NABAWI TV – Pernahkah kita bertanya, mengapa hati sering kali terasa jauh dari Allah, padahal kita dikelilingi oleh ciptaan-Nya yang seharusnya menjadi bukti keagungan-Nya? Dalam Jalsah Jumat Bulanan ke-66 yang penuh khidmat, Al-Habib Umar bin Hafidz mengajak kita menyelami kembali kedalaman hati melalui bedah kitab Al-Hikam al-Ata’iyyah.
Beliau menyoroti sebuah penyakit kronis manusia modern: salah cara pandang. Mata kita sering kali berhenti hanya pada “kulit” dunia, sehingga lupa pada “Sang Pemilik” di baliknya.
Dua Lensa Memandang Kehidupan
Habib Umar menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam memandang alam semesta (al-ka’inat):
- Golongan Terhijab: Mereka yang melihat makhluk (harta, jabatan, manusia, teknologi) sebagai tujuan akhir. Bagi mereka, dunia ini begitu memukau hingga menjadi “dinding tebal” (hijab katsif) yang menghalangi pandangan hati mereka dari Allah. Ini adalah pandangan yang membinasakan.
- Golongan Ahli Ma’rifat: Mereka yang memandang makhluk hanya sebagai “objek buatan” (mashnu’ah) yang memiliki fungsi spesifik. Mereka tidak berhenti pada bentuk fisik, melainkan menembus ke balik layar: melihat Tangan Kuasa Allah yang menggerakkannya.
“Pandangan yang salah adalah pandangan yang membuat kita tertawan oleh makhluk, hingga kita menjadikannya tujuan dan terfitnah olehnya. Ini menjadikan alam semesta sebagai hijab yang tebal antara hamba dan Allah.” —Al-Habib Umar bin Hafidz
Bahaya Berhenti pada “Sebab”
Dalam nasihatnya, Guru Mulia menekankan bahwa bahaya terbesar bukanlah memiliki dunia, melainkan ketika hati bersandar pada dunia. Ketika seseorang sakit, ia hanya melihat obat sebagai penyembuh, lupa pada Ash-Syafi (Yang Maha Menyembuhkan). Ketika mendapat rezeki, ia hanya melihat atasan atau bisnisnya, lupa pada Ar-Razzaq.
Inilah yang disebut “Berhenti pada Sebab” (al-wufuq ma’a al-asbab). Seorang mukmin dididik untuk menggunakan sebab (ikhtiar), namun hatinya menembus langit, bergantung hanya kepada Musabbib al-Asbab (Penyebab dari segala sebab).
Allah ﷻ berfirman mengingatkan kita agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ ۖ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا ۖ وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
“Wahai manusia! Sungguh, janji Allah itu benar, maka janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” —(QS. Fatir: 5)
Menjadikan Segalanya “Cermin”
Solusi yang ditawarkan Habib Umar sangat indah namun praktis: Ubah segalanya menjadi cermin.
Saat melihat keindahan, ingatlah Al-Jamal (Sang Maha Indah). Saat merasakan nikmat, ingatlah Al-Mun’im (Sang Pemberi Nikmat). Dengan cara ini, setiap detik kehidupan—mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur—menjadi sarana wushul (sampai) kepada Allah, bukan sarana kelalaian.
Inilah esensi dari doa yang sering diajarkan Nabi ﷺ agar kita melihat kebenaran di balik segala sesuatu:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kepada kami yang salah itu salah dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya.”
Penutup
Jalsah ke-66 ini ditutup dengan munajat dan pembacaan Al-Fatihah, surah teragung yang menjadi kunci pembuka segala kebaikan. Semoga Allah menganugerahkan kita mata hati (bashirah) yang tajam, yang tidak silau oleh kilau dunia, namun tembus memandang Keagungan-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.

