Terungkap! Fakta Mengejutkan di Balik Label “Bid’ah”

Ustadz Faris Baswedan bongkar fakta: Ternyata ulama yang 'keras' pun saling membid'ahkan satu sama lain. Simak penjelasan tuntas agar tidak gagal paham dan memecah belah umat.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Pernahkah Anda merasa lelah dengan perdebatan agama yang tak kunjung usai? Tetangga tak saling sapa, anak menegur orang tua, hingga sesama jamaah masjid saling mencibir, hanya karena perbedaan pandangan mengenai satu kata: Bid’ah.

Slogan “Kullu bid’atin dhalalah” (setiap bid’ah adalah sesat) seringkali dijadikan palu godam untuk menghakimi saudara seiman. Namun, tunggu dulu. Sebelum kita terburu-buru memvonis, sudahkah kita benar-benar memahami apa itu bid’ah menurut kacamata para Ulama Salaf yang sesungguhnya? Atau jangan-jangan, pemahaman kita masih “mentah”?

Dalam tayangan Towards Unity di Nabawi TV, Ustadz Faris Baswedan mengupas tuntas fakta-fakta mencengangkan yang selama ini jarang diungkap ke publik.

Definisi Sempit vs Definisi Ulama

Akar masalah perpecahan ini bermula dari definisi bid’ah yang dipaksakan menjadi sangat sempit: “Segala sesuatu yang tidak dilakukan Nabi adalah sesat.” Padahal, para imam mazhab tidak memahaminya demikian.

Ustadz Faris menukil pendapat Imam Syafi’i (w. 204 H) yang membagi perkara baru menjadi dua:

  1. Bid’ah Dhalalah (Sesat): Perkara baru yang menyelisihi Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’, atau Atsar sahabat.
  2. Bid’ah Hasanah (Terpuji): Perkara baru yang tidak menyelisihi dalil-dalil tersebut.

Jangan terburu-buru mengatakan ‘Anda mau ikut Imam Syafi’i atau ikut Rasulullah?’. Sabarlah menyimak hingga akhir.
Ustadz Faris Baswedan [01:44]

Jika kita memaksakan definisi bahwa semua hal baru itu sesat, maka kita akan menabrak banyak fakta sejarah. Contoh paling nyata adalah inisiatif Sayyidina Umar bin Khattab yang mengumpulkan umat untuk salat Tarawih berjamaah, sesuatu yang tidak rutin dilakukan Nabi. Komentar beliau? “Ni’matul bid’ah hadzihi” (Sebaik-baik bid’ah adalah ini).

Ironi: Ketika “Ulama Keras” Saling Membid’ahkan

Bagian paling menarik dari kajian ini adalah ketika Ustadz Faris membeberkan fakta bahwa di kalangan ulama modern yang sering dijadikan rujukan kelompok “anti-Tahlilan/Maulid” (seperti Syaikh Albani, Bin Baz, Ibnu Utsaimin), ternyata terjadi chaos atau kekacauan fatwa. Mereka sendiri tidak sepakat mana yang bid’ah dan mana yang sunnah.

Berikut daftar “kebingungan” yang terjadi jika kita memakai kacamata bid’ah yang sempit:

  • Ziarah Kubur Khusus Jumat: Dibid’ahkan oleh Bin Baz & Utsaimin, tapi tidak oleh Ibnu Jibrin.
  • Tasbih untuk Dzikir: Dibid’ahkan oleh Albani, tapi boleh menurut Bin Baz & Utsaimin.
  • Khatam Quran dalam Salat: Dibid’ahkan oleh Albani, tapi boleh menurut Bin Baz.
  • Garis Shaf di Karpet Masjid: Dibid’ahkan oleh Albani, tapi boleh menurut Utsaimin.

Bayangkan kekacauan ini… Syaikh Albani membid’ahkan adzan kedua di hari Jumat yang dilakukan Sayyidina Utsman. Ini berujung membid’ahkan para sahabat.
Ustadz Faris Baswedan [08:23]

Poinnya jelas: Jika definisi bid’ah itu mutlak “yang tidak dilakukan Nabi”, mengapa ulama-ulama tersebut saling berselisih? Ini membuktikan bahwa perkara ini adalah ranah ijtihadiyah, bukan hitam-putih surga-neraka.

Bid’ah yang Sebenarnya: Penyimpangan Akidah

Lalu, apa bid’ah yang benar-benar berbahaya dan disepakati kesesatannya oleh ulama Salaf? Ustadz Faris menjelaskan bahwa bid’ah yang sesungguhnya adalah penyimpangan dalam pokok agama (ushuluddin), seperti:

  • Kaum Khawarij: Yang mudah mengkafirkan pelaku dosa besar.
  • Kaum Qadariyah: Yang mengingkari takdir Allah.
  • Kaum Mujassimah: Yang meyakini Allah punya fisik (tangan, kaki, duduk) persis seperti manusia.

Inilah bid’ah yang merusak fondasi iman, bukan sekadar urusan teknis ibadah seperti jumlah rakaat tarawih atau bacaan doa bersama.

Sikap Sahabat: Mengutamakan Persatuan

Para sahabat Nabi ﷺ mengajarkan kita adab luar biasa dalam menyikapi perbedaan. Perhatikan kisah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.

Beliau sangat tidak setuju dengan Utsman bin Affan yang melakukan salat 4 rakaat saat safar di Mina (seharusnya 2 rakaat qashar). Namun, saat di belakang Utsman, Ibnu Mas’ud tetap ikut salat 4 rakaat. Ketika ditanya alasannya, beliau menjawab dengan kalimat emas:

Al-Khilafu syarr (Perselisihan itu buruk).
Dikisahkan Ustadz Faris Baswedan [17:26]

Sahabat Nabi lebih takut pada perpecahan umat daripada memaksakan pendapat fiqih pribadi mereka.

Solusi: Kembali ke Jalan Jumhur Ulama

Di akhir kajian, Ustadz Faris mengajak kita untuk berhenti saling menuding. Jangan sampai kita sibuk “warung kopi” membid’ahkan Maulid Nabi atau Tahlilan yang memiliki sandaran pendapat dari ulama besar sekelas Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani atau Imam As-Suyuti, sementara kita diam saja terhadap kemaksiatan yang nyata.

Allah ﷻ berfirman mengingatkan kita agar tidak menjadi golongan yang memecah belah agama:

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
(Q.S. Ar-Rum: 32)

Mari sudahi keributan yang melelahkan ini. Kembalilah pada keluesan pandangan Jumhur (mayoritas) Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Jadilah hamba Allah yang bersaudara, bukan hamba yang saling memangsa.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar