NABAWI TV – Setelah memahami fondasi ketenangan (Sakinah), bahtera rumah tangga harus diisi dengan Mawaddah atau cinta yang mendalam. Cinta adalah nyawa pernikahan. Buya Yahya menyebutkan bahwa Sakinah dan Mawaddah adalah dua hal yang saling terkait erat, ibarat buah dari satu pohon [00:48]. Bisa jadi, ketenangan (Sakinah) melahirkan cinta (Mawaddah), atau sebaliknya, pandai merawat cinta menjadikan hidup penuh ketenangan.
Inti dari Mawaddah adalah bagaimana kita menjalani rumah tangga dengan cinta, bahkan jika cinta itu belum ada sejak awal. Tugas setiap pasangan adalah menumbuhkan benih cinta, sebab benih itu sejatinya sudah ada:
- Pasangan Anda adalah umat Nabi Muhammad ﷺ [01:37].
- Pasangan Anda adalah sebab keridaan Allah kepada kita, karena syahwat yang tadinya bisa menjadi hina, kini menjadi halal [01:46].
Rumus Agung: Bangun Cinta di Atas Pernikahan
Buya Yahya mengajarkan rumus mendasar agar cinta dalam pernikahan bisa subur dan kokoh. Ia membedakan dua cara membangun hubungan:
Bangun cinta di atas pernikahan, jangan membangun pernikahan di atas cinta. Kalau orang membangun pernikahan di atas cinta, dia jadi petualang cinta untuk menikah.
— Buya Yahya [02:34]
Maksud dari “membangun cinta di atas pernikahan” adalah memilih pasangan dengan pertimbangan maksimal (nasab baik, keluarga baik, agama baik) terlebih dahulu, meskipun belum ada cinta spesial yang tumbuh [02:51]. Setelah akad terucap, barulah cinta itu ditumbuhkan dan dipupuk melalui:
- Sapaan yang indah.
- Tegur sapa yang lembut.
- Rayuan yang halal, termasuk cumbu rayu [03:14].
- Menghilangkan kekasaran dalam bertutur kata.
Jika cinta sudah tumbuh, ia harus dirawat. Sebab jika diabaikan dan kita bersikap cuek, cinta itu akan kropos atau runtuh.
Ancaman ‘Hama’ Penghancur Cinta dari Dalam
Merawat Mawaddah berarti kita harus pandai mencari atau menghadirkan sebab tumbuh suburnya cinta, sekaligus menghindari hal-hal yang menjadi sebab kroposnya cinta. Buya Yahya secara spesifik menyoroti “hama” atau perusak cinta yang paling berbahaya, yang justru datang dari diri sendiri.
Hama-Hama Utama Penghancur Cinta:
- Tontonan Haram (Pornografi) dan Pandangan Kotor Ini adalah hama dari dalam diri yang paling merusak [03:55]. Seorang suami yang suka menonton film porno merusak seleranya sendiri. Ia akan merendahkan pasangannya karena merasa apa yang ia lihat di konten kotor “tidak seperti yang aku lihat” [04:02]. Buya Yahya memperingatkan bahwa tontonan kotor akan merusak mental, membuat yang halal menjadi tidak indah, dan yang haram menjadi dirindukan [05:04].”Katakan pada kaum pria untuk menutup matanya (Ghadhdhul bashar) agar semakin indah pasangannya. Katakan pada para wanita agar menjaga matanya agar semakin indah di pasangannya.” — Buya Yahya [00:05:41 – 00:05:50]
- Komunikasi Tak Beraturan dengan Lawan Jenis Melirik yang haram, dan melakukan komunikasi yang tidak beraturan dengan lawan jenis, akan menjadikan pasangan halal kita kurang indah dan membuat cinta kropos [06:35].
- Ketidakpercayaan Melakukan sesuatu yang menyebabkan pasangan kita tidak percaya adalah perusak Mawaddah yang serius [06:47]. Sebaliknya, kepercayaan akan menyuburkan cinta.
Cara terbaik untuk menumbuhkan kepercayaan pasangan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah [06:58]. Semakin kita menjadi sosok yang salih/salihah, pasangan akan semakin percaya, dan cinta akan terjaga.
Cinta Sejati Tidak Punya Expiry Date
Buya Yahya menegaskan bahwa cinta sejati, jika berlandaskan takwa, tidak akan hilang atau berubah, bahkan hingga masuk surga. Yang ada hanyalah perubahan bentuk [07:23].
Contohnya, seorang suami yang marah kepada istrinya, itu bukan karena benci, tetapi karena cinta, sebab istrinya melakukan kesalahan. Namun, marah karena cinta ini harus memiliki rambu-rambu [07:46].
Rambu-Rambu Marah dalam Islam
- Marah harus diatur oleh syariat dan akal [00:07:54 – 00:08:01].
- Tidak boleh brutal (tahawwur) atau ngawur, seperti menempeleng dan mengancam cerai [08:18].
- Marah adalah irama dalam cinta yang bisa dibaca. Bahkan, ada kalanya seorang istri merasa rindu kepada suaminya yang marah karena ia tahu itu adalah aroma cinta.
Inilah Mazhab Cinta dalam Islam, yaitu dengan cinta, duka setapak akan jadi indah [08:51]. Mawaddah yang sejati adalah kesiapan menjalani duka dan masalah rumah tangga, karena ikatan itu telah didasari cinta yang tulus dan diikat di atas pernikahan yang mulia.
Wallahu a’lam bishawab.

