Rahasia Gramatikal Ayat 24 Surah Yusuf: Benarkah Sang Nabi Sempat Tergoda Zulaikha?

Mengupas tafsir oleh Syekh Mutawalli Asy-Sya'rawi tentang kemaksuman Nabi Yusuf 'alaihis salam.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam dan Zulaikha (istri Al-Aziz) sering disebut sebagai Ahsanul Qashash atau kisah terbaik di dalam Al-Qur’an. Namun, terdapat satu ayat yang kerap memicu perdebatan di kalangan awam maupun penuntut ilmu, yakni Surah Yusuf ayat 24. Ayat ini sering disalahpahami seolah-olah Nabi Yusuf memiliki keinginan (syahwat) yang sama besarnya dengan Zulaikha untuk melakukan perbuatan keji tersebut.

Dalam sebuah kajian tafsir yang tajam, ulama tafsir terkemuka Mesir, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi rahimahullah, membedah struktur bahasa ayat tersebut untuk meluruskan pemahaman kita tentang kesucian (ismah) seorang Nabi. Beliau menjelaskan bahwa justru ayat ini adalah bukti terkuat bahwa Nabi Yusuf sama sekali tidak memiliki niat buruk.

Logika Bahasa “Lawla”

Poin utama kesalahpahaman terletak pada penggalan ayat: Wa hamma biha lawla an ra’a burhana rabbi (Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya). Banyak yang menafsirkan bahwa Yusuf sempat berkehendak.

Namun, Syekh Sya’rawi menjelaskan kaidah bahasa Arab mengenai kata “Lawla” (لَوْلَا). Dalam ilmu Nahwu, Lawla dikenal sebagai harf imtina’ li wujud (huruf yang menunjukkan tidak terjadinya sesuatu karena adanya sesuatu yang lain).

Beliau memberikan analogi sederhana: “Jika tidak ada Zaid di sisimu, aku pasti akan mendatangimu.” Artinya, kedatangan “aku” tidak terjadi justru karena adanya “Zaid”.

Maka dalam konteks ayat ini:

  • Peristiwa yang tidak terjadi: Kehendak atau keinginan (hamm) Nabi Yusuf kepada Zulaikha.
  • Penyebab tidak terjadi: Karena Nabi Yusuf melihat burhan (tanda/petunjuk) dari Tuhannya.

Jadi, secara gramatikal, Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak pernah berniat atau “tergoda” untuk melakukan maksiat tersebut karena burhan Allah senantiasa bersamanya.

Mengapa Al-Qur’an Tidak Menafikan Secara Langsung?

Syekh Sya’rawi kemudian mengajukan pertanyaan retoris yang cerdas: Mengapa Allah tidak langsung berfirman, “Zulaikha berkehendak kepadanya, namun Yusuf tidak berkehendak kepadanya”? Bukankah itu lebih tegas memutus keraguan?

Jawabannya menunjukkan ketinggian balaghah Al-Qur’an. Jika dikatakan “Yusuf tidak berkehendak” tanpa konteks burhan, bisa timbul anggapan bahwa Nabi Yusuf memiliki kekurangan fisik, impotensi, atau ketidakmampuan sebagai laki-laki. Padahal, saat itu Nabi Yusuf berada di puncak kemudaan (asyuddahu), penuh kekuatan, dan memiliki ketampanan yang sempurna.

Allah SWT ingin menegaskan bahwa Nabi Yusuf adalah lelaki sejati dengan fitrah yang normal dan sempurna. Beliau memiliki potensi syahwat layaknya manusia biasa, namun ketakwaan dan burhan Allah-lah yang menjadi benteng kokoh yang mencegah potensi tersebut berubah menjadi niat atau tindakan maksiat.

“Nabi Yusuf memiliki kelengkapan kejantanan (fuhulah) dan berada dalam situasi yang sangat memungkinkan untuk tergoda—karena yang mengajaknya adalah wanita terpandang dan cantik, bukan pelayan biasa. Namun, Allah menjaganya. Ini membuktikan bahwa ketiadaan ‘hamm’ (kehendak) pada Yusuf bukan karena kelemahan fisik, melainkan karena kekuatan iman.” —Intisari penjelasan Syekh Sya’rawi.

Kesucian Mutlak Sang Nabi

Analisis ini diperkuat dengan fakta sejarah selanjutnya dalam kisah tersebut. Ketika para wanita di kota tersebut melihat Nabi Yusuf, mereka terpesona hingga melukai tangan mereka sendiri, seraya berkata:

“…Maha Sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Ini benar-benar malaikat yang mulia.” —QS. Yusuf: 31

Bahkan, pada akhirnya istri Al-Aziz sendiri mengakui kesucian Nabi Yusuf secara terang-terangan setelah masa berlalu:

“…Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar.” —QS. Yusuf: 51

Dengan demikian, jelaslah bahwa Nabi Yusuf ‘alaihis salam terjaga dari dosa (ma’shum). Burhan Allah bukanlah sesuatu yang datang terlambat setelah beliau tergoda, melainkan cahaya yang selalu menyertai beliau sehingga keinginan untuk bermaksiat tidak pernah mendapat tempat di hatinya.

Allah berfirman menegaskan posisi Nabi Yusuf:

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” —QS. Yusuf: 24

Semoga kita dapat mengambil hikmah tentang pentingnya menjaga pandangan dan hati, serta selalu memohon burhan dan perlindungan Allah di tengah fitnah dunia.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar