lam bishawab.

