NABAWI TV – Perjalanan spiritual seringkali berliku, terutama bagi mereka yang berada di pusaran dunia hiburan yang menuntut pengorbanan waktu dan energi. Aktor Ridwan Abdul Ghani, yang dijuluki “Raja Sinetron dan FTV” pada masanya, kini tengah berjuang dalam fase hijrahnya. Dalam sebuah sesi berbagi pengalaman, ia mengungkap betapa rentannya iman ketika kesibukan menjadi “uzur” yang mematikan kenikmatan ibadah. Kisah Ridwan bukan hanya tentang keluar dari lingkungan yang tidak sehat, tetapi juga tentang perjuangan batin untuk menghidupkan kembali hati yang pernah mati rasa.
Pengorbanan Iman di Balik Ketenaran Sinetron
Ridwan Gani menceritakan pengalaman ekstremnya di masa lalu saat syuting stripping (kejar tayang) yang seringkali mengorbankan kewajiban dasar agama. Jadwal syuting yang tidak mengenal waktu, bahkan hingga subuh, memaksa dirinya membuat kompromi spiritual yang menguras fisik dan batin.
Tipikal orang yang iya iya, yes man, ayo aja, people pleaser. Jadi enggak enakan, ujarnya [04:00].
Kondisi tersebut mencapai titik di mana ia merasa seperti “binatang di kebun binatang” [06:48]. Syuting di daerah terpencil dengan lima tim bergantian, namun dengan aktor yang itu-itu saja, membuat istirahat hanya didapatkan di kursi syuting, pulang hanya untuk mandi wajib dan salat Subuh, lalu tidur [04:36]. Konsekuensinya: ia sampai mengalami tipes tiga kali setahun [07:33].
Tekanan lingkungan juga menjadi tantangan besar. Berada di lingkungan yang mayoritas jauh dari nilai agama, Ridwan merasa terpaksa mengonsumsi “seblak” (mengikuti arus) meskipun ia menginginkan “mie” (prinsip baik).
Jadi enggak mau effort untuk keluar, kebawa lingkungan aja, ungkapnya [10:06].
Ketika Nikmat Ibadah Menghilang: Kerasnya Hati dan Godaan Futur
Tantangan terberat bagi Ridwan dalam masa hijrahnya bukanlah lingkungan luar, melainkan kondisi batinnya sendiri. Ia mengakui, meskipun secara syariat salatnya tetap ia tunaikan, ia kehilangan kenikmatan spiritual.
Kenapa sih salat enggak bisa nangis? Kenapa gua tahajud enggak bisa nangis? Sejahat itu kah gua? Sekeras itu kah hatiku? [13:15]
Perasaan putus asa ini pernah membawanya ke titik futur, di mana ia sempat “marah” kepada Allah karena merasa sudah berusaha baik namun tetap mendapat akibat buruk. Rasa keadilan batin yang goyah ini justru membuatnya sempat berpikir:
Ya udah gua lakuin aja salah satunya (maksiat). Orang gua enggak maksiat juga gua dapat begini, [13:53]
Dalam konteks ini, Habib (interviewer) mengingatkan bahwa musibah terbesar bagi seorang hamba bukanlah kesulitan duniawi, melainkan:
Musibah terbesar adalah saat kita dikasih kenikmatan bermaksiat sama Allah subhanahu wa ta’ala. Karena waktu kita ada kenikmatan bermaksiat, nikmat ibadahnya hilang. [12:35]
Filosofi Doa: Memohon Rezeki yang Mendekatkan Diri pada Allah
Salah satu perubahan paling signifikan dalam hijrah Ridwan adalah perbaikan dalam berdoa. Beliau belajar bahwa rezeki tidak melulu soal harta dan materi.
- Pentingnya Doa Kualitas Tinggi Kebiasaan doa yang diajarkan oleh Habib adalah meminta rezeki yang memiliki fungsi spiritual, bukan sekadar kuantitas.Tujuannya adalah rezeki yang:
- Mendekatkan diri kita sama Allah.
- Memudahkan ibadah kita.
- Menambah kenikmatan beribadah kepada Allah [24:00].
- Rezeki Bawaan Rezeki bentuknya tidak hanya uang. Ada rezeki kesehatan, waktu luang, umur yang berkah, hingga lingkungan pertemanan yang baik.”Ada orang duitnya banyak tapi enggak tenang, bisa beli makanan tapi punya penyakit,” [24:36].
- Tiga Pilar Inti Doa Dalam salat, inti dari zikir rukuk dan sujud adalah perwujudan dari firman Allah, fasabbiḥ biḥamdi rabbika wāstaghfir (Sucikanlah Tuhanmu dengan memuji-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya) [38:07]. Ini tercermin dalam doa:
- Subhanakallahumma (Sucikanlah Engkau, ya Allah): Mensucikan Allah dari segala su’uzhon atau persangkaan buruk makhluk.
- Wabihamdika (Dengan memuji-Mu): Memuji Allah atas segala nikmat.
- Allahummaghfirli (Ya Allah, ampunilah aku): Meminta ampun karena sering menggunakan nikmat-Nya untuk maksiat.
Kunci Menggapai Khusyuk dan Hidup Bersyukur
Perjuangan untuk khusyuk mendorong Ridwan mencari berbagai cara. Ia bahkan mencoba meditasi pernapasan untuk melatih fokus, yang kemudian ia terapkan dalam salat [32:44]. Baginya, kunci khusyuk adalah bersyukur, bahkan atas nikmat yang paling kecil:
Syukur paling kecil itu ke napas. Pernah enggak sih lu ngerasain kalau enggak napas gimana jadinya? [34:06]
Selain itu, ia diingatkan tentang bahaya membandingkan nikmat, yang dapat menghilangkan rasa syukur dan memicu penyakit hasad. Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan kita prinsip fundamental dalam memandang dunia:
Jika dari segi dunia, lihat orang yang di bawahmu, jangan lihat orang yang di atasmu. Karena itu akan membantumu untuk mensyukuri nikmat Allah yang kamu punya.
— Hadits Nabi ﷺ (Prinsip: Undzuru ilā man huwa asfala minkum) [30:56]
Dengan berfokus pada apa yang kita miliki, mensyukuri nafas, dan menguatkan Husn Adz-Dzann (prasangka baik) melalui doa yang berkualitas, seorang hamba akan terus terbimbing kembali ke jalan-Nya, meskipun ia pernah jatuh dalam kekalahan hawa nafsu.
Wallahu a’lam bishawab.

