NABAWI TV – Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani (w. 1420 H) adalah sosok ulama kontemporer yang menjadi ikon. Di satu sisi, beliau dipuja sebagai pembaharu yang gigih dalam ilmu hadits; di sisi lain, beliau adalah sumber perpecahan yang fatwa-fatwanya menuai kritik keras dan bahkan dianggap mengerikan.
Lantas, apa yang sebenarnya tersembunyi di balik nama besar yang sering dijadikan tolak ukur penerimaan sebuah hadits ini?
Dalam program Towards Unity Nabawi TV, Gus Ajir Ubaidillah membongkar secara objektif jejak intelektual Syekh Albani, mengajak kita untuk menyelami fakta yang mungkin selama ini sengaja ditutup-tutupi.
Ketiadaan Guru dan Metodologi “Ash-Shuhufi”
Syekh Albani dikenal sebagai sosok yang sangat tekun. Ia menghabiskan 10 hingga 16 jam sehari di perpustakaan, membaca manuskrip dan kitab-kitab para ulama [04:38]. Namun, ketekunan ini sayangnya tidak diimbangi dengan bimbingan guru yang sistematis. Bahkan, ayah beliau—seorang ulama mazhab Hanafi—sempat memperingatkan beliau agar tidak terlalu dini mendalami ilmu hadits tanpa panduan.
Ketiadaan mentor ini diakui sendiri oleh beliau dalam sebuah rekaman. Padahal, para ulama klasik telah mewanti-wanti pentingnya sanad dan guru dalam menuntut ilmu.
Sungguh ilmu ini adalah penentu keagamaan seseorang, maka perhatikan dengan seksama dari siapa kalian mengambil ilmu tersebut.
— Imam Muslim (Dalam Mukadimah Shahih Muslim) [06:22]
Mereka yang mengambil ilmu langsung dari buku (kutub) tanpa bimbingan guru dijuluki Ash-Shuhufi (orang yang mengambil ilmu dari lembaran kertas) [06:47]. Ketiadaan bimbingan inilah yang disinyalir Gus Ajir menjadi pemicu utama sikap Albani yang sering menyelisihi pandangan ulama terdahulu.
Kontradiksi Pedas dengan Imam Bukhari dan Muslim
Salah satu fakta paling mencengangkan adalah keberanian Syekh Albani menolak pandangan dan bahkan da’if (melemahkan) hadits-hadits yang sudah disepakati kesahihannya (ijma’) oleh umat, yaitu yang termaktub dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).
1. Menolak Tafsir Imam Bukhari
Syekh Albani secara eksplisit menolak ta’wil (penafsiran) yang dilakukan oleh Imam Bukhari terhadap firman Allah ﷻ:
كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ
Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya. (Q.S. Al-Qasas: 88)
Imam Bukhari menafsirkan Wajhah (wajah-Nya) dengan Mulkahu (Kerajaan-Nya). Namun, Albani menolak tafsir tersebut dan dengan tajam berkata, “Perkataan seperti ini tidak mungkin diucapkan oleh seorang muslim yang beriman.” [09:09] Padahal, ta’wil ini tercantum jelas dalam kitab Shahih Bukhari sendiri [09:53].
2. Menda’ifkan Hadits Shahih Muslim
Lebih fatal, Syekh Albani mendha’ifkan beberapa hadits yang telah disahihkan oleh Imam Muslim. Salah satunya adalah hadits tentang bahaya suami menceritakan aib istri setelah selesai hajat (hubungan intim):
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Muslim, anehnya beliau (Albani) justru mendaifkan hadits ini…
— Gus Ajir Ubaidillah [11:14]
Ini hanyalah sampel, sebab kritik Albani terhadap Shahih Muslim begitu banyak hingga seorang pakar hadits kontemporer, Dr. Mahmud Said Mamduh, menulis kitab khusus berjudul Tanbihul Muslim ila Ta’addil Albani ‘ala Shahihil Muslim (Peringatan untuk Muslim atas Kesembronoan Albani terhadap Shahih Muslim) [33:37].
Fatwa-Fatwa Paling Kontroversial
Di luar metodologi hadits, Syekh Albani juga dikenal dengan fatwa-fatwa yang sangat nyeleneh (nyeleneh) dan bertentangan dengan jumhur ulama Aswaja, bahkan sebagian dinilai menyerempet pada Bid’ah Mujassimah (antropomorfisme).
Beberapa fatwa beliau yang paling mengundang perdebatan sengit, antara lain:
- Keyakinan Tajsim: Beliau menetapkan bahwa Allah ﷻ memiliki tangan dan betis secara hakiki [19:51].
- Perintah Merusak Qubbah Nabi: Beliau memerintahkan agar Qubbatul Khadra (Kubah Hijau di Masjid Nabawi) dihancurkan dan makam Rasulullah ﷺ dikeluarkan dari dalam masjid [20:38].
- Status Nabi: Beliau berpendapat bahwa Ismah (penjagaan) para Nabi tidak mutlak, sehingga Nabi ﷺ mungkin saja melakukan dosa kecil atau lupa [20:00].
- Amalan Sunnah dianggap Bid’ah:
Cacian kepada Ulama Salaf dan Reaksi Kontemporer
Gus Ajir juga mengungkapkan bahwa Syekh Albani dikenal dengan lisan yang tajam dan sering mencaci maki ulama besar terdahulu. Dalam kitab Qamus Syataim Al-Albani karya Syekh Husein bin Ali Assaqaf, terekam cacian beliau terhadap:
- Imam As-Suyuti: Dijuluki sebagai Yajlu (orang yang banyak omong tapi tidak beramal) [15:39].
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani: Dituduh mengalami “kerancuan pemahaman” [17:40].
- Imam Adz-Dzahabi: Dituduh kurang teliti dan tidak jelas (ghairu wadih) [16:19].
Melihat rekam jejak kontroversial ini, banyak ulama kontemporer dari berbagai mazhab merasa wajib untuk meluruskan. Salah satu yang paling fenomenal adalah Syekh Hasan Assakaf yang menyusun tiga jilid kitab Tanaqud al-Albani Al-Wadihat, yang merinci lebih dari 250 kontradiksi yang dilakukan Syekh Albani dalam fatwa-fatwanya [26:08].
Sebagai umat Islam, kita wajib menjaga lisan dari menyakiti sesama muslim. Data dan fakta ini semestinya membuka mata kita bahwa tidak ada satu pun ulama yang ma’sum (terjaga dari kesalahan). Oleh karena itu, kita harus kembali pada tradisi keilmuan Aswaja yang menghargai keberagaman pendapat dan menjadikan ilmu serta adab para ulama salaf sebagai tolak ukur, bukan sekadar ketenaran seseorang.
Wallahu a’lam bishawab.

