NABAWI TV – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali menawarkan kehampaan di balik kemewahan, manusia kerap kehilangan orientasi akan nilai dirinya. Perasaan tidak berharga, kecemasan yang tak beralasan, hingga kekeringan spiritual menjadi fenomena yang menjangkiti banyak hati. Dalam Dauroh Khulashoh 2025 yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Ustadzah Halimah Alaydrus memberikan pandangan tajam: nilai seorang hamba tidak terletak pada pencapaian duniawinya, melainkan pada seberapa lekat ingatannya kepada Sang Pencipta.
Acara yang membedah kitab Khulashoh Madad Nabawi karya Al-Habib Umar bin Hafidz ini bukan sekadar pembacaan litani doa, melainkan sebuah rekonstruksi pemahaman tentang hakikat hidup. Ustadzah Halimah menekankan bahwa kitab ini disusun dengan struktur yang sangat rapi untuk memandu seorang hamba menjalani hari-harinya dalam naungan dzikir, mulai dari bangun tidur hingga kembali terlelap.
Hakikat Kehidupan dan Kematian Hati
Salah satu poin fundamental yang disampaikan Ustadzah Halimah adalah tentang definisi “hidup” yang sesungguhnya. Seringkali fisik manusia terlihat bugar, namun secara substansi spiritual, ia telah mati. Beliau mengutip sebuah hadits sahih yang menjadi tamparan keras bagi kelalaian manusia:
مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ
“Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” — HR. Bukhari.
Dalam perspektif ini, seseorang yang lalai dari dzikir tak ubahnya seperti bangkai yang berjalan; tidak memiliki sensibilitas ruhani, tidak mampu menerima cahaya hidayah, dan kehilangan fungsi utamanya sebagai hamba. Sebaliknya, Khulashoh hadir sebagai sarana untuk “menghidupkan” hati. Ustadzah Halimah menegaskan bahwa mereka yang senantiasa berdzikir adalah para pemenang sejati (Al-Mufarridun), yakni orang-orang yang tetap memiliki koneksi privat dengan Allah meski berada di tengah keramaian dunia .
Romantisme Ilahi dalam Dzikir
Lebih dari sekadar kewajiban, dzikir adalah bentuk hubungan personal yang sangat intim antara hamba dan Rabb-nya. Ustadzah Halimah menyoroti Surat Al-Baqarah ayat 152 sebagai salah satu ayat paling romantis dalam Al-Qur’an:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152) .
Dalam analisis beliau, ayat ini menunjukkan timbal balik yang luar biasa. Ketika seorang hamba yang penuh dosa dan kelemahan menyebut nama Allah, Allah yang Maha Agung menyebut nama hamba tersebut di hadapan para malaikat-Nya. Inilah definisi harga diri yang sesungguhnya. Ustadzah Halimah menekankan, “Siapa bilang kamu tidak berharga? Kamu hanya sedang lupa kepada Allah. Sebab ketika kamu ingat Allah, kurang berharga apa jika namamu disebut oleh Allah?” .

Struktur Waktu dan Amalan dalam Khulashoh
Kitab Khulashoh didesain oleh Al-Habib Umar bin Hafidz untuk mengisi waktu-waktu krusial seorang mukmin. Ustadzah Halimah merinci pembagian waktu dzikir yang sangat dianjurkan, yang juga menjadi kerangka isi kitab tersebut:
- Sepertiga Malam Terakhir: Waktu pelantikan para Wali Allah. Beliau menukil ucapan ulama bahwa tidaklah diangkat seorang wali kecuali di sepertiga malam terakhir . Ini adalah waktu mustajab untuk Qiyamullail dan Istighfar.
- Pagi Hari (Ba’da Subuh hingga Terbit Matahari): Waktu untuk membaca Wirdul Latif dan surah-surah pelindung. Ini adalah benteng seorang mukmin sebelum menghadapi hiruk-pikuk dunia.
- Sore Hari (Ba’da Ashar/Menjelang Maghrib): Waktu untuk membaca Ratib (Al-Haddad atau Al-Attas) dan Surah Al-Waqi’ah sebagai ikhtiar batin penolak kefakiran.
- Malam Hari (Sebelum Tidur): Membaca Surah Al-Mulk sebagai penyelamat dari siksa kubur.
Dalam konteks wird atau bacaan harian, Ustadzah Halimah menjelaskan bahwa Wirdul Latif karya Imam Al-Haddad yang terdapat dalam Khulashoh adalah kompilasi dari dzikir-dzikir yang memang diamalkan oleh Rasulullah ﷺ setiap pagi dan petang. Mengamalkannya berarti meneladani rutinitas harian Nabi ﷺ.
Sanad dan Keberkahan Ijazah
Pentingnya talaqqi (pengambilan ilmu secara langsung) terlihat jelas dalam dauroh ini. Khulashoh Madad Nabawi bukan sekadar kumpulan doa yang dicomot sembarangan, melainkan memiliki sanad (mata rantai keilmuan) yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ.
Ustadzah Halimah menjelaskan bahwa Al-Habib Umar bin Hafidz telah memberikan ijazah sempurna untuk pembacaan Khulashoh kepada para peserta, yang beliau terima dari guru-gurunya yang mulia . Ijazah ini berfungsi sebagai legitimasi spiritual dan penyambung keberkahan (barakah) antara pengamal dzikir dengan penyusunnya, hingga kepada Sumber Utama, Nabi Muhammad ﷺ.
Sebagai penutup, Ustadzah Halimah mengingatkan bahwa ketenangan hati (Tuma’ninah) tidak dapat dibeli dengan materi. Kegelisahan yang melanda manusia modern seringkali bukan karena kurangnya harta, melainkan karena kurangnya dzikir. Sebagaimana firman Allah, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’d: 28) . Khulashoh hadir sebagai panduan praktis untuk meraih ketenangan tersebut di tengah gempuran fitnah akhir zaman.
Wallahu a’lam bishawab.

