Habib Ahmad Mujtaba Shahab: Ibadah Semalam Suntuk Tanpa Tidur, Benarkah Justru Makruh?

Menyingkap perbedaan fikih antara Qiyamul Lail dan Tahajud, serta penjelasan Habib Ahmad Mujtaba Shahab tentang adab menghidupkan malam.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Malam hari adalah waktu yang istimewa bagi seorang hamba untuk bermunajat kepada Rabb-nya. Kesunyian malam menyimpan rahasia kedekatan yang tidak ditemukan di waktu lain. Namun, seringkali muncul kebingungan di tengah masyarakat mengenai istilah Qiyamul Lail dan Tahajud. Apakah seseorang yang beribadah semalam suntuk tanpa tidur bisa disebut melakukan Tahajud?

Dalam kajian kitab Al-Muqaddimah Al-Hadramiyah dan Mamlakatul Qalb, Habib Ahmad Mujtaba Shahab menguraikan fikih shalat malam dengan rinci, meluruskan kesalahpahaman tentang “begadang ibadah”, serta mengajarkan adab-adab bangun malam yang diwariskan oleh Rasulullah ﷺ dan para Salafus Shalih.

Antara Qiyamul Lail dan Tahajud

Habib Ahmad Mujtaba Shahab menjelaskan perbedaan mendasar antara kedua istilah ini. Banyak orang mengira asalkan shalat di malam hari, maka itu adalah Tahajud. Padahal, secara fikih, syarat mutlak Tahajud adalah harus didahului dengan tidur.

“Tidak ada namanya Tahajud kecuali jika engkau tidur duluan. Jika tidak tidur sama sekali, melek, namanya shalat malam (Qiyamul Lail), betul. Tapi bukan Tahajud. Karena Tahajud berasal dari kata al-hujud yang artinya tidur. Tarakal hujud artinya meninggalkan tidur.”
— Habib Ahmad Mujtaba Shahab.

Oleh karena itu, bagi mereka yang tidak tidur sama sekali dari Isya hingga Subuh untuk beribadah, pahala Qiyamul Lail tetap didapatkan, namun tidak mendapatkan pahala spesifik Tahajud.

Hukum Beribadah Semalam Suntuk Tanpa Tidur

Semangat beribadah adalah hal yang mulia, namun Islam adalah agama yang seimbang (wasathiyah). Habib Ahmad mengingatkan bahwa memaksakan diri untuk “begadang ibadah” setiap malam tanpa tidur justru hukumnya makruh.

Beliau menukil kisah tiga sahabat Nabi yang berniat untuk beribadah secara ekstrem: ada yang tidak mau menikah, ada yang ingin puasa setiap hari tanpa berbuka, dan ada yang tidak ingin tidur malam untuk shalat. Rasulullah ﷺ menegur mereka dan bersabda bahwa baginda juga tidur, berbuka, dan menikahi wanita.

“Dimakruhkan bangun sepanjang malam (tanpa tidur) jika dilakukan setiap hari,” jelas Habib Ahmad. Tubuh memiliki hak untuk istirahat. Cara terbaik meneladani Nabi ﷺ adalah dengan tidur terlebih dahulu, kemudian bangun di sepertiga atau seperdua malam terakhir untuk bermunajat.

Mana yang Lebih Utama: Lama Berdiri atau Banyak Rakaat?

Dalam mazhab Syafi’i, terdapat pembahasan menarik mengenai kualitas shalat sunnah mutlak di malam hari. Apakah lebih baik shalat 100 rakaat dengan bacaan pendek, atau 2 rakaat tapi dengan bacaan surat yang sangat panjang?

Habib Ahmad menjelaskan bahwa menurut Imam Syafi’i, memperlama berdiri (durasi bacaan Al-Qur’an) lebih utama daripada memperbanyak jumlah rakaat.

  • Pandangan Mazhab Syafi’i: Berdiri adalah rukun yang paling afdal karena di dalamnya terdapat bacaan Al-Qur’an. Maka, 2 rakaat yang menghabiskan 4 juz Al-Qur’an lebih utama dibanding 60 rakaat yang cepat.
  • Pandangan Mazhab Hanafi & Maliki: Sujud adalah posisi terdekat hamba dengan Tuhan, sehingga memperbanyak sujud (memperbanyak rakaat) dianggap lebih utama.

Namun, beliau menekankan bahwa keduanya baik. “Shalat dengan berdiri yang panjang lebih afdal, namun memperbanyak bilangan rakaat juga termasuk bagus dan merupakan amalan para Salaf,” tambah beliau.

Adab Bangun Malam dan Rahasia Siwak

Habib Ahmad Mujtaba Shahab juga membagikan “resep” agar bangun malam terasa nikmat dan berkah, sebagaimana diamalkan para aulia:

  1. Siwak di Bawah Bantal: Biasakan meletakkan siwak di dekat bantal. Hal pertama yang dicari saat mata terbuka bukanlah handphone, melainkan siwak. “Siapa yang terbiasa mencari siwak saat bangun tidur, insyaallah saat bangun di alam barzakh nanti yang dicari juga siwak,” ujar beliau.
  2. Mengusap Wajah: Disunnahkan mengusap bekas tidur di wajah.
  3. Memandang Langit: Keluar sejenak ke jendela atau teras, pandanglah langit dan bintang-bintang untuk merenungi kebesaran Allah.
  4. Membaca Akhir Surat Ali Imran: Bacalah ayat Inna fi khalqis samawati wal ardh… (QS. Ali Imran: 190-200) sambil meresapi maknanya.

Doa Sayyidina Hasan bin Ali: Memutus Harap pada Makhluk

Sebagai penutup kajian yang menyentuh hati, Habib Ahmad mengisahkan tentang cucu Rasulullah ﷺ, Sayyidina Hasan bin Ali. Ketika beliau hendak menulis surat menagih janji kepada Muawiyah bin Abi Sufyan karena desakan kebutuhan untuk menjamu tamu, beliau bermimpi bertemu Rasulullah ﷺ.

Nabi ﷺ melarangnya berharap kepada makhluk dan mengajarkan sebuah doa agung untuk memutus ketergantungan hati kepada selain Allah:

Allahumma aqdzif fi qalbiy raja-aka, waqtha’ raja-iy ‘amman siwaka, hatta la arju ahadan ghairaka…

(Ya Allah, lemparkanlah harapan kepada-Mu di dalam hatiku, dan putuskanlah harapanku dari selain-Mu, hingga aku tidak berharap kepada siapapun selain Engkau…)

Dengan mengamalkan doa ini, Allah mendatangkan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka tanpa perlu merendahkan diri di hadapan manusia. Inilah esensi dari shalat malam: membangun koneksi vertikal yang kuat, sehingga hati menjadi kaya dan tidak bergantung pada dunia.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar