Jejak Emas Ulama Nusantara dan Ba’alawy: Bukti Kohesi Keilmuan dan Dakwah

Gus Nanal Ainal Fauz bongkar data sejarah dan kitab turaś, tunjukkan keterikatan sanad yang kuat antara Kiai dan Habaib selama berabad-abad sebagai benteng persatuan umat.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Di tengah isu yang mencoba memecah belah umat, Ketua Yayasan Turaś Ulama Nusantara, Gus Nanal Ainal Fauz, memaparkan fakta sejarah dan data keilmuan yang membuktikan eratnya hubungan antara Ulama Nusantara dan Sa’adah Ba’alawy (keturunan Rasulullah ﷺ).

Gus Nanal menegaskan, kohesi ini dibangun di atas prinsip fundamental yang harus dipegang teguh oleh umat Islam:

Wa kullu khairin fī ittibā’i man salaf (Setiap kebaikan ada pada mengikuti orang-orang saleh terdahulu). Kita tidak mungkin memahami syariat dengan baik kecuali sesuai dengan pemahaman para ulama terdahulu. [03:40,06:12]

Keterikatan ini terbagi menjadi dua aspek utama: keilmuan (Sanad dan Khidmah Kitab) dan kelembagaan (Dakwah dan Organisasi).

I. Hubungan Keilmuan: Sanad yang Saling Menguatkan

Data-data yang ditemukan dalam kitab-kitab ulama Nusantara menunjukkan adanya hubungan guru-murid dan khidmah (pelayanan) kitab yang bersifat timbal balik.

1. Khidmah Ulama Nusantara terhadap Kitab Ba’alawy

Banyak ulama Nusantara yang menulis syarah (penjelasan) atau nazam (versi puisi) untuk kitab-kitab karya Sa’adah Ba’alawy, menjadikannya populer di pesantren.

  • Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama besar asal Tanara ini meng-syarah tiga kitab karya Habaib, termasuk Sullam at-Taufiq dan Safinat an-Najāh. Ini membuktikan kitab Ba’alawy telah beredar luas di Nusantara sejak lama [07:48].
  • Kiai Saleh Darat: Beliau mensyarahi Jauharat at-Tauhid dan belajar kepada Al-Habib Syekh Bafaqih Boto Putih setelah pulang dari Makkah. Beliau bahkan menjuluki gurunya sebagai Quthbu Zamani (Quthub zamannya) [24:25, 25:05].

2. Hubungan Guru dan Murid (Sanad)

Hubungan ini bersifat resiprokal, Kiai belajar dari Habib, dan Habib belajar dari Kiai:

Kategori GuruMurid Nusantara yang TerkenalKeterangan
Al-Habib Husein bin Muhammad Al-Habsyi (Mufti Syafi’iyah Makkah) [18:57]Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (Pendiri NU), Syekh Mahfudz at-TarmasiBeliau merupakan guru bagi banyak ulama besar Nusantara.
Kiai Saleh DaratKiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad DahlanKiai Saleh Darat sendiri adalah murid dari Habib Syekh Bafaqih [22:52].
Syekhuna Kholil Bangkalan (Kiai) [27:11]Al-Habib Salim bin Jindan dan belasan Habaib lainnyaSyekhuna Kholil dikenal sangat ta’zim kepada Sa’adah Habaib dan orang Arab pada umumnya [28:46].

II. Kohesi Kelembagaan dan Bukti Sejarah

Hubungan antara Sa’adah Ba’alawy dan Ulama Nusantara juga tercatat kuat dalam sejarah kelembagaan dan sosial keagamaan.

1. Keterikatan Organisasi

  • Rapat Resmi NU dan Rabithah: Pertemuan resmi antara pengurus Nahdlatul Ulama dan Rabithah Alawiyah terjadi pada tahun 1928 M di Surabaya. Pertemuan ini dimuat dalam majalah Suara Nahdlatul Ulama dengan judul Pepanggihan Ingkang Mulyo (Pertemuan yang Mulia), menghasilkan kesepakatan untuk saling mendukung dan membela madzhab [32:19, 33:47].
  • Peran Habaib di NU: Beberapa Habaib menjadi Mustasyar (penasihat) di cabang-cabang awal NU, seperti Al-Habib Muhsin bin Hasan Assegaf di NU Cabang Jombang [36:12].

2. Pengakuan Keilmuan dan Nasab

  • Anjuran Mbah Hasyim Asy’ari: Pendiri NU, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, sangat menganjurkan dan bahkan mencetak sendiri kitab wirid karya Al-Habib Ali bin Hasan Al-Attas bernama Khulāṣat al-Maghnam, menunjukkan pengakuan tinggi terhadap keilmuan Habaib [39:12, 41:06].
  • Pengakuan Nasab (Keturunan): Ulama Nusantara sangat ta’zim dan mengakui nasab Ba’alawy. Muktamar NU ke-7 tahun 1932 secara kelembagaan menetapkan bahwa gelar Sayyid dan Syarif adalah titel untuk keturunan Sayyidina Hasan dan Husain ﷺ [01:01:02]. Ulama Nusantara seperti Syekh Abdul Hamid Kudus secara tegas menyebut gurunya, Habib Husein Al-Habsyi, sebagai salīlu Rasulillāh (keturunan Rasulullah) [01:00:29].

3. Bukti Sejarah di Abad 18

Kehadiran Sa’adah Ba’alawy di Nusantara dibuktikan dengan data-data lama:

  • Tahun 1710 M: Al-Habib dari Aceh telah menulis kitab An-Nūr al-Mubīn atas permintaan masyarakat Aceh [48:47].
  • Tahun 1756 M: Al-Habib Husain Luar Batang tercatat wafat di Betawi [47:39].
  • Tahun 1812 M: Al-Habib Alwi bin Ahmad Al-Haddad menulis kitab Al-Qaul al-Ḥāwī li Ahli Baladi Betawi, berisi delapan fatwa yang menjawab problematika masyarakat Betawi saat itu [44:06].

III. Pesan untuk Merajut Ukhuwah

Gus Nanal berpesan kepada generasi masa kini agar memperkuat ikatan yang telah dijalin oleh ulama terdahulu, terutama dengan landasan ilmu.

Ilmu ini saling merapatkan, merapatkan. Kita untuk merapatkan ini harus dengan ilmu… Kalaupun ada masalah nanti mudah terselesaikan, itu kalau dilandasi dengan ilmu dan ketakwaan. [01:08:41,01:09:34]

Beliau mendorong santri Nusantara dan generasi muda Ba’alawy untuk mematangkan keilmuan terlebih dahulu, sehingga semua interaksi dan penilaian dilakukan berdasarkan landasan ilmu yang kuat, bukan emosi atau isu yang diadu domba [01:09:14].

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar