NABAWI TV – Setiap kali menghadiri walimah pernikahan, kita pasti mendengar doa yang tak asing: Sakinah, Mawaddah, wa Rahmah. Namun, di antara ketiga elemen tersebut, kata Sakinah sering kali menjadi fondasi yang paling dicari. Apa sebenarnya makna Sakinah itu, dan bagaimana cara pasangan muslim mendapatkan ketenangan yang dijanjikan Allah Swt. dalam rumah tangga?
Dalam episode ketiga Ngobrolin Rumah Tangga, Buya Yahya menjelaskan bahwa Sakinah adalah ketenangan yang bersifat timbal balik [00:47].
Hendaknya seorang suami itu menjadi sebab ketenangan sang istri. Seorang istri menjadi sebab ketenangan sang suami. Seorang suami di luar hiruk pikuk, pulang ke rumah agar kau menemukan ketenangan di saat kau bertemu dengan istri.
— Buya Yahya [00:58]
Prinsip ini adalah istilah Qur’ani. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an tentang pasangan: Litas’kunu ilaiha (agar kamu merasa tenang kepadanya) [05:07]. Untuk mencapai ketenangan ini, kuncinya adalah ilmu, khususnya ilmu memahami psikologi pasangan.
Kunci Emas Sakinah: Jangan Paksa Pasangan Mencintai dengan Caramu
Ketenangan akan mudah didapatkan di rumah tangga jika kita memahami cara pasangan mencintai. Buya Yahya mengingatkan, jangan pernah memaksa pasangan untuk memahami cara kita mencintai, apalagi menuntut mereka mencintai dengan cara yang kita inginkan [01:46].
Terdapat dua gaya atau yang disebut Buya Yahya sebagai ‘mazhab’ dalam mengekspresikan cinta dan tanggung jawab dalam rumah tangga:
Mengenali Dua Mazhab Cinta Pasangan
- Mazhab Romantis [02:03] Pasangan dengan mazhab ini cenderung renyah dan ekspresif. Mereka menunjukkan cinta dengan kata-kata manis, sapaan mesra, dan ungkapan-ungkapan seperti “sayangku,” “hatiku,” atau “semestaku.”
- Gaya Mas’uliyah (Tanggung Jawab) [02:25] Pasangan ini sulit bersikap romantis dengan kata-kata, tetapi mereka menampakkan cinta melalui tindakan dan tanggung jawab. Contohnya, seorang suami mungkin pulang dan langsung menanyakan urusan rumah: “Sudah beres ya? AC-nya nyala? Dapurnya sudah bersih?” Pertanyaan ini bukan basa-basi, tetapi wujud kepedulian karena ia memikirkan kenyamanan orang yang dicintainya (istrinya) [02:45].
Pasangan harus menyadari bahwa gaya cinta suaminya yang berbeda dengan suami orang lain tidak berarti ia tidak romantis atau tidak cinta [02:57]. Ketenangan didapat ketika kita menerima ekspresi cinta pasangan, bukan menuntut ia meniru orang lain.
Prinsip Agung Sayyidah Khadijah: Rumus Ketenangan Sejati
Selain memahami mazhab cinta, Buya Yahya menyampaikan rumus Sakinah yang paling cerdas, yang dipraktikkan oleh Sayyidah Khadijah al-Kubra, istri tercinta Baginda Nabi ﷺ.
Sayyidah Khadijah adalah wanita paling beruntung di dunia dan akhirat karena mendapatkan suami semulia Nabi Muhammad ﷺ [03:32]. Ketika dikatakan kepadanya, “Wahai Khadijah, alangkah senangnya engkau menikah dengan Nabi Muhammad,” beliau menjawab:
Demi Allah, semenjak aku menikah dengan beliau, aku tidak berpikir bagaimana aku bersenang-senang dengan Nabi Muhammad, tapi yang aku pikirkan adalah bagaimana Nabi Muhammad senang dengan aku.
— Sayyidah Khadijah al-Kubra [03:54]
Inilah rumus Sakinah yang utama: Fokus melakukan kewajiban, bukan sibuk menuntut hak.
Jika seseorang menggunakan prinsip ini, rumah tangganya akan indah. Sebaliknya, ketika Anda mulai menuntut pasangan, Anda telah memberikan pelajaran pertama kepadanya untuk menuntut Anda juga [04:08].
Rumus sederhana yang melengkapi prinsip Khadijah adalah:
- Mudah meminta maaf.
- Mudah memaafkan [03:13].
Empati adalah Pelabuhan (Litas’kunu Ilaiha)
Ketenangan di rumah tangga juga sangat dipengaruhi oleh kesiapan pasangan untuk saling berempati dan memahami kondisi batin masing-masing.
Contohnya, Buya Yahya mengingatkan suami untuk memahami ketika istri tiba-tiba berkata kasar atau sensitif—barangkali ia sedang mengalami masa menjelang haid [04:48].
Demikian pula, istri harus berempati ketika suami pulang ke rumah tanpa senyum dan marah-marah [04:58]. Daripada ikut marah, seorang istri yang cerdas akan berpikir, “Wah, saya harus menghibur dia. Jangan-jangan di luar ia ketemu sesuatu yang betul-betul berat.”
Jangan sampai yang terjadi justru sebaliknya [05:14]:
- Seorang istri melihat jam, lalu berpikir, “Ya Allah, sudah jam 4.00, sebentar lagi datang dia.”
- Seorang suami di luar berpikir, “Aduh, mau pulang ketemu dia lagi,” dan akhirnya keliling ke mana-mana.
Jadikan pasangan Anda sebagai tempat untuk tenang, senang, dan indah. Kunci Sakinah adalah berhenti memikirkan kesenangan diri sendiri dan mulai berpikir bagaimana membahagiakan pasangan [05:33].
Wallahu a’lam bishawab.

