NABAWI TV – Kematian adalah sebuah kepastian yang sering kali dilupakan. Dalam hiruk-pikuk kehidupan duniawi, kita sibuk memperindah jasad, namun lupa mempersiapkan “kendaraan” ruhani untuk perjalanan abadi. Dalam kajian kitab Ayyuhal Walad, Habib Geys Assegaf mengajak kita merenungi hakikat jasad dan ruh melalui metafora yang sangat menggugah dari Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq RA.
Apakah jasad kita akan menjadi “sarang burung” yang mengantarkan ruh terbang bebas ke surga, atau justru menjadi “kandang binatang ternak” yang menggiring ruh ke neraka? Berikut intisari tausiyah Al-Habib Geys bin Abdurrahman Assegaf.
Metafora Abu Bakar As-Siddiq: Burung atau Ternak?
Habib Geys menukil perkataan Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq yang dikutip oleh Imam Al-Ghazali: “Jasad ini ibarat sarang burung atau kandang binatang ternak. Maka, renungkanlah dirimu, termasuk golongan yang manakah engkau?”
Jika kita termasuk golongan “burung”, maka saat panggilan “Irji’i ila Rabbiki” (Kembalilah kepada Tuhanmu) terdengar, ruh akan terbang bebas meninggalkan jasad menuju puncak-puncak surga. Sebagaimana wafatnya sahabat Sa’ad bin Muadz RA yang membuat Arsy Allah bergoncang karena kemuliaannya.
Namun, jika kita termasuk golongan “binatang ternak”, sebagaimana firman Allah: Ulaa-ika kal an’aami bal hum adhall (Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat), maka kematian hanyalah perpindahan dari kandang dunia menuju jurang neraka. Mereka hidup hanya untuk makan, minum, dan tidur, tanpa peduli pada persiapan akhirat.
Ilmu Tanpa Amal: Panggilan Kosong di Sepertiga Malam
Salah satu poin penting yang ditekankan adalah tentang bahaya ilmu yang tidak diamalkan. Habib Geys mengingatkan bahwa jika ilmu saja cukup tanpa amal, maka panggilan Allah di sepertiga malam terakhir (“Adakah yang memohon kepada-Ku? Adakah yang beristighfar?”) akan menjadi sia-sia.
Panggilan itu hanya akan dijawab oleh mereka yang berusaha melawan kantuk, mengatur waktu, dan memaksakan diri untuk bangun. “Ciri orang yang bangun tahajud itu wajahnya pucat. Bukan pucat karena takut ditagih hutang, tapi pucat karena malamnya habis untuk mengingat Allah, namun hatinya gembira,” ujar Habib Geys.
Beliau juga menyindir halus fenomena orang yang banyak bicara agama dan berdebat di media sosial, namun kosong dari amalan sunnah dan Qiyamullail. Ilmu yang benar seharusnya memperbaiki hubungan hamba dengan Khaliq-nya, bukan sekadar bahan perdebatan.
4 Syarat Kembali kepada Allah Menurut Imam Ghazali
Dalam kajian ini, Habib Geys juga memaparkan jawaban Imam Al-Ghazali tentang apa yang wajib dilakukan oleh seorang Salik (penempuh jalan Allah):
- Aqidah yang Benar: Keyakinan yang lurus sesuai Ahlussunnah wal Jamaah, bebas dari bid’ah dan penyimpangan.
- Taubat Nasuha: Taubat yang sungguh-sungguh dengan tidak mengulangi dosa dan kesalahan masa lalu.
- Meminta Ridha Musuh (Istihlal): Menyelesaikan urusan Hablum Minannas. Meminta maaf dan mengembalikan hak orang lain yang pernah dizalimi, agar tidak ada tuntutan di akhirat.
- Menuntut Ilmu Syariat: Mempelajari ilmu fikih dasar (wudhu, salat, puasa) sekadar untuk menggugurkan kewajiban dan menjalankan perintah Allah dengan sah.
Refleksi: Jangan Sampai Ayam Jago Lebih Pintar
Menutup kajiannya, Habib Geys mengutip wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya: “Wahai anakku, jangan sampai ayam jago lebih pintar darimu. Ia berkokok membangunkan orang di waktu sahur, sementara engkau masih tertidur lelap.”
Nasihat ini adalah tamparan keras bagi kita yang sering kali kalah dengan binatang dalam hal “kedisiplinan” menyambut pagi. Mari jadikan nasihat ini sebagai motivasi untuk menghidupkan malam-malam kita dengan munajat, sebelum jasad ini benar-benar menjadi “sarang” yang ditinggalkan oleh ruhnya.
Wallahu a’lam bishawab.

