NABAWI TV – Jabatan, pangkat, dan nasab sering kali menjadi kebanggaan manusia di dunia. Namun, dalam majelis pembacaan Sirah Nabawiyah yang penuh kekhusyukan di Masjid Imam As-Sakran, Tarim, Al-Habib Umar bin Hafidz mengingatkan bahwa semua atribut duniawi itu akan lenyap tak berbekas di hadapan Pengadilan Allah. Yang tersisa hanyalah “nasab ketakwaan”.
Menjelang berakhirnya bulan Jumadil Akhir dan menyambut bulan suci Rajab, Guru Mulia mengajak kita merenungi hakikat kedudukan manusia dan mempersiapkan hati untuk “bulan benih” yang agung. Berikut intisari nasihat beliau.
“Kedaulatan” Palsu yang Akan Runtuh
Habib Umar bin Hafidz dengan tegas menyampaikan bahwa segala bentuk hierarki duniawi—mulai dari presiden, pejabat, hingga orang kaya raya—akan sirna di hari kiamat. Tidak ada lagi sebutan “Yang Mulia” atau “Bapak Pejabat”.
Beliau mengutip sebuah riwayat (Hadits) yang menggambarkan suasana Hari Kiamat, di mana Allah ﷻ akan berkata kepada hamba-hamba-Nya:
“Aku telah menetapkan nasab (standar kemuliaan yaitu takwa) dan kalian menetapkan nasab (standar duniawi). Kalian berkata: ‘Fulan bin Fulan’, ‘Fulan pejabat ini’. Maka hari ini, Aku rendahkan nasab kalian dan Aku angkat nasab-Ku (takwa).” —HR. At-Thabarani & Al-Baihaqi
Peringatan keras dalam riwayat tersebut adalah manifestasi nyata dari janji Allah dalam Al-Qur’an tentang satu-satunya tolak ukur kemuliaan.
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” —(QS. Al-Hujurat: 13)
Inilah realitas yang sering kita lupakan. Di alam kubur dan akhirat, mata uang yang berlaku hanyalah taqwa, yaitu kepatuhan menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya, serta kebersihan hati dari sifat sombong (kibr) dan bangga diri (ujub).
Rajab: Bulan Menanam Benih
Kajian ini juga menjadi momentum persiapan menyambut tamu agung: Bulan Rajab. Habib Umar menjelaskan bahwa Rajab adalah bulan yang “disiram” oleh rahmat Allah (Al-Ashabb).
Beliau mengibaratkan siklus tiga bulan mulia (Rajab, Sya’ban, Ramadhan) sebagai siklus pertanian rohani:
- Rajab: Bulan menanam benih (memperbanyak istighfar dan amal shaleh).
- Sya’ban: Bulan menyiram tanaman (memperbanyak shalawat).
- Ramadhan: Bulan memanen hasil (pahala berlipat ganda).
“Barangsiapa yang tidak menanam benih di bulan Rajab, bagaimana mungkin ia bisa memanen di bulan Ramadhan?” tanya beliau secara tersirat. Maka, sisa hari di bulan Jumadil Akhir ini adalah waktu krusial untuk membersihkan lahan hati kita sebelum mulai menanam.
Tangisan Abdullah bin Rawahah
Untuk menggugah hati yang keras, Habib Umar mengisahkan momen emosional sahabat Nabi, Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu. Suatu ketika, beliau menangis hingga istrinya pun ikut menangis.
Saat ditanya alasannya, Abdullah bin Rawahah menjawab bukan karena takut mati, melainkan karena teringat firman Allah:
وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا
“Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu ketentuan yang sudah ditetapkan.” —QS. Maryam: 71
Abdullah bin Rawahah berkata, “Aku yakin aku akan mendatangi neraka (melewati Shirath), namun aku tidak tahu apakah aku akan selamat darinya atau tidak?”
Jika seorang sahabat yang dijamin surga saja begitu takut akan nasibnya di akhirat, bagaimana dengan kita yang berlumur dosa? Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah merasa aman (security) dari azab Allah, melainkan terus memupuk rasa takut (khauf) dan harap (raja’).
Penutup: Hati yang Selamat
Di akhir majelis, Habib Umar mendoakan agar kita semua dikaruniai Qalbun Salim (hati yang selamat). Hati yang tidak menyimpan dendam, iri, atau dengki kepada sesama muslim. Karena pada akhirnya, hanya hati jenis inilah yang akan “laku” di hadapan Allah ﷻ.
Mari kita manfaatkan detik-detik terakhir Jumadil Akhir ini untuk bertaubat, sebelum gerbang Rajab terbuka lebar dengan segala kemuliaannya.
Wallahu a’lam bishawab.

