Ketika “Matahari” Makkah Berjumpa “Purnama” Tarim: Momen Langka Sayyid Alwi Al-Maliki dan Habib Umar Asy-Syathiri

Cerita tentang hangatnya perbincangan dan adab tinggi antara Sayyid Alwi Al-Maliki dan Habib Umar Asy-Syathiri.

Nabawi TV
3 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana suasananya ketika dua samudra ilmu dari dua kota suci berbeda duduk dalam satu majelis? Video arsip yang dirilis oleh Nabawi TV ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah “harta karun” sejarah yang merekam perjumpaan dua tokoh besar: As-Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki dari Makkah Al-Mukarramah dan Habib Dr. Umar bin Abdullah Asy-Syathiri dari keluarga besar Ribath Tarim, Yaman.

Bagi para penuntut ilmu, menyaksikan gerak-gerik, senyuman, dan adab para ulama besar di masa lalu adalah obat hati tersendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Sufyan bin Uyainah:

“Indal dzikris sholihin tanzilur rahmah” (Ketika orang-orang saleh disebut [atau dikenang], maka turunlah rahmat).

Sayyid Alwi Al-Maliki: Sang Pendidik Ulama Nusantara

Siapa yang tak kenal dengan nama besar Al-Maliki? Dalam video ini, kita melihat sosok As-Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki, ayahanda dari Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki. Beliau adalah figur sentral di Makkah pada zamannya, seorang Mudaris (pengajar) di Masjidil Haram yang majelisnya selalu dipenuhi ribuan murid.

Banyak ulama besar Indonesia, seperti KH. Maimoen Zubair (Sarang) dan KH. Abdullah Faqih (Langitan), meneguk manisnya ilmu langsung dari beliau. Sayyid Alwi dikenal bukan hanya karena kedalaman ilmunya, tetapi juga ketegasannya dalam memegang prinsip Ahlussunnah wal Jamaah di tengah gempuran pemikiran modernis saat itu.

Habib Umar Asy-Syathiri: Harumnya Ilmu dari Tarim

Di sisi lain, hadir sosok mulia Habib Dr. Umar bin Abdullah Asy-Syathiri. Nama “Asy-Syathiri” sendiri sudah cukup membuat hati bergetar, mengingatkan kita pada Ribath Tarim, benteng keilmuan di Hadhramaut yang telah melahirkan ribuan ulama dunia. Keluarga Asy-Syathiri dikenal sebagai Sultanul Ilmi (Rajanya Ilmu) karena penguasaan mereka yang mendalam terhadap syariat dan tasawuf.

Pertemuan ini menyiratkan ikatan batin yang kuat antara Makkah dan Hadhramaut. Meskipun terpisah jarak geografis, hati para Auliya dan Ulama selalu terpaut dalam satu frekuensi: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Adab di Atas Ilmu

Apa pelajaran terbesar dari video berdurasi 45 menit ini? Lebih dari sekadar kata-kata, kita disuguhkan pelajaran adab. Perhatikan bagaimana cara mereka duduk, cara mereka saling menatap, dan mendengarkan satu sama lain.

Di zaman modern di mana perdebatan seringkali lebih ditonjolkan daripada persaudaraan, momen “diam”-nya para ulama ini justru berbicara lebih lantang. Mereka mengajarkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tawadhu (rendah hati) pula sikapnya.

Allah SWT berfirman memuji orang-orang yang berilmu:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Rasa takut itulah yang memancar dari wajah-wajah teduh mereka, menjadikan pertemuan ini begitu hening namun penuh makna. Semoga tayangan ini menjadi pengingat bagi kita untuk selalu mencintai dan meneladani akhlak para pewaris Nabi.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar