Ketika Rasulullah Menghapus Gelar Nya Sendiri: Seni “Mengalah” untuk Kemenangan Abadi

Belajar menekan ego dan mengutamakan perdamaian dari peristiwa Hudaibiyah dan Adab Abu Bakar.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Dalam kehidupan sosial, konflik dan gesekan adalah hal yang tak terhindarkan. Namun, Islam hadir bukan hanya untuk mengatur ibadah ritual, melainkan juga sebagai solusi atas retaknya hubungan antarmanusia. Dalam kajian Kitab Sahih Al-Bukhari bab Ash-Shulhu (Perdamaian), Habib Umar bin Hafidz mengupas tuntas bagaimana Rasulullah ﷺ mengajarkan kita seni mendamaikan hati, bahkan jika harus mengorbankan perasaan dan ego sendiri.

Berikut adalah butir-butir hikmah yang dapat kita petik dari majelis pembacaan hadits tersebut.

Mendamaikan Manusia Lebih Utama dari “Waktu” Pribadi

Betapa tingginya urgensi mendamaikan dua pihak yang bertikai dalam Islam, hingga Rasulullah ﷺ pernah terlambat menghadiri shalat berjamaah karena sibuk melakukan ishlah.

Dikisahkan dalam hadits Sahl bin Sa’ad, terjadi perselisihan di kalangan Bani Amr bin Auf. Mendengar hal itu, Nabi ﷺ langsung turun tangan pergi ke tempat mereka untuk mendamaikan. Akibatnya, waktu shalat tiba dan beliau belum kembali, hingga Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu maju menjadi imam sementara.

Ini mengajarkan kita bahwa kepedulian sosial dan menjaga keutuhan umat (ukhuwah) adalah prioritas yang sangat tinggi. Bahkan, demi ishlah, syariat memberikan “kelonggaran” yang tidak lazim pada dosa besar lainnya, yaitu berdusta.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bukanlah seorang pendusta, orang yang mendamaikan antar manusia, lalu ia menyampaikan hal-hal yang baik atau berkata yang baik-baik saja.” —HR. Bukhari

Tentu bukan kebohongan yang menipu, melainkan tawriyah atau strategi komunikasi untuk mendinginkan hati yang panas demi mencegah perpecahan.

Hudaibiyah: Kemenangan di Balik “Penghapusan” Gelar

Puncak dari seni “mengalah untuk menang” terlihat jelas dalam peristiwa Perjanjian Hudaibiyah. Saat itu, kaum Quraisy menolak pencantuman kalimat Bismillahirrahmanirrahim dan Muhammad Rasulullah dalam naskah perjanjian. Mereka menuntut diganti dengan Bismikallahumma dan Muhammad bin Abdullah.

Para sahabat, termasuk Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menjadi juru tulis, menolak keras penghinaan ini. Bagaimana mungkin gelar teragung di alam semesta dihapus demi keinginan musuh? Namun, dengan ketenangan luar biasa, Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menuruti kemauan mereka.

“Lalu Rasulullah ﷺ mengambil surat itu—padahal beliau tidak menulis (ummi)—dan beliau memerintahkan untuk menghapusnya (kata Rasulullah), lalu menulis: ‘Ini adalah apa yang diputuskan oleh Muhammad bin Abdullah’.” —Dikutip dari Syarah Sahih Bukhari

Habib Umar bin Hafidz sering menekankan dalam berbagai kajiannya bahwa tindakan ini bukanlah kekalahan. Ini adalah strategi tingkat tinggi dan ketulusan hati. Beliau ﷺ tahu bahwa “gelar” di atas kertas tidak menambah atau mengurangi kemuliaan beliau di sisi Allah. Justru, dengan “mengalah” saat itu, pintu gerbang Fatah Makkah (Pembebasan Mekkah) terbuka lebar. Ego ditundukkan demi kemaslahatan dakwah yang lebih besar.

Adab di Atas Jabatan

Pelajaran adab lainnya datang dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Saat sedang mengimami shalat menggantikan Nabi yang terlambat, tiba-tiba Rasulullah ﷺ datang. Para makmum bertepuk tangan (isyarat mengingatkan imam bagi wanita, namun dilakukan sahabat saat itu sebelum hukumnya spesifik) untuk memberi tahu Abu Bakar.

Melihat Nabi datang, Abu Bakar mundur ke belakang, meski Nabi mengisyaratkan beliau untuk tetap di posisinya. Seusai shalat, Abu Bakar berkata dengan penuh tawadhu:

“Tidaklah pantas bagi anak Abu Quhafah (Abu Bakar) untuk shalat (menjadi imam) di depan Rasulullah ﷺ.” —HR. Bukhari

Sebuah teladan bahwa posisi dan jabatan setinggi apa pun luluh di hadapan adab kepada Sang Guru Mulia.

Penutup

Dari kajian Sahih Bukhari ini kita belajar bahwa Islam adalah agama yang realistis namun penuh etika. Ia mengajarkan kita untuk menjadi “jembatan” bagi saudara yang bertikai, berani menurunkan ego demi perdamaian, dan selalu menempatkan adab di atas segalanya. Semoga Allah ﷻ melembutkan hati kita untuk selalu mencintai kedamaian.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar