NABAWI TV – Manusia diciptakan di dunia dengan satu tujuan mulia: menjadi khalifah dan hamba Allah. Namun, dalam perjalanan hidup yang penuh dinamika, sering kali orientasi hati terbelokkan oleh kilau dunia dan bisikan hawa nafsu. Dalam sebuah majelis pembacaan Sirah Nabawiyah dan Irsyadatus Suluk di Darul Mustafa, Al-Habib Umar bin Hafidz memberikan panduan berharga tentang bagaimana menjaga kompas hati agar tetap terarah kepada “Wajah Allah” semata.
Guru Mulia mengupas tuntas makna ayat Al-Qur’an yang menjadi fondasi bagi para pencari Tuhan, serta memberikan peringatan keras terhadap bahaya mengikuti sosok yang lalai dari zikir.
Hakikat “Menginginkan Wajah Allah”
Habib Umar bin Hafidz memulai pesannya dengan menadabburi firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Kahfi ayat 28:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap (menginginkan) keridhaan-Nya (Wajah-Nya)…” —QS. Al-Kahfi: 28
Beliau menjelaskan bahwa derajat tertinggi seorang hamba adalah ketika seluruh aktivitasnya—mulai dari ibadah ritual hingga urusan duniawi—dilandasi oleh satu niat: Yuriduna Wajhah (Menginginkan Wajah-Nya). Ini bukan sekadar klaim lisan, melainkan sebuah kondisi batin di mana hati tidak lagi menoleh kepada selain Allah.
- Orientasi Tunggal: Seorang mukmin sejati tidak tergiur oleh pujian, harta, atau jabatan. Fokus utamanya hanyalah apakah Allah rida atau tidak.
- Kehormatan Tertinggi: Habib Umar menegaskan bahwa kemuliaan seorang manusia (baik jin maupun manusia) terletak pada kemampuannya untuk “menginginkan” Allah di atas segalanya.
“Wahai Tuhan yang hati berada di genggaman-Nya, arahkanlah wajah hati kami kepada-Mu,” demikian munajat tulus yang dipanjatkan beliau, mengajak jemaah untuk memperbarui niat dalam setiap langkah.
Bahaya Mengikuti Pemimpin yang Lalai
Sebaliknya, Habib Umar memberikan peringatan tegas ( tahdzir) agar umat Islam tidak tertipu oleh pesona tokoh atau pemimpin yang hatinya kosong dari zikir. Beliau mengutip kelanjutan ayat tersebut:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“…dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” —QS. Al-Kahfi: 28
Siapakah mereka yang harus dihindari?
- Mereka yang agfalna qalbahu (dilalaikan hatinya dari mengingat Allah).
- Mereka yang menjadikan hawa nafsu sebagai kompas kebijakan dan tindakan.
- Mereka yang urusannya furuta (kacau balau, sia-sia).
Habib Umar menegaskan bahwa kehancuran tatanan sosial, ekonomi, dan politik di berbagai belahan dunia bermula dari ketaatan kepada pemimpin yang memiliki kriteria di atas. “Jangan taati mereka, meskipun mereka menawarkan proyek besar atau sistem yang terlihat canggih,” pesan beliau. Kehancuran (furuta) adalah hasil akhir yang pasti bagi siapa saja yang membangun peradaban di atas fondasi kelalaian terhadap Allah.
Teladan Abadi: Keluarga Nabi ﷺ
Sebagai solusi, Habib Umar mengajak umat untuk kembali menatap teladan sejati: Rasulullah ﷺ dan keluarganya yang suci. Secara khusus, beliau mengangkat kisah Sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu ‘anha.
Beliau menceritakan momen mengharukan ketika Rasulullah ﷺ sujud di depan Ka’bah dan kaum kafir Quraisy meletakkan kotoran unta di punggung beliau. Tidak ada yang berani mendekat kecuali Fatimah kecil. Dengan tangan mungilnya, ia membersihkan kotoran tersebut sambil menangis dan membela ayahnya.
“Apakah kalian menyakiti seorang laki-laki yang mengatakan Tuhanku adalah Allah?” —Sayyidah Fatimah Az-Zahra (Dikutip oleh Habib Umar bin Hafidz)
Kisah ini bukan sekadar nostalgia sejarah, melainkan bukti pendidikan karakter yang berhasil mencetak generasi tangguh yang Yuriduna Wajhah. Fatimah tidak takut pada intimidasi tokoh-tokoh Quraisy karena hatinya telah terisi penuh oleh keagungan Allah dan Rasul-Nya.
Maka, marilah kita evaluasi kembali siapa yang kita jadikan panutan. Apakah kita mengikuti jejak para pencari Wajah Allah, atau justru terseret arus mereka yang memperturutkan hawa nafsu? Jawabannya akan menentukan nasib kita di dunia dan akhirat.
Wallahu a’lam bishawab.

