NABAWI TV – Kefakiran bukan sekadar masalah perut, melainkan ujian berat bagi akidah dan harga diri. Dalam kajian rutin kitab Nashoihul ‘Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani, Habib Fahmi bin Hamid Assegaf menguraikan Maqolah Kelima dari Bab Dua (Tsuna’i). Beliau menegaskan bahwa Islam menutup celah kehinaan bagi umatnya dengan menanamkan mentalitas tangan di atas, bukan mental pengemis.
Bagaimana syariat memandang fenomena meminta-minta, dan apa strategi konkret Rasulullah ﷺ dalam memberdayakan ekonomi umat?
Nasihat Luqman Al-Hakim: Beratnya Beban Utang
Habib Fahmi mengawali pembahasan dengan membacakan teks nasihat bijak dari Luqman Al-Hakim kepada putranya. Nasihat ini menjadi tamparan keras bagi siapa saja yang menggantungkan hidup pada belas kasihan makhluk. Beliau menukil:
— “Wahai anakku, aku pernah memikul batu besar dan besi yang berat. Namun, tidak ada yang lebih berat daripada utang. Aku pernah merasakan segala kepahitan, namun tidak ada yang lebih pahit daripada berharap dan bergantung kepada manusia.” —Luqman Al-Hakim (Dikutip dari Kitab Nashoihul ‘Ibad)
Ketergantungan kepada manusia adalah sumber kekecewaan. Sebaliknya, siapa yang menggantungkan urusannya kepada Allah, niscaya ia akan dicukupi. Habib Fahmi menekankan bahwa mental “meminta-minta” (tasawwul) dapat menggerus kewibawaan dan keimanan seorang mukmin.
Solusi Nabawi: Lelang Aset dan Kerja Keras
Untuk memperkuat argumen tersebut, Habib Fahmi menceritakan riwayat shahih tentang seorang Sahabat dari kalangan Anshar yang datang kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta bantuan karena himpitan ekonomi yang parah.
Rasulullah ﷺ tidak serta-merta memberinya uang tunai yang akan habis dalam sekejap. Beliau bertanya, “Apakah ada sesuatu di rumahmu?” Sahabat itu menjawab, “Ada, sehelai kain kasar (hils) yang sebagian kami pakai dan sebagian kami jadikan alas, serta sebuah mangkuk (qa’ab) untuk minum.”
Rasulullah ﷺ meminta barang itu dibawa, lalu beliau melakukan praktik lelang (muzayadah) di hadapan para sahabat:
- Tawaran pertama dibuka satu dirham.
- Seorang sahabat menawar dua dirham, dan Rasulullah ﷺ memberikannya kepada penawar tertinggi.
Uang dua dirham itu diserahkan kepada si Anshar dengan instruksi manajerial yang jenius:
- Satu Dirham: Belikan makanan untuk keluarga (kebutuhan primer mendesak).
- Satu Dirham: Belikan kapak (modal usaha).
Rasulullah ﷺ bersabda: “Pergilah mencari kayu bakar dan jangan perlihatkan wajahmu kepadaku selama 15 hari.”
Kehormatan dalam Tetesan Keringat
Setelah dua pekan berlalu, sahabat tersebut kembali dengan wajah berseri. Ia berhasil mengumpulkan 10 dirham—sebagian untuk membeli baju, sebagian untuk makanan. Melihat keberhasilan ini, Rasulullah ﷺ bersabda:
هَذَا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَجِيءَ الْمَسْأَلَةُ نُكْتَةً فِي وَجْهِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
— “Ini lebih baik bagimu daripada engkau datang pada hari kiamat dengan membawa noda (meminta-minta) di wajahmu.” (HR. Abu Dawud)
Kisah ini mengajarkan kaidah penting: Al-Harokah Barokah (gerakan/usaha mendatangkan keberkahan). Bekerja kasar memikul kayu jauh lebih mulia dan dicintai Allah daripada beribadah di pojok masjid namun menengadahkan tangan mengharap sedekah orang lain.
Fikih Menerima Pemberian
Lantas, bagaimana jika kita diberi harta tanpa memintanya? Habib Fahmi menjelaskan batasan fikih dan tasawwuf dalam hal ini agar tidak terjebak kesalahpahaman.
Seseorang diperbolehkan menerima pemberian selama tidak ada unsur Isyraf (mengharap-harap dalam hati) atau Mas’alah (meminta secara lisan). Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam Tasbitul Fuad memberikan panduan bagi mereka yang diberi rezeki tak terduga:
- Pandanglah dari Allah: Yakini bahwa manusia hanyalah perantara (“tukang pos”) dari rezeki Allah.
- Fungsikan untuk Ketaatan: Gunakan harta tersebut untuk menunjang ibadah atau menafkahi keluarga, bukan untuk maksiat.
Menolak rezeki yang datang tanpa diminta—karena sombong atau merasa diri suci—justru merupakan sikap yang kurang beradab terhadap nikmat Allah.
Penutup: Muliakan Manusia karena Iman, Bukan Harta
Sebagai penutup, Habib Fahmi mengingatkan agar kita tidak mengukur kemuliaan seseorang dari kekayaannya. Jangan sampai orang kaya disambut dan dimuliakan berlebihan, sementara orang fakir diabaikan. Hati seorang mukmin adalah wilayah sakral yang wajib dijaga. Kemuliaan sejati terletak pada ketakwaan dan kemandirian hati yang hanya bergantung kepada Allah SWT.
Wallahu a’lam bishawab.

