Jebakan Positivisme: Benarkah Agama Itu Tidak Ilmiah dan Hanya Sekadar ‘Percaya’?

Dr. Ardiansyah membongkar kesalahpahaman fatal dunia Barat tentang definisi "ilmiah" dan bagaimana Islam menempatkan akal serta wahyu secara adil

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

NABAWI TV – Seringkali kita mendengar celotehan sumbang di warung kopi hingga mimbar akademis: “Agama itu cuma keyakinan, tidak ilmiah karena tidak bisa dibuktikan di laboratorium.” Pernyataan ini seolah menjadi dogma baru yang memaksa umat beragama merasa minder alias insecure dengan imannya sendiri.

Benarkah demikian? Atau justru definisi “ilmiah” itu sendiri yang telah dibajak dan disempitkan maknanya?

Dalam sebuah kuliah umum yang mencerahkan di Nabawi TV, Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, mengupas tuntas kekeliruan fatal cara pandang Barat (Western Worldview) yang memisahkan antara iman dan ilmu. Mari kita bedah bagaimana Islam justru menempatkan akal dan wahyu dalam satu harmoni yang indah, bukan pertentangan.

Jebakan Positivisme: “Kalau Tidak Terlihat, Berarti Tidak Ada”

Akar masalah dari anggapan “agama tidak ilmiah” bermula dari paham Positivisme yang dipopulerkan oleh filsuf Barat, Auguste Comte. Bagi penganut paham ini, sesuatu hanya dianggap benar (ilmiah) jika bisa dibuktikan secara indrawi (empirical), bisa diukur, dan diobservasi.

Dampaknya fatal. Karena Tuhan, Malaikat, dan Hari Akhir tidak bisa dilihat dengan mata telanjang atau diteropong di laboratorium, maka semua itu dianggap “tidak ilmiah” dan ditolak kebenarannya. Dr. Ardiansyah (07:48) menjelaskan bahwa paham ini secara tidak langsung menganggap orang beragama sebagai manusia primitif yang tertinggal zaman karena masih percaya pada hal-hal metafisik.

Padahal, membatasi kebenaran hanya pada apa yang terlihat mata adalah sebuah kecacatan logika.

“Membatasi wujud hanya pada yang materi dan empirik adalah bentuk penyempitan ilmu. Indra kita memiliki keterbatasan. Mata tidak bisa melihat jika terlalu jauh atau terlalu dekat.” — Dr. Ardiansyah.

Tiga Saluran Kebenaran dalam Islam

Berbeda dengan Barat yang pincang karena hanya mengandalkan satu kaki (empiris), Islam berdiri gagah di atas tiga pilar epistemologi (sumber ilmu) yang kokoh. Merujuk pada Surah An-Nahl ayat 78, Dr. Ardiansyah menguraikan saluran ilmu yang disepakati ulama Ahlussunnah wal Jamaah:

1. Al-Hawas as-Salimah (Panca Indra yang Sehat) Islam tidak anti-sains. Islam mengakui penglihatan, pendengaran, dan perasa sebagai saluran ilmu. Kita tahu api itu panas dan gula itu manis melalui indra. Namun, Islam menolak empirisisme (paham yang menuhankan indra). Mengapa? Karena indra bisa menipu. Fatamorgana terlihat seperti air, padahal bukan. Bintang terlihat kecil, padahal ia raksasa.

2. Al-Aql (Akal Sehat) Ini adalah perangkat rohani untuk menalar (logic). Ada hal-hal yang tidak bisa diindra tapi bisa dipastikan kebenarannya oleh akal. Contoh sederhana yang disebut Dr. Ardiansyah: “Ibu kandung pasti lebih tua dari anaknya.” Kita tidak perlu melihat proses kelahirannya untuk membenarkan logika tersebut. Ini disebut Wajib Aqli. Dengan akal pula, kita bisa menyusun argumen keberadaan Tuhan melalui keteraturan alam semesta.

3. Al-Khabar as-Sadiq (Berita yang Benar) Inilah kunci yang hilang dari peradaban Barat. Untuk hal-hal yang tidak terjangkau oleh mata (seperti wujud Tuhan) dan tidak mampu dianalisis tuntas oleh akal (seperti detail surga dan neraka), kita membutuhkan Khabar Sadiq (Wahyu). Berita ini datang dari otoritas tertinggi yang mustahil berdusta, yakni Allah ﷻ dan Rasulullah ﷺ.

Allah ﷻ berfirman:

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَـٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” — QS. An-Nahl: 78.

Keadilan Cara Pandang Islam

Prof. Syed Muhammad Naqib Al-Attas, seorang pemikir besar Melayu, menegaskan pentingnya memiliki Islamic Worldview. Islam itu adil; ia menempatkan sesuatu pada tempatnya.

  • Gunakan gergaji untuk memotong kayu (urusan besar/rumit).
  • Gunakan silet untuk mencukur kumis (urusan ringan/detail).
  • Jangan terbalik! Menggunakan silet untuk menebang pohon adalah kesia-siaan, dan menggunakan gergaji mesin untuk mencukur kumis adalah malapetaka.

Begitu pula dalam ilmu. Jangan gunakan “pisau laboratorium” untuk membedah masalah ketuhanan yang metafisik. Itu tidak akan ketemu. Sebaliknya, jangan hanya pakai dalil naqli untuk menentukan mana gula dan mana garam, cukup cicipi saja.

Kesimpulannya, agama Islam itu sangat ilmiah. Bahkan, konsep ilmu dalam Islam jauh lebih luas dan sophisticated dibandingkan konsep sains Barat yang kaku. Kita tidak perlu minder. Justru kitalah yang harus kasihan pada mereka yang “buta” karena hanya mau percaya pada apa yang bisa diraba tangannya saja.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar