NABAWI TV – Dunia usaha, terutama di Indonesia, seringkali dihadapkan pada dua pilihan sulit: mengikuti arus modal besar yang sarat riba atau berjuang dengan modal terbatas demi menjaga prinsip syariah. Muhammad Triangga, seorang pengusaha muda di balik Jakarta Sneakers Day, Greb Store (platform local brand), dan VR Journey (pengalaman Sirah Nabawi berbasis Virtual Reality), memilih jalur kedua. Ia membuktikan bahwa ketahanan bisnis tidak hanya diukur dari kecerdasan finansial, tetapi juga dari seberapa besar tawakal dan husn adz-dzann (prasangka baik) seorang hamba kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Kebangkitan Brand Lokal dan Revolusi Marketing
Dahulu, membeli produk luar dianggap sebagai simbol “status sosial” dan kebanggaan (pride) bagi sebagian konsumen Indonesia [16:19]. Anggapan ini membuat produk lokal sulit bersaing. Namun, menurut Triangga, tren ini perlahan sirna, terutama setelah Pandemi COVID-19 dan isu boikot yang membuat konsumen lebih cerdas dan bijaksana dalam membelanjakan uang.
Generasi Milenial dan Gen Z kini justru cenderung bangga menggunakan produk buatan lokal yang kualitasnya sudah setara, bahkan di atas produk luar, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau [09:24].
Triangga, melalui perusahaannya, juga menangkap pergeseran model pemasaran (Marketing 4.0) yang menitikberatkan pada personal touch dan message:
- Pentingnya Story Behind: Produk tidak lagi dijual hanya berdasarkan fungsi, tetapi harus memiliki pesan kuat (misalnya, gerakan sosial, eco-green, atau kolaborasi unik) [19:36].
- Komunitas Adalah Branding: Pemasaran diarahkan pada komunitas tertentu. Orang cenderung membeli produk yang diterima dan menjadi simbol identitas di dalam lingkar pergaulan mereka [20:54].
Mental Pengusaha: Ujian Ditipu dan Daya “Kepepet”
Perjalanan bisnis Triangga dipenuhi ujian berat. Ia mengalami kerugian finansial yang besar karena ditipu oleh rekan bisnis, bahkan hingga mencapai nominal 1 Miliar dan 2 Miliar Rupiah [26:17]. Selain itu, Greb Store, yang merupakan platform bagi local brand yang didirikan bersama Arif Muhammad, harus langsung menghadapi lockdown hanya sebulan setelah dibuka [11:13].
Dalam situasi sulit ini, ia menggarisbawahi dua hal yang menyelamatkan:
- The Power of Kepepet: Dorongan terbesar untuk bertahan hidup muncul ketika seseorang sudah tidak memiliki pilihan lain selain berhasil. Mental ini mengharuskan pengusaha untuk tidak menyerah hanya karena satu kali kegagalan [23:06].
- Husn Adz-Dzann kepada Allah: Ketika berada di titik terendah, keyakinan bahwa Allah pasti akan menolong adalah modal utama. Ia mengibaratkan tawakal seperti bola bekel:
Ibarat bola bekel ditekan, [habis itu] naiknya terus langsung des gitu.
— Muhammad Triangga [26:26]
Untuk bertahan saat pandemi, ia tidak memecat karyawan (layoff), melainkan segera membuka divisi baru, yaitu Creative Agency, untuk membantu local brand lain membuat campaign, sehingga bisnisnya tetap berjalan dan mampu mencukupi biaya operasional [27:47].
Komitmen Anti Riba dalam Bisnis Miliaran
Salah satu prinsip spiritual yang dipegang teguh oleh Triangga adalah menghindari pinjaman bank berbunga (riba) meskipun bisnisnya sudah sangat besar. Dengan total puluhan mesin VR dan beberapa store besar, ia memastikan modal didapat dari cara yang halal.
Triangga berusaha mendapatkan modal dari:
- Angel Investor/Partner: Bermitra dengan orang yang memiliki dana lebih, seperti yang ia lakukan bersama Arif Muhammad [00:s4:50].
- Pinjaman Keluarga/Teman: Pinjam tanpa bunga, dan jika ada keuntungan, dilakukan bagi hasil dengan akad yang jelas (seperti mudharabah atau murabahah) [40:05].
Komitmen ini selaras dengan ajaran bahwa rezeki dari Allah seringkali datang melalui jalan yang tidak disangka-sangka (min ḥaitsun lā yaḥtasibūn).
Matematika manusia 10 dikurang 1, 9. Matematika Allah 10 dikurang 1, 19.
— Narasumber dalam podcast [47:23]
Prinsip ini merujuk pada balasan berlipat ganda dari sedekah dan zakat. Oleh karena itu, kunci menghadapi potensi krisis besar-besaran di masa depan adalah Tawakal. “Percaya sama Allah aja,” [44:56] adalah nasihat utamanya, karena Allah telah menjamin rezeki setiap hamba.
VR Journey: Mengobati Kerinduan Ummah kepada Rasulullah ﷺ
VR Journey adalah bisnis Triangga yang paling unik, menawarkan pengalaman Virtual Reality (VR) untuk melihat langsung Sirah Nabawi dan tempat-tempat suci, termasuk Ka’bah, Raudhah, dan makam Nabi ﷺ [31:56].
Beberapa fakta menarik tentang VR Journey:
- Menggunakan teknologi 3D dan sentuhan (5D) yang dilengkapi dengan wangi-wangian, misalnya wangi Kiswah Ka’bah [31:03].
- Telah mendapatkan sertifikasi dan blueprint dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, menjamin kesahihan cerita dan lokasi [33:45].
- Episode paling viral adalah kisah Hijrah Nabi, termasuk momen di mana user dapat melihat kuburan Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, dan Nabi Muhammad ﷺ di Raudhah [32:06].
Respon yang luar biasa (10.000 pengunjung dalam sebulan pertama) menunjukkan betapa besar Kerinduan Ummah kepada Rasulullah ﷺ [36:12]. Momen yang paling menyayat hati adalah ketika melihat sepatu Nabi ﷺ berlumuran darah setelah dilempari batu di Tha’if. Peristiwa ini mengingatkan umat bahwa rida Allah adalah segalanya:
Kalau Allah Rida yang lain masa bodoh. Mau Aku ditimpukin, mau dikatain, mau dihina, mau dicaci, yang penting jalan kita adalah jalan yang diridain sama Allah subhanahu wa ta’ala.
— Muhammad Triangga [38:20]
Wallahu a’lam bishawab.

