Habib Muhammad Al-Habsyi: Sains Modern Membuktikan Kebenaran Al-Qur’an, Masihkah Kita Ragu?

Menguak keajaiban penciptaan manusia dan alam semesta sebagai sarana tafakur yang meningkatkan iman.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa Islam sangat mendorong umatnya untuk berpikir? Dalam kajian kitab Risalatul Muawanah, Habib Muhammad Al-Habsyi mengajak kita untuk tidak sekadar menjalani hidup sebagai rutinitas, tetapi menjadikan setiap detiknya sebagai sarana tafakur (berpikir mendalam) tentang keagungan Allah ﷻ.

Beliau menyoroti bahwa akal manusia adalah satu-satunya “mesin” ciptaan Allah yang semakin sering dipakai justru semakin tajam dan bernilai, berbeda dengan mesin buatan manusia yang nilainya menyusut seiring penggunaan. Lantas, apa saja objek tafakur yang bisa mengantarkan kita pada makrifatullah? Berikut intisari nasihat Habib Muhammad Al-Habsyi.

Bukti Sains: Dari Mumi Firaun hingga Gunung Berjalan

Habib Muhammad Al-Habsyi mengangkat fakta mencengangkan tentang Maurice Bucaille, seorang ahli bedah kenamaan Prancis yang masuk Islam setelah meneliti mumi Firaun. Bucaille terkejut menemukan bahwa jasad Firaun masih utuh dan mengandung sisa-sisa garam laut, sebuah fakta yang mustahil diketahui manusia di zaman Nabi Muhammad ﷺ tanpa teknologi modern.

Namun, Al-Qur’an telah mengabadikan fakta ini 14 abad silam dalam Surah Yunus ayat 92: “Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahmu.”

“Kalau urusan sains saja Al-Qur’an terbukti benar, kira-kira yang lainnya (tentang surga, neraka, hukum) benar atau tidak? Pasti benar!” —Habib Muhammad Al-Habsyi

Beliau juga mencontohkan fenomena gunung yang tampak diam namun sebenarnya bergerak layaknya awan (tahsabuhā jāmidatan wa hiya tamurru marras-sahāb), yang kini terbukti secara geologis melalui pergerakan lempeng bumi. Semua ini adalah bukti otentik bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan Semesta Alam, bukan karangan manusia.

Logika Sifat Wajib Allah

Selain alam semesta, Habib Muhammad juga mengajak jamaah untuk bertafakur tentang Dzat Allah melalui sifat-sifat-Nya. Beliau menjelaskan logika sederhana mengapa Allah harus memiliki sifat-sifat kesempurnaan (Sifat 20) dan mustahil menyerupai makhluk (Mukhalafatu lil hawaditsi).

“Kalau Tuhan bisa dijangkau oleh akal (bentuk-Nya), maka nilai kesempurnaan Tuhan jadi berkurang. Kenapa? Karena otak manusia beda-beda. Jika disuruh menggambar setan saja hasilnya beda-beda, apalagi membayangkan Tuhan,” jelas beliau dengan gaya yang renyah namun logis.

Oleh karena itu, akidah Ahlussunnah wal Jamaah sangat tegas menolak Mujassimah (paham yang menyerupakan Allah dengan fisik makhluk), karena hal itu mereduksi keagungan Tuhan yang Maha Tak Terbatas.

Menemukan Berkah di Balik Musibah

Poin krusial lain yang disampaikan adalah tentang seni memandang takdir. Habib Muhammad menekankan bahwa tafakur yang benar akan melahirkan rasa syukur dan husnudzon (prasangka baik) kepada Allah, bahkan di tengah musibah.

Beliau berkisah tentang Nabi Musa AS yang dihanyutkan ke sungai justru untuk diselamatkan dari Firaun, dan akhirnya malah diasuh oleh istri Firaun sendiri. Skenario Allah sering kali tak terduga; apa yang kita kira musibah, bisa jadi adalah jalan keselamatan.

“Ibu Nabi Musa takut anaknya dibunuh Firaun, solusinya apa? Dibuang ke sungai. Resikonya sama-sama mati, tapi karena patuh pada Allah, anaknya justru kembali ke pangkuannya dengan aman dan dibayar pula (disusui).”

Maka, ketika ban motor bocor, jangan buru-buru mengeluh. Siapa tahu itu cara Allah menghindarkan kita dari kecelakaan fatal di depan sana. Atau ketika di-PHK, bisa jadi itu cara Allah “memaksa” kita menjadi pengusaha sukses di masa depan.

Pesan Adab: Jangan Menerapkan Standar Tinggi untuk Bahagia

Di akhir kajian, Habib Muhammad memberikan resep kebahagiaan yang sangat relevan untuk manusia modern: Jangan mempersulit diri dengan standar kebahagiaan yang terlalu tinggi.

Syukuri apa yang ada—pasangan, rumah, pekerjaan—tanpa perlu membanding-bandingkan dengan orang lain. “Bahagialah mulai sekarang juga. Syukuri hidupmu, nggak usah lihat hidup orang lain. Orang lain kadang dikasih kelebihan, tapi kita nggak tahu apa yang kurang dalam hidupnya,” pesan beliau menutup kajian.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar