NABAWI TV – Diskursus keagamaan sering kali terjebak dalam masalah permukaan, mengabaikan fondasi ideologis dan tantangan filosofis yang dihadapi generasi masa kini. Padahal, para dai modern dituntut bukan hanya memberikan jawaban normatif, tetapi juga membongkar akar pertanyaan yang muncul dari paham-paham kontemporer. Syekh Ahmad Al Azhari, seorang visiting fellow di Taba Foundation, mengungkap pentingnya keterlibatan ulama dalam dua bidang krusial: penelitian fondasi keilmuan Islam dan inisiatif dakwah yang secara spesifik menyasar keraguan anak muda.
Taba Foundation: Jembatan Sains dan Masyarakat
Taba Foundation, yang didirikan sekitar 20 tahun lalu oleh Habib Ali Al-Jifri, memiliki misi utama menjembatani kesenjangan. Kesenjangan ini bukan hanya antara ulama dan masyarakat, tetapi juga antara lembaga-lembaga dakwah itu sendiri. Taba bergerak melalui dua pilar utama: Taba Research dan Taba Initiatives [01:43].
Taba Research fokus pada proyek-proyek fondasi ilmu pengetahuan (Uṣūl al-Maʿārif), seperti pembahasan tentang hierarki ilmu di mana metafisika berada di puncak. Di dalamnya, mereka mengkaji konsep epistemologis dasar, yaitu al-ashyā’ ka-mā hiya (hakikat sesuatu sebagaimana adanya) [02:04].
Syekh Ahmad juga menyinggung mispersepsi lama yang disebarkan oleh sebagian Orientalis, yakni anggapan bahwa Imam Abu Hamid Al-Ghazali-lah yang “membunuh” filsafat [02:34]. Pandangan ini, menurut beliau, kini ditertawakan di kalangan akademisi Barat sendiri. Faktanya, Imam Al-Ghazali justru berkontribusi besar dalam penyebaran logika—instrumen utama filsafat—ke berbagai disiplin ilmu Islam.
Sementara itu, Taba Initiatives menggarap diskursus publik melalui tiga inisiatif:
- Sou’al (Pertanyaan): Berfokus pada pertanyaan-pertanyaan besar yang mengganjal di benak anak muda (eksistensi Tuhan, takdir, dan hukum syariat). Slogannya: “It’s my right to ask” [08:53]. Inisiatif ini berupaya mengoreksi pemahaman keliru dari sebagian penceramah yang mengharamkan bertanya tentang pondasi agama, dengan memberikan pemahaman yang benar atas ayat dan hadits terkait [09:36].
- Sanad Network: Bertujuan melawan terorisme dari perspektif pemikiran, dengan membedah dan merespons misinterpretasi teks suci yang digunakan oleh kelompok ekstremis [01:13:00].
- Tazkiya: Berorientasi pada pengembangan spiritual dan batin seseorang [01:13:25].
Filsafat dalam Strategi Dakwah: Mengapa “Kepentingan” Lebih Penting dari “Kebenaran”?
Filsafat di dunia Muslim sayangnya seringkali dikaitkan dengan kepercayaan yang salah [02:54:00]. Padahal, bagi seorang dai, pemahaman terhadap filsafat kontemporer sangat krusial. Syekh Ahmad menjelaskan bagaimana filsafat Relativisme dan Postmodernisme memengaruhi cara generasi muda berpikir.
Relativisme, misalnya, yang menyatakan bahwa tidak ada kebenaran yang absolut, tanpa disadari merasuki benak sebagian Muslim ketika mereka membenarkan tindakan buruk dengan alasan bahwa “orang lain juga melakukannya” [40:41].
Lebih mendalam lagi, Syekh Ahmad mengungkap tantangan dakwah dari Postmodernisme:
Kini, pertanyaan dari sebagian pemuda bukan lagi tentang, ‘Apakah Islam itu benar (truthful) atau salah (false)?’ Tetapi, pertanyaannya berubah menjadi, ‘Mengapa saya harus peduli (Why should I care)?’ [43:41]
Postmodernisme turut meruntuhkan hubungan antara Kebenaran, Kebaikan, dan Keindahan (seperti terlihat dalam seni postmodern), yang pada akhirnya membuat orang memandang alam semesta seolah-olah tidak memiliki tujuan atau makna yang hakiki [04:09:43]. Dai, dengan memahami filosofi ini, dapat menyesuaikan gaya dakwah mereka untuk menjawab pertanyaan yang sesungguhnya: mencari makna dalam eksistensi.
Menghidupkan Tasawwuf & Thariqah Bā ʿAlawī
Tujuan akhir filsafat (kesempurnaan diri melalui penalaran) dan Tasawwuf (kesempurnaan diri melalui praktik spiritual) adalah serupa, hanya pendekatannya yang berbeda [05:14:2]. Beliau juga memberikan peringatan keras untuk tidak mencoba membuktikan realitas spiritual dengan ilmu empiris (sains modern), karena teori ilmiah bersifat falsifiable (dapat dibuktikan salah), sementara kebenaran agama bersifat abadi [05:41:43].
Mengenai Thariqah Bā ʿAlawī, Syekh Ahmad merangkumnya dari perkataan Sayyid Hussein Al-Sakkaf:
- Menyempurnakan ilmu Aqidah.
- Mempraktikkan agama sesuai Al-Qur’an dan Sunnah, dengan penekanan kuat pada Sunnah batin dan lahiriah Rasulullah ﷺ [59:58].
- Menyadari prioritas (priorities) yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ [01:00:32].
Prinsip kunci Thariqah Bā ʿAlawī lainnya adalah Musyahadah al-Minan (menyaksikan karunia dan nikmat Allah secara berkelanjutan) [01:04:39]. Kondisi batin ini akan melahirkan rasa malu untuk bermaksiat dan mengarahkan seseorang untuk menyaksikan Sang Pemberi Karunia itu sendiri.
Tantangan bagi Tasawwuf saat ini adalah karena ajaran ini pernah tergerus oleh munculnya kultur Islam alternatif yang ekstrem literalis. Oleh karena itu, Tasawwuf perlu:
- Membangun diskursus keagamaan yang menghormati akal dan hati.
- Berhenti berbicara tentang Generasi Z, dan mulai berbicara kepada mereka [01:19:07].
- Menghidupkan kembali koneksi langsung praktik Sufi kepada Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga tidak terkesan sebagai bid’ah atau sekadar kutipan dari kitab ulama belakangan [01:20:07].
Prioritas Mendesak: Mengembangkan Husn Adz-Dzann kepada Allah
Ketika ditanya mengenai isu paling mendesak yang harus ditangani Ummah, Syekh Ahmad mengingatkan bahwa persatuan makro (Ummah secara keseluruhan) tidak mungkin tercapai jika persatuan mikro (keluarga, lingkungan, masjid) tidak terbangun [01:24:01]. Keanekaragaman (diversity) itu sendiri adalah rahmat, sebagaimana disandarkan pada hadits Nabi ﷺ [01:22:13].
Namun, prioritas utama bagi para ulama adalah mengajarkan umat untuk memiliki Husn Adz-Dzann (prasangka baik atau Good Will) kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Barangsiapa yang menyangka bahwa kelembutan Allah telah terpisah dari takdir-Nya, maka itu adalah akibat dari pendeknya pandangan (bashirah).
— Ibn ‘Athaillah Al-Sakandari dalam Al-Hikam [01:29:01]
Kemampuan melihat kebaikan yang tersembunyi di balik musibah adalah kunci spiritual. Ketika seseorang memiliki Husn Adz-Dzann kepada Sang Pencipta, secara otomatis ia akan mengembangkan Husn Adz-Dzann kepada sesama makhluk-Nya, dan dari situlah cinta—fondasi persatuan—dimulai [01:32:16].
Wallahu a’lam bishawab.

