NABAWI TV – Rabithah Alawiyah DPW DKI Jakarta menggelar Bedah Buku dan Seminar bertajuk “Penguatan Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja)” yang menampilkan Prof. Dr. Habib Muhammad Baharun, jurnalis, akademisi, dan pendakwah.
Dalam seminar tersebut, Prof. Baharun memaparkan bahwa tantangan terbesar umat Islam di era digital adalah menghadapi Al-Mafahim Al-Haddamah (paham-paham destruktif) yang bertebaran dan mengancam akidah umat.
Santri Tiga Dunia dan Visi Dakwah
Acara ini sekaligus membedah buku Santri Tiga Dunia yang ditulis oleh Erdi Nasrul, yang mengisahkan perjalanan hidup Prof. Baharun dalam tiga ranah: Jurnalisme, Akademisi (Kampus), dan Dakwah (Pegiat).
Prof. Baharun, seorang alumnus Pesantren Sidogiri, menjelaskan bahwa buku tersebut bertujuan memotivasi para santri dan mahasiswa untuk tidak hanya berkutat di lingkungan pesantren.
Saya berharap [pengalaman] ini bisa memotivasi santri dan mahasiswa-mahasiswa saya ini penting. Barangkali pengalaman-pengalaman yang belum ditempuh oleh adik-adik kita… bisa termotivasi tidak hanya berkutat di sekitar lingkungan pesantren, ujar Prof. Baharun.
Beliau juga mengingatkan pentingnya konsep belajar yang tidak pernah tamat, mengutip Ibnu Mubarak, “Lā yazālul ‘ālimu man ṭalab al-‘ilma, fa iżā ẓanna annahu ‘ālimun fa huwa jāhilun” (Orang yang disebut alim adalah yang terus belajar, dan jika ia merasa dirinya sudah alim, maka ia bodoh lagi).
Benteng Akidah: Rusaknya Aswaja, Rusaknya NKRI
Prof. Baharun menegaskan bahwa Aswaja adalah pilar utama ketahanan nasional Indonesia. Ia bahkan pernah menyampaikan dalam forum Lemhanas bahwa:
Mayoritas penduduk Indonesia ini Islamnya Ahlussunnah Wal Jama’ah. Negara harus bertanggung jawab Jangan sampai rusak Ahlussunnah Wal Jama’ah, sebab rusaknya Ahlussunnah Wal Jama’ah, rusaknya NKRI.
Menurut beliau, Aswaja adalah Umatan Wasata (umat pertengahan) yang mampu bersikap adil, tidak ekstrem kanan (seperti Khawarij dan takfiri yang berlebih-lebihan/Gulu) maupun ekstrem kiri (seperti kaum liberal yang mengurangi/meremehkan syariat).
Tantangan Kekinian: Paham Destruktif dan “Gelas Kosong”
Tantangan umat saat ini adalah penyebaran paham destruktif (Al-Mafahim Al-Haddamah) yang masif di media sosial, termasuk:
- Ekstremisme dan Takfiri: Ciri utamanya adalah mudah mengkafirkan sesama Muslim, warisan dari pemikiran Khawarij.
- Rasionalisme Berlebihan: Paham Mu’tazilah yang mendahulukan akal (logika) sebelum wahyu, atau sebaliknya, Ẓāhiriyah (tekstualis) yang menolak logika sama sekali.
- Fatalisme (Jabariah): Paham yang menolak ikhtiar (Buat apa saya kerja kalau Allah menjadikan saya miskin?).
Fenomena yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi “Gelas Kosong” (anak-anak remaja) yang minim porsi pendidikan agama.
Remaja kita ini seperti gelas yang kosong. Siapa yang mengisi lebih dulu, itu dianggap benar. Kalau kita tidak mengisi gelas kosong itu, orang lain akan mengisi gelas kosong itu dan dianggap itu paling jernih.
Strategi Melawan dengan Ilmu (Lawan dengan Ilmu)
Prof. Baharun menyarankan bahwa melawan paham-paham sesat tidak boleh dengan kekerasan, melainkan dengan ilmu dan strategi. Beliau mengusulkan agar Rabithah Alawiyah dan lembaga Aswaja lainnya segera:
- Membentuk Aswaja Center dan Lembaga Bahsul Masail: Untuk memberikan penyegaran dan penguatan pemahaman Aswaja secara terus-menerus.
- Mendorong Studi Komparatif: Santri dan mahasiswa harus didorong untuk membaca buku-buku paham lain (Syiah, Liberal, dll.) dan kemudian mendiskusikannya agar mereka memiliki kemampuan membantah (kritisi) dengan referensi yang kuat.
- Memanfaatkan Media Sosial: Mengingat hoax yang terus diulang-ulang di media sosial dapat dianggap sebagai kebenaran semu, umat Islam harus terus memberikan sejarah dan fakta yang benar secara terbuka untuk melawan narasi yang mendistorsi sejarah.
Melawan [paham sesat] itu ya dengan ilmu. Dilawan dengan metode, dilawan dengan strategi, bukan dengan carok.
Wallahu a’lam bishawab.

