Ngobrol Santai Abdur & Barry: Makna Hijrah yang Tak Terduga

Bincang santai bersama Abdur Arsyad dan Barry Williem. Dari dunia stand up dan motoran, hingga makna hijrah yang sesungguhnya dan tak terduga.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

Siapa sangka, dua komika papan atas Indonesia, Abdur Arsyad dan Barry Williem, bisa duduk bareng di markas Nabawi TV? Bukan sekadar haha-hihi di atas panggung, obrolan mereka bersama Habib Isa Al Kaff dalam program Kalaam kali ini benar-benar menyentuh sisi lain kehidupan yang jarang terekspos.

Perbedaan latar belakang—Abdur dari Timur dan Barry yang berdarah Tionghoa—justru menjadi bumbu sedap dalam diskusi ini. Mereka membuktikan bahwa persahabatan sejati tak mengenal sekat ras maupun agama. Bahkan, dari hobi motoran pun, terselip pelajaran tasawuf yang mendalam.

Stand Up Comedy: Obat Galau yang Jadi Jalan Rezeki

Banyak yang penasaran, bagaimana awal mula mereka terjun ke dunia stand up comedy? Ternyata, motifnya sangat manusiawi dan sederhana.

Abdur Arsyad, yang berlatar belakang pendidikan Matematika (S2), mengaku awalnya hanya mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan waktu di sela-sela kuliahnya di Malang.

Saya tidak pernah membayangkan saya berada di posisi itu. Maksudnya, masa saya bisa sih sendirian bikin orang ketawa? [10:00]

Sementara itu, Barry Williem punya alasan yang lebih relate dengan anak muda: Patah Hati. Putus cinta membuatnya mencari dunia baru untuk melupakan masa lalu alias move on. Siapa sangka, langkah kecil untuk “menyembuhkan diri” ini justru membuka pintu kesuksesan yang lebar.

Habib Isa Al Kaff pun menimpali dengan sudut pandang yang indah: “Sebenarnya Barry sudah menerapkan konsep hijrah. Berpindah dari situasi yang tidak mengenakkan menuju situasi yang lebih kondusif. Itu hakikat hijrah.” [15:35]

Filosofi Motoran: Lebih dari Sekadar Jalan-Jalan

Salah satu topik paling menarik adalah hobi touring motor mereka. Bagi sebagian orang, motoran jauh-jauh mungkin terlihat melelahkan dan buang-buang waktu. Namun bagi Abdur dan Barry, motoran adalah sarana kontemplasi.

Barry Williem menjelaskan bahwa saat berada di atas motor, pikirannya menjadi fokus. Hanya ada dua hal di kepala: Aman atau tidak, sampai atau tidak. Ini menjadi momen meditatif untuk berdialog dengan diri sendiri di tengah hiruk-pikuk kehidupan Jakarta.

Habib Isa Al Kaff memberikan perspektif spiritual yang luar biasa tentang fenomena ini. Dalam Islam, aktivitas menyendiri untuk berkontemplasi dikenal dengan istilah Khalwat.

  • Tafakkur Alam: Melihat keindahan ciptaan Allah (ayat kauniyah) sepanjang perjalanan.
  • Dzikir: Mengisi waktu diam di perjalanan dengan mengingat Sang Pencipta.
  • Safar sebagai Ibadah: Safar (perjalanan) bisa menjadi sarana menghapus dosa dan mendapatkan hikmah, sebagaimana disebutkan ulama tentang 5 manfaat safar (menghilangkan kesedihan, mencari rezeki, ilmu, adab, dan teman). [27:53]

Toleransi yang Tumbuh dari Perkenalan

Kehadiran Barry Williem yang non-Muslim di Nabawi TV menjadi simbol toleransi yang hangat. Ia bercerita tentang masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan plural di Jakarta Pusat, di mana rumah omanya bersebelahan dengan masjid. Suara adzan dan kiriman ketupat saat Lebaran adalah hal yang lumrah baginya.

Barry menyoroti poin penting tentang prasangka (stereotype). Seringkali kebencian muncul karena ketidaktahuan.

Kenapa perbedaan itu diciptakan? Biar kita saling kenal. Kenapa orang bisa benci? Karena enggak kenal. Kebencian ada karena ketidaktahuan, diliput dengan ketakutan. [48:47]

Abdur pun menambahkan bahwa stereotype tidak hanya dialami minoritas, tapi juga orang Timur sepertinya. Namun, ketika kita berani membuka diri dan bergaul, tembok prasangka itu runtuh dengan sendirinya. Sebagaimana firman Allah, tujuan diciptakannya manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa adalah Lita’arofu (untuk saling mengenal).

Imamah dan Kain Kafan

Ada momen unik ketika Abdur bertanya tentang sorban atau imamah yang sering dipakai para Habaib. Habib Isa menjelaskan makna filosofis yang dalam: Imamah sejatinya adalah kain kafan.

Dipakai di kepala agar pemakainya selalu mengingat kematian. Ilmu dan ibadah yang dilakukan, tujuannya adalah bekal menuju kematian. Bahkan, kain imamah itulah yang kelak sering dijadikan kain kafan saat sang ulama wafat.

Diskusi ini ditutup dengan kisah menyentuh tentang Sayyidah Khadijah RA yang meminta sorban Rasulullah ﷺ untuk dijadikan kain kafannya, sebagai bentuk kemuliaan dan harapan syafaat.

Pelajaran dari Sinetron Religi

Menariknya, Barry Williem yang non-Muslim ternyata penggemar berat sinetron Para Pencari Tuhan (PPT). Ia mengaku banyak belajar nilai-nilai Islam yang universal dari tayangan tersebut.

Salah satu scene favoritnya adalah ketika tokoh Bahar (si pemabuk) mengoreksi arah kiblat masjid. Meski Bahar ahli maksiat, Bang Jack tetap menerima kebenaran darinya karena didasari ilmu (kompas). Ini mengajarkan kita untuk objektif menerima kebenaran dari siapa pun datangnya, tanpa melihat latar belakang orangnya.

Obrolan di Kalaam kali ini mengajarkan kita bahwa dakwah itu luas. Dakwah bisa lewat komedi, bisa lewat hobi motoran, dan bisa lewat persahabatan yang tulus. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup, seperti Abdur dan Barry yang terus menebar tawa dan kebaikan.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar