NABAWI TV – Ibadah haji dan umrah menyimpan rahasia yang melampaui sekadar ritual fisik. Banyak jemaah yang memahami Sa’i—berjalan tujuh kali antara bukit Safa dan Marwa—hanya sebatas napak tilas perjuangan Siti Hajar mencari air untuk putranya. Namun, dalam kajian kitab Ihya’ Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, Al-Habib Umar bin Hafidz membuka wawasan yang jauh lebih esensial mengenai filosofi ibadah ini.
Guru Mulia menyoroti dua dimensi besar yang sering luput dari perhatian: hubungan historis dengan kemenangan tauhid di Perang Ahzab dan gambaran eskatologis (keakhiratan) tentang pengadilan Tuhan.
Proklamasi Tauhid di Puncak Safa
Ketika seorang jemaah mendaki bukit Safa dan menghadapkan wajah ke arah Ka’bah, Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah zikir khusus. Di bagian akhir zikir tersebut, terdapat kalimat: …wa hazamal ahzaba wahdah (Dan Dia-lah yang mengalahkan pasukan bersekutu sendirian). Timbul pertanyaan, apa relevansi Perang Ahzab (Khandaq) dengan ibadah Sa’i di Masjidil Haram?
Habib Umar bin Hafidz menjelaskan bahwa kalimat ini adalah penegasan tauhid yang mutlak. Mengenang Ahzab di tengah ibadah haji adalah pengakuan bahwa kemenangan dan pertolongan hanya datang dari Allah, bukan dari jumlah pasukan atau kekuatan materi. Saat Madinah dikepung oleh koalisi musuh yang dahsyat, Allah menghancurkan mereka tanpa kontak senjata, melainkan dengan angin topan dan tentara malaikat.
Allah Ta’ala mengabadikan momen keteguhan hati para sahabat dalam firman-Nya:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita’. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” —QS. Al-Ahzab: 22
Dengan melafalkan zikir ini saat Sa’i, seorang mukmin diajarkan untuk memiliki keyakinan bahwa sebesar apa pun masalah yang “mengepung” hidupnya, Allah Maha Kuasa untuk menyelesaikannya sendirian (Wahdah).
Kehangatan Ketaatan: Kisah Hudzaifah bin Yaman
Dalam uraiannya tentang Perang Ahzab yang dibaca saat Sa’i, Habib Umar menyisipkan kisah keteladanan sahabat Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu. Di malam yang sangat dingin dan mencekam, Rasulullah ﷺ meminta seorang relawan untuk menyusup ke kemah musuh guna mencari informasi.
Awalnya tidak ada yang bergerak karena rasa takut dan dingin yang menusuk tulang, hingga akhirnya Rasulullah menunjuk Hudzaifah secara langsung. Meskipun berat, Hudzaifah berangkat demi mematuhi perintah Nabi. Habib Umar menekankan bahwa ketaatan total inilah yang mendatangkan pertolongan hissiyah (fisik) secara instan.
“Seolah-olah aku berjalan di dalam pemandian air hangat (hammam).” —Hudzaifah bin Yaman, dikutip oleh Habib Umar bin Hafidz
Pelajaran berharga dari kisah ini adalah bahwa ketaatan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya akan melahirkan “kehangatan” perlindungan Ilahi, bahkan di tengah badai kehidupan yang paling dingin sekalipun.
Safa dan Marwa sebagai Miniatur Mizan
Selain dimensi sejarah, Habib Umar juga membedah pandangan Imam Al-Ghazali yang mengaitkan Sa’i dengan alam akhirat. Aktivitas bolak-balik antara dua bukit ini sejatinya adalah simulasi dari keadaan genting manusia di Padang Mahsyar.
Dalam perspektif tasawuf ini, Habib Umar menguraikan analogi berikut:
- Safa dan Marwa diibaratkan sebagai dua piringan timbangan amal (Mizan).
- Gerakan Sa’i menggambarkan kegelisahan hati seorang hamba yang berlari ke sana kemari menanti keputusan Allah; apakah kebaikannya yang lebih berat, atau justru dosanya?
Oleh karena itu, saat berada di mas’a (jalur Sa’i), seorang jemaah hendaknya tidak hanya fokus pada hitungan putaran fisik, tetapi menghadirkan kekhusyukan dan rasa butuh (iftiqar) akan ampunan Allah. Sa’i fisik di Tanah Suci harus menjadi pemicu untuk memperbaiki “Sa’i” (usaha) dalam kehidupan sehari-hari demi kampung akhirat.
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
“Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh (sa’i) sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” —QS. Al-Isra’: 19
Semoga Allah menjadikan setiap langkah kita, baik dalam ibadah maupun kehidupan sosial, sebagai Sa’yun Masykur (usaha yang disyukuri/diterima) di sisi-Nya.
Wallahu a’lam bishawab.

