NABAWI TV – Sebuah pertanyaan filosofis yang sering dilontarkan di tengah masyarakat hari ini adalah: Jika semua manusia adalah ciptaan Allah ﷻ yang Maha Pengasih, mengapa tidak semuanya dimasukkan ke surga? Mengapa harus ada perbedaan agama, dan mengapa pula Allah tidak memberikan hidayah kepada semua orang sejak awal?
Pertanyaan ini terdengar logis, namun dalam pandangan teologis Islam, ia mengandung upaya yang tanpa disadari mencoba mengatur kehendak Tuhan. Gus Abdul Wahab Ahmad, dalam kajiannya di Nabawi TV, mengajak kita untuk meletakkan pertanyaan tersebut pada tempatnya dan menjawabnya secara proporsional, yaitu dari perspektif Sang Pencipta.
Benarkah Semua Agama Sama di Mata Tuhan?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Gus Abdul Wahab Ahmad [00:59] menjelaskan bahwa kita harus menentukan perspektif yang digunakan. Apakah dari perspektif penganut agama, pengamat netral, atau dari perspektif Tuhan itu sendiri?
- Perspektif Penganut: Setiap penganut pasti meyakini agamanya sebagai kebenaran mutlak (subjektif).
- Perspektif Pengamat/Peneliti: Mereka cenderung melihat semua agama sama, dengan inti ajaran moral yang serupa, dan perbedaan hanya di permukaan.
- Perspektif Allah ﷻ (Al-Qur’an): Inilah perspektif yang wajib dipegang oleh seorang Muslim. Dalam pandangan Al-Qur’an, kebenaran agama hanya satu, yaitu Islam.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Sesungguhnya agama (yang benar) di sisi Allah ialah Islam.
— (Q.S. Ali Imran: 19) [02:16]
Ayat ini dipertegas dengan peringatan keras bagi siapa pun yang mencari jalan selain Islam.
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.
— (Q.S. Ali Imran: 85) [02:37]
Artinya, dari perspektif Tuhan, hanya Islam—dengan rukun dan ajaran yang utuh—yang dijamin diterima. Memberikan jaminan kepada selain Muslim bahwa mereka akan masuk surga adalah tindakan yang melangkahi otoritas Allah ﷻ, sebab surga adalah milik Allah, bukan milik manusia [05:16].
Hidayah dan Surga: Hak Prerogatif Siapa?
Lalu, bagaimana dengan hidayah? Mengapa Allah ﷻ tidak berkehendak memberikan hidayah kepada semua manusia?
Gus Abdul Wahab Ahmad mengingatkan bahwa hidayah adalah hak prerogatif mutlak Allah ﷻ [07:51]. Kehendak Tuhan tidak dapat diatur apalagi dipertanyakan dengan nada menyalahkan.
إِنْ هِيَ إِلَّا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَن تَشَاءُ وَتَهْدِي مَن تَشَاءُ
Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk siapa yang Engkau kehendaki.
— (Q.S. Al-A’raf: 155) [07:10]
Hidayah adalah ujian. Manusia tidak berhak mempertanyakan kehendak Allah ﷻ. Pertanyaan, “Kenapa Allah tidak mau menghendaki semua orang masuk surga?” sama saja dengan berusaha mengatur Tuhan [07:33].
Keunikan Manusia: Diciptakan Bukan untuk Seragam
Allah ﷻ menciptakan makhluk-Nya dalam keragaman desain:
- Malaikat: Diciptakan semuanya baik, tidak ada potensi maksiat.
- Setan: Diciptakan semuanya buruk, tidak ada kebaikan.
- Hewan/Benda: Diciptakan netral, tanpa moralitas baik atau buruk.
- Manusia dan Jin: Diciptakan unik dengan kemampuan menjadi baik sekaligus buruk.
Keunikan inilah yang menjadikan manusia istimewa [09:12]. Dengan potensi ini, manusia berkesempatan mencapai derajat yang bahkan lebih mulia dari malaikat (seperti para Nabi), namun juga berpotensi jatuh lebih buruk dari setan. Ini adalah nilai kemuliaan (karamah) manusia.
Perbedaan dan ujian yang ada di bumi ini bukanlah kekurangan, melainkan sarana dari Allah ﷻ untuk menguji dan memuliakan manusia.
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah dalam kebajikan.
— (Q.S. Al-Ma’idah: 48) [10:58]
Poin kuncinya adalah: Fastabiqul Khairat (berlomba-lombalah dalam kebaikan). Perbedaan dijadikan sarana untuk menguji dan memotivasi kita.
Mengganti Pertanyaan yang Salah dengan yang Benar
Di akhir kajian, Gus Abdul Wahab Ahmad [13:11] mengajak kita untuk mengubah fokus pertanyaan. Daripada menyalahkan Tuhan, sebaiknya kita fokus pada introspeksi diri dan memotivasi diri untuk beramal saleh.
Mari ganti pertanyaan yang seolah menyalahkan Allah ﷻ, seperti:
- Kenapa Allah tidak mengampuni semua?
- Kenapa Allah tidak memasukkan semua orang ke surga?
Dengan pertanyaan yang lebih bermanfaat dan memotivasi, seperti:
- Mengapa saya tidak mendapat hidayah?
- Apakah dosa saya terlalu besar?
- Bagaimana cara saya mendapat hidayah agar saya menjadi orang yang beruntung dan masuk surga?
- Bagaimana saya menjadi orang yang lebih mulia dari para malaikat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan membuat kita termotivasi dan berlomba untuk menjadi lebih baik, daripada tenggelam dalam wacana kosong yang tanpa dasar [13:43].
Wallahu a’lam bishawab.

