NABAWI TV – Di era digital, arus informasi menyerbu tanpa filter. Standar kecantikan, gaya hidup, dan cara berpakaian sering kali didikte oleh tren global yang jauh dari nilai-nilai Islam. Dalam sebuah ceramah khusus di hadapan kaum wanita saat takziyah Syarifah Maryam binti Habib Ali Masyhur bin Hafidz, Al-Habib Umar bin Hafidz menyampaikan teguran keras namun penuh kasih sayang tentang jati diri seorang mukminah.
Beliau mempertanyakan, kepada siapa sebenarnya hati dan gaya hidup kita berkiblat? Apakah kepada para wanita mulia penghuni surga, atau kepada figur-figur yang justru menjauhkan kita dari Allah?
Bahaya “Mengekor” pada Budaya Asing
Habib Umar bin Hafidz menyoroti fenomena memprihatinkan di mana sebagian wanita muslimah mulai kehilangan identitasnya. Mereka lebih bangga meniru gaya berpakaian (fashion) orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, daripada meneladani para Shahabiyah atau Ummahatul Mukminin.
Beliau mengingatkan bahwa meniru keburukan adalah tanda hilangnya “filter” iman dalam hati.
“Apakah kalian rela anak-anak kalian dimasuki pemikiran orang kafir, akhlak orang kafir, dan pakaian orang kafir? Pakaian orang kafir sudah masuk ke tengah-tengah Tarim, ke negeri orang-orang shaleh, bahkan ke rumah ahli ilmu. Munculah wanita-wanita ‘Kasiyat Ariyat’ (berpakaian tapi telanjang)…” —Habib Umar bin Hafidz
Istilah Kasiyat Ariyat yang disinggung beliau merujuk pada hadits Rasulullah ﷺ yang memprediksi kemunculan wanita yang berpakaian namun ketat, transparan, atau tidak menutup aurat dengan sempurna, sehingga seolah-olah telanjang.
Standar “Keren” yang Salah Kaprah
Sering kali, modernitas disalahartikan sebagai kebebasan tanpa batas. Padahal, menurut Habib Umar bin Hafidz, kemajuan yang sesungguhnya adalah kemajuan hati menuju Allah, bukan kemajuan dalam membuka aurat.
Beliau bertanya dengan retoris: “Apa mode mereka (wanita kafir)? Apa perhiasan mereka? Apakah kemajuan menurut mereka adalah kemajuan Yahudi, Nasrani, atau ateis? Itu adalah kemajuan menuju kehinaan!”
Seorang mukminah sejati memiliki role model yang jelas: Sayyidah Khadijah, Sayyidah Fatimah Az-Zahra, dan para wanita suci lainnya. Mereka adalah wanita-wanita yang cerdas, berkelas, namun sangat menjaga kehormatan (iffah) dan rasa malu (haya’).
Rasa Malu: Mahkota yang Hilang
Salah satu poin kunci yang ditekankan Al-Habib adalah pentingnya sifat malu. Beliau mengutip sabda Nabi ﷺ:
“Malu dan iman itu bergandengan bersama. Jika salah satunya diangkat, maka yang lain pun ikut terangkat.” —HR. Al-Hakim
Ketika rasa malu hilang dari seorang wanita—malu kepada Allah, malu melanggar syariat, malu memamerkan tubuh—maka sejatinya iman pun sedang tergerus dari hatinya. Rasa malu bukanlah kelemahan, melainkan benteng pertahanan terakhir yang menjaga kesucian jiwa.
Umur yang “Tercuri”
Selain soal penampilan, Habib Umar bin Hafidz juga menyinggung tentang manajemen umur. Banyak wanita yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang laa ya’ni (tidak berguna), seperti menggunjing (ghibah) atau sekadar mengikuti tren media sosial.
“Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun,” kutip beliau. Waktu yang sangat singkat ini seharusnya menjadi modal berharga untuk investasi akhirat, bukan dihamburkan untuk mengejar validasi manusia. Saat kematian datang, fashion dan followers tidak akan menolong, yang tersisa hanyalah amal shalih dan hati yang selamat (qalbun salim).
Penutup
Nasihat ini adalah alarm bagi kita semua, khususnya para wanita, untuk kembali menata hati. Jangan sampai kita menjadi korban mode yang menyesatkan. Mari kembalikan kiblat hidup kita kepada teladan Sayyidah Fatimah Az-Zahra, agar kelak kita pantas berkumpul bersama beliau di surga-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.

