NABAWI TV – Tanah Pasundan tidak henti-hentinya melahirkan permata ilmu yang menyinari umat dengan cahaya kesalehan. Salah satu sosok agung tersebut adalah Syekh Ahmad Toha bin Muhammad Hasan Mustawi, seorang ulama ‘alim ‘allamah yang dikenal dengan keteguhan ibadah dan kemandirian hidupnya. Beliau bukan sekadar pengajar ilmu, melainkan teladan nyata dalam tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan khidmah kepada masyarakat.
Riwayat hidup beliau yang ditulis oleh Muhsin Farid Al-Baiti As-Segaf dalam risalah An-Nur Al-Jali menyingkap sisi-sisi menakjubkan dari kedisiplinan seorang hamba yang waktunya habis untuk Allah subhanahu wa ta’ala.
Sanad Ilmu yang Bersambung
Dilahirkan sekitar tahun 1905 M di Bojong, Bandung, Jawa Barat, Syekh Ahmad Toha tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nuansa spiritual. Pendidikan pertamanya didapatkan langsung dari sang ayah, Syekh Muhammad Hasan Mustawi, yang merupakan pemegang sanad Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.
Haus akan ilmu, beliau melanjutkan rihlah ilimiahnya kepada para ulama besar di tanah air hingga ke Tanah Suci. Di antara guru-guru beliau adalah Syekh Muhammad Kurdi Cibabat dan Waliyullah KH. Raden Muhammad Zarkasyi Cibaduyut. Saat menunaikan ibadah haji pertama kali pada tahun 1948, beliau juga mengambil ilmu dari ulama-ulama Makkah dan Madinah, seperti Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syekh Umar Hamdan Al-Makki, serta Habib Salim bin Abdullah Al-Madani.
Keluasan sanad beliau tidak hanya dalam ilmu syariat, tetapi juga dalam ilmu Al-Qur’an. Beliau berguru kepada Syekh Ahmad Hijazi, Syaikhul Qurra di zamannya, hingga mendapatkan ijazah dalam Qiraat Ashim.
Kedahsyatan Ibadah dan Interaksi dengan Al-Qur’an
Salah satu karomah istiqamah yang paling menonjol dari Syekh Ahmad Toha adalah hubungannya yang sangat intim dengan Al-Qur’an dan ibadah malam. Beliau dikenal tidak pernah meninggalkan satu sudut pun di rumahnya kecuali pernah digunakan untuk salat.
Rutinitas malam beliau adalah cermin dari kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya. Beliau bangun di tengah malam untuk mendirikan salat Tahajjud hingga mendekati waktu Fajar. Setelah itu, beliau membaca Al-Qur’an dan Dalailul Khairat hingga tuntas, baru kemudian melaksanakan salat sunnah Fajar.
Yang sangat menakjubkan, beliau membagi bacaan Al-Qur’annya menjadi empat metode khatam yang berjalan beriringan:
- Mushaf pertama dikhatamkan setiap tiga hari.
- Mushaf kedua dikhatamkan setiap tujuh hari.
- Mushaf ketiga dikhatamkan setiap bulan.
- Mushaf keempat dikhususkan untuk dibaca dalam salat-salat sunnah (Nawafil) dan Tahajjud.
Metode mengkhatamkan Al-Qur’an dalam salat sunnah ini adalah praktik nadir (langka) yang menunjukkan tingginya himmah (semangat) beliau dalam beribadah. Kebiasaan mulia ini pun beliau tanamkan kepada murid-murid dan keturunannya.
Kemandirian Ekonomi: Makan dari Hasil Keringat Sendiri
Di balik kealiman dan kesibukan mengajar, Syekh Ahmad Toha adalah sosok yang sangat menjunjung tinggi kemandirian. Beliau memegang teguh prinsip untuk memakan makanan yang halal dan berkah dari hasil usahanya sendiri.
Setiap pagi, setelah mengajar santri wanita dan pria serta melaksanakan salat Dhuha, beliau pergi ke ladang bersama beberapa muridnya. Di sana beliau menanam pisang, pepaya, padi, dan sayuran. Pesan beliau yang sangat membekas kepada putranya adalah:
“Makanlah dari hasil usaha tanganmu sendiri.”
Jarang sekali beliau memakan sesuatu yang bukan dari hasil keringatnya sendiri. Hal ini mengajarkan bahwa tasawuf dan zuhud tidak berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan membangun kemandirian agar tidak bergantung pada makhluk.
Pendidikan Keluarga dan Akhir Hayat yang Mulia
Dalam mendidik keluarga, beliau menerapkan kedisiplinan tinggi. Beliau biasa membangunkan putra-putrinya pada pukul 02.00 dini hari—bahkan terkadang pukul 11 malam—untuk qiyamullail. Dengan tegas namun penuh kasih sayang, beliau membangunkan mereka menggunakan ujung jari kakinya seraya berkata, “Wahai anakku, bangunlah, ini sudah siang (waktunya ibadah),” lalu memerintahkan mereka mandi di sungai untuk menyegarkan badan demi menghadap Allah.
Kehidupan yang dipenuhi cahaya Al-Qur’an dan sunnah ini ditutup dengan akhir yang indah (husnul khatimah). Beliau wafat pada hari Kamis, 20 Jumadil Akhir 1431 H (2010 M) setelah sakit selama satu minggu.
Detik-detik kewafatannya dipenuhi keberkahan. Saat keluarga berkumpul dan putranya, KH. Muhammad Muhyiddin, membacakan Qasidah Burdah hingga khatam, Syekh Ahmad Toha tampak mengangkat tangan mengaminkan doa. Beliau kemudian mulai bertahlil, dan pada saat itulah ruhnya yang suci kembali ke hadirat Ilahi.
Kewafatan beliau dihadiri oleh banyak ulama, termasuk Syekh Rajab Dieb dari Suriah yang bersaksi, “Demi Allah, saya tidak datang ke Indonesia kecuali untuk menshalatkan Syekh Ahmad Toha”.
Semoga Allah merahmati beliau dan menempatkannya di derajat yang tinggi bersama para Nabi dan Shiddiqin.
Wallahu a’lam bishawab.

