Pendahuluan: Keagungan Kenabian Sejak Azali
Di antara keistimewaan agung Nabi Muhammad ﷺ adalah status beliau sebagai nabi pertama dalam penciptaan, walaupun terakhir diutus kepada umat manusia. Beliau ﷺ adalah yang pertama kali Allah pilih dalam alam ruh, namun yang terakhir muncul dalam alam jasad.
Keagungan ini ditegaskan dalam sabda beliau sendiri:
كُنتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الرُّوحِ وَالْجَسَدِ
“Aku telah menjadi nabi ketika Adam masih antara ruh dan jasad.” — HR. Ahmad, al-Bazzar, al-Hakim, dan lainnya
Hadis ini diriwayatkan melalui banyak jalur dari sejumlah sahabat, menunjukkan bahwa kenabian beliau telah ditetapkan sejak awal takdir di Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz), bahkan sebelum manusia pertama diciptakan.
1. Allah Mengambil Perjanjian (Mitsaq) atas Para Nabi
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT menyebut Nabi Muhammad ﷺ terlebih dahulu dalam daftar perjanjian yang diambil dari para nabi, bahkan sebelum Nabi Nuh alaihissalam yang secara kronologi lebih dahulu diutus:
وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ، وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا.
“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (Muhammad), dan dari Nuh, Ibrahim, Musa, serta Isa putra Maryam; dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” — Q.S al-Ahzab: 7
Sebagian ahli tafsir memahami susunan ini sebagai isyarat bahwa maqam kenabian Muhammad ﷺ adalah asal dan sumber bagi semua kenabian lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda tentang ayat ini:
كُنْتُ أَوَّلَ النَّبِيِّينَ فِي الْخَلْقِ، وَآخِرَهُمْ فِي الْبَعْثِ
“Aku adalah yang pertama di antara para nabi dalam penciptaan, dan yang terakhir diutus.”
Perjanjian yang diambil dari setiap nabi ini mewajibkan mereka, dan umat mereka, untuk beriman kepada beliau ﷺ dan menolongnya apabila beliau diutus pada masa mereka.
2. Nabi ﷺ yang Pertama Menjawab Seruan Allah di Alam Ruh
Keutamaan Awwaliyyah (kedahuluan) Nabi ﷺ juga ditegaskan pada saat Allah mengambil perjanjian dari seluruh keturunan Adam di Alam Mitsaq (alam perjanjian).
Ketika Sahl bin Saleh Al-Hamdani bertanya kepada Abu Ja‘far Muhammad bin ʿAli Al-Baqir, “Bagaimana mungkin Nabi Muhammad ﷺ menjadi yang paling dahulu di antara para nabi, padahal beliau adalah yang terakhir diutus?”
Abu Ja’far menjawab:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala, ketika mengambil keturunan anak-anak Adam dari sulbi (punggung) mereka dan menjadikan mereka bersaksi atas diri mereka sendiri (أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ / ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’), maka Nabi Muhammad ﷺ adalah orang pertama yang menjawab: بَلَى (Benar). Oleh sebab itu, beliau menjadi yang terdahulu di antara para nabi (dalam maqam keimanan dan pengakuan terhadap Rububiyyah Allah), meskipun terakhir kali diutus di dunia.”
3. Takdir Kenabian Sebelum Nabi Adam Ditiupkan Ruh
Hadis lain memperkuat bahwa penetapan kenabian beliau telah terjadi ketika Nabi Adam bahkan belum sempurna fisiknya:
إِنِّي عِنْدَ اللهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِينِهِ
“Sungguh aku di sisi Allah telah tercatat dalam Ummul Kitab (Lauhul Mahfudz) sebagai penutup para nabi, sedangkan Adam masih terbaring dalam tanah liatnya.” — HR. Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi
Ini menunjukkan bahwa kenabian Muhammad ﷺ merupakan sunnatullah azali yang terjadi sebelum penciptaan manusia dan semesta.
4. Tanda-tanda Kenabian: Doa, Kabar Gembira, dan Cahaya
Permulaan kenabian beliau adalah hasil dari tiga hal besar yang terjadi sepanjang masa:
- Perjanjian Allah yang diambil atas seluruh nabi.
- Doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang memohon utusan dari keturunan beliau: رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka…” — Q.S. Al-Baqarah : 129
- Kabar gembira Nabi Isa alaihissalam tentang kedatangan rasul yang bernama Ahmad: وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُم مُّصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِن بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ ۖ “…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” — Q.S. Aṣ-Shaff : 6
Semua ini diperkuat dengan tanda ajaib saat kelahiran beliau berupa cahaya yang memancar dari rahim ibunya hingga menyinari istana-istana Syam, sebagai isyarat bahwa risalahnya akan menerangi Timur dan Barat.
Penutup: Inti dan Kesempurnaan Penciptaan
Para ulama sepakat bahwa Rasulullah ﷺ memiliki khushushiyah (keistimewaan) yang luar biasa. Sebagaimana dinukilkan oleh al-ʿAllāmah al-Qasṭalānī dalam Mawāhib Ladunniyyah:
Nabi Muhammad ﷺ adalah tujuan utama dari penciptaan jenis manusia, beliaulah inti, sari, dan kesempurnaan dari seluruh umat manusia, serta pengikat permata dalam kalung penciptaan (poros seluruh mata rantai kenabian).
Beliau adalah yang pertama diciptakan dalam alam ruh, yang pertama menyatakan keimanan di alam mitsaq, dan yang terakhir diutus, namun paling utama.

