Air Yang Membawa Pesan
Bencana sering kali datang diam-diam, tetapi menyisakan suara paling lantang. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, air bah yang menerjang permukiman, memutus akses, dan merenggut ratusan nyawa bukan hanya membawa lumpur namun ia membawa pesan. Pesan tentang kelalaian manusia, rapuhnya sistem, dan hilangnya keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan.
Kala langit menumpahkan hujan yang tak kunjung jeda, sungai yang kehilangan ruang luapnya menuntut kembali haknya. Dan mereka yang paling lemah, masyarakat kecil di bantaran sungai, petani yang tinggal di lereng bukit, anak-anak yang berlari di halaman sekolah menjadi korban pertama dari ketimpangan itu.
Bencana Sebagai Luka Sosial
Hampir satu juta jiwa terdampak. Bukan hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan kendali atas hidupnya. Rumah yang dibangun bertahun-tahun lenyap dalam hitungan jam. Sawah dan ladang sebagai sandaran ekonomi rakyat, hilang di balik lumpur pekat. Anak-anak kehilangan ruang belajar, sementara para lansia kehilangan tempat bernaung.
Di tengah tragedi itu, kita melihat ketangguhan sosial bekerja: relawan yang memikul air bersih, masjid yang berubah menjadi dapur umum, tetangga yang mengangkat tetangga lainnya. Solidaritas ini adalah wajah terbaik bangsa. Tetapi solidaritas saja tidak cukup bila sistem yang seharusnya melindungi justru rapuh dan tertinggal.
Amanah Negara Diuji
Konstitusi menegaskan bahwa melindungi segenap bangsa adalah kewajiban negara. Dalam konteks bencana, amanah itu mencakup mitigasi, tata ruang, pengawasan lingkungan, distribusi bantuan, dan pemulihan jangka panjang.
Pertanyaan yang harus diajukan secara jujur adalah:
Apakah kerusakan ini murni akibat cuaca ekstrem, atau juga akibat lemahnya tata kelola?
Banjir bukanlah peristiwa tiba-tiba jika hutan ditebang tanpa kontrol, sungai dipersempit bangunan, dan izin tata ruang diberikan tanpa kajian risiko. Dalam perspektif hukum lingkungan, kelalaian kolektif dalam menjaga daya dukung alam adalah bentuk pelanggaran terhadap hak dasar warga yaitu hak atas lingkungan yang baik dan sehat.
Transparansi, audit lingkungan, dan penegakan hukum terhadap pelanggaran pemanfaatan lahan harus menjadi bagian dari pemulihan. Tanpa itu, kita hanya akan menambal luka tanpa menghentikan sumber lukanya.
Bencana Sebagai Panggilan Moral & Peradaban
Dalam ajaran Islam, manusia adalah khalifah di bumi (penjaga), bukan penguasa tunggal. Kerusakan alam disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai akibat ulah tangan manusia, bukan sekadar takdir yang turun tanpa sebab.
Tiga nilai penting menjadi kompas moral dalam musibah ini. Pertama adalah Amanah untuk menjaga lingkungan dan manusia di dalamnya, termasuk menolak eksploitasi yang merusak. Kedua ’Adl (Keadilan) untuk memastikan pembangunan tidak hanya menguntungkan segelintir pihak, sementara masyarakat kecil menanggung risikonya. Kemudian yang ketiga adalah Ta’awun: solidaritas, gotong royong, zakat, infak, dan sedekah sebagai kekuatan sosial yang harus disalurkan secara terarah dan bertanggung jawab.
Bencana bukan hukuman; ia adalah pengingat. Pengingat bahwa peradaban hanya tegak bila keberlanjutan, moralitas, dan keadilan berjalan bersama.
Pemulihan Bukan Sekedar Membangun Kembali, Tetapi Memperbaiki Cara Hidup Kita
Indonesia tidak kekurangan ahli, relawan, atau sumber daya. Yang dibutuhkan adalah kesadaran kolektif untuk berubah. Terdapat “PR” besar yang harus diperhatikan dimasa mendatang. Pertama adalah Pemulihan manusia, bukan hanya bangunan: trauma psikologis, kehilangan keluarga, sumber nafkah, dan pendidikan anak-anak harus mendapat perhatian setara dengan pembangunan jembatan dan tanggul, kemudian penegakan hukum tata kelola lingkungan: audit izin restorasi hutan, tegas terhadap mereka yang terlibat dalam eksploitasi dan keserahahan, penataan ulang daerah aliran sungai, dan penguatan sistem mitigasi harus menjadi kebijakan permanen, bukan reaktif. Yang ketiga adalah mobilisasi nilai keagamaan dan sosial: lembaga keagamaan, ormas Islam, komunitas lokal, dan tokoh masyarakat harus menjadi motor yang memastikan bantuan tepat sasaran serta memastikan pendidikan lingkungan ditanam sejak dini.
Dari Derita Menuju Kesadaran Baru
Rabithah Alawiyah menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah banjir yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Bencana ini telah banyak memakan korban, menyebabkan kerusakan infrastruktur, serta memaksa banyak keluarga mengungsi dan kehilangan harta benda.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa. —QS. Al-Maidah: 2.
maka atas dasar amanah syar’i dan komitmen kebangsaan, Rabithah Alawiyah telah mengirimkan tim kemanusiaan untuk terjun langsung melakukan penilaian cepat (rapid assessment) dan menyampaikan bantuan darurat yang dibutuhkan para korban. Bantuan tersebut mencakup, logistik kebutuhan pokok, pakaian, perlengkapan kebersihan dan sanitasi, obat-obatan, dukungan untuk anak-anak dan lansia, serta koordinasi berkelanjutan dengan otoritas setempat dalam upaya pemulihan.
Dalam setiap langkahnya, Rabithah Alawiyah berpegang pada teladan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan mengasihi bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakannya. —HR. Muslim.
Dengan spirit itu, Rabithah Alawiyah melihat penderitaan para korban sebagai penderitaan bersama. Bantuan yang diberikan bukan sekadar kewajiban moral, tetapi tanggung jawab iman, wujud khidmah yang diwariskan para pendahulu dari kalangan Alawiyin, serta bukti komitmen Rabithah Alawiyah untuk senantiasa hadir dan bermanfaat bagi umat dan bangsa.
Rabithah Alawiyah mengajak seluruh elemen masyarakat, baik lembaga pemerintah, organisasi sosial, pelaku usaha, maupun individu untuk menguatkan solidaritas, memperbanyak dan meningkatkan kepedulian, serta bersama-sama mendukung proses penanganan dan pemulihan pascabencana.
Kami memohon kepada Allah subhanahu wataala agar memberikan kekuatan kepada para korban, melindungi para relawan, serta mengganti setiap kehilangan dengan keberkahan.
Sesungguhnya bersama kesulitan pasti ada kemudahan. —QS. Asy-Syarḥ: 6.
Air bah telah surut, tetapi pesan yang dibawanya tidak boleh ikut tenggelam.
Banjir Sumatra bukan sekadar berita, ia adalah panggilan untuk menata ulang cara kita memandang alam, hukum, dan kemanusiaan.
Jika kita ingin masa depan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih berkah, maka hari ini adalah waktu terbaik untuk memulai, memperbaiki kebijakan, memperkuat solidaritas, dan mengembalikan amanah kita (manusia) sebagai khalifah dimuka bumi.
Musibah ini melukai, tetapi juga mengajari, dari setiap pelajaran, kita memiliki pilihan: mengabaikannya, atau menjadikannya awal perubahan.
Wallahu a’lam bishawab
Sehan Muhammad Alattas
Dept. Kesejahteraan Sosial Rabithah Alawiyah

