Produser ‘Hafiz Indonesia’: Hijrah Setelah Hadiah Haji dan Nasihat ‘Ciptakan Keadaan’

Erwin Raja, pencipta program TV populer, ceritakan momen terketuknya hati karena hafalan Qur'an anaknya, prinsip "jangan bergantung keadaan," dan keputusannya mewakafkan diri di jalan Allah ﷻ.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Di balik gemerlap dunia pertelevisian, terdapat kisah spiritual yang mengubah hidup seorang produser, Erwin Amirul Yusuf Raja, atau yang akrab disapa Ayah Kembar. Dalam Kalaam #Podcast Nabawi TV, beliau menceritakan perjalanan hijrahnya yang dipicu oleh Al-Qur’an, yang puncaknya ditandai dengan hadiah istimewa dari Allah ﷻ.

Momen Pencerahan di Saudi dan Nasihat Emas

Erwin Raja, yang dikenal sebagai salah satu konseptor program Hafiz Indonesia, menceritakan awal mula hatinya terketuk saat menjalani syuting 14 hari di Saudi Arabia untuk program Ramadan bersama Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) [29:47].

Di tengah kesulitan logistik syuting, beliau mendapatkan nasihat yang mengubah perspektif hidupnya:

Jangan bergantung sama keadaan. Ciptakanlah sebuah keadaan.
Ustadz Bachtiar Nasir [32:57]

Nasihat ini menjadi motor penggerak bagi Erwin untuk tidak lagi menjadikan keadaan sebagai alasan, melainkan menciptakan peluang, terutama dalam aspek spiritual.

Keajaiban Al-Qur’an dan Haji Mujamalah

Momen terberat dan penentu hijrahnya adalah ketika ia menyaksikan langsung kehebatan peserta anak-anak Hafiz Indonesia [34:32]. Hal ini membuatnya merasa minder sebagai seorang ayah.

Dengan niat kuat, ia berkorban waktu dan harta—pindah rumah ke Ciputat (Tangsel) agar anak kembarnya bisa dekat dengan guru mengaji. Beliau menanamkan niat pahala jariah:

Ya Allah, semoga setiap putaran roda motor Ana ini kau jadikan pahala yang berlipat, pahala jariah. [36:50]

Alhamdulillah, atas izin Allah ﷻ, anak kembarnya di usia 3 tahun sudah hafal 2 juz [37:12]. Keajaiban yang datang tak terduga:

Wasīlah dari hafalan Qur’an-nya kembar inilah yang kemudian membuat Ana, istri Ana, dan dua anak kembar Ana berangkat haji gratis, undangan dari Saudi Arabia. [37:21,37:33]

Sekembalinya dari Haji, Erwin dan istri berikrar untuk merubah total orientasi hidup mereka. Beliau resmi mengundurkan diri dari karier TV-nya dengan tekad: “Kita wakafkan diri kita untuk agama-Nya Allah.” [38:55, 40:04].

Membangun Mentalitas Integritas, Menolak ‘Gratisan’

Setelah melewati perjuangan hijrah selama dua tahun penuh tantangan finansial [41:13], Erwin Raja kini fokus membangun Pondok Pesantren Tahfizh Arsyada Li Mardotillah di Ciputat (dan segera di Leuwiliang).

Pondok ini menerapkan kebijakan yang unik: tidak gratis, namun biaya disesuaikan dengan kemampuan santri. Beliau menjelaskan alasannya:

Kita tuh pengin ngedidik Muslim itu punya integritas. Muslim itu jangan punya mental gratisan. Kalau lu bisa beli dari saudara lu, lu bisa bayar ke saudara lu, lu bayar, lu beli. [24:25]

Prinsip ini berakar dari keteladanan yang ia saksikan sendiri, di mana orang-orang saleh di Tarim, Yaman, menolak difoto saat menerima bantuan, karena sangat menjaga Ifah (harga diri dan martabat) mereka [22:19].

Sosok Syekh Ali Jaber

Erwin juga mengenang mendiang Syekh Ali Jaber (yang ia usulkan menjadi juri Hafiz Indonesia), sebagai salah satu sosok yang menguatkannya selama masa hijrah.

Beliau itu penyayang anak-anak… bahkan beliau punya hati yang sangat, sangat lembut… Memang orang Madinah itu begitu, hatinya lembut-lembut. [42:59,46:34]

Dari perjalanan hidupnya, Erwin Raja memberikan pelajaran bahwa kunci mengatasi kesulitan hidup adalah meyakini kemuliaan Al-Qur’an dan menanggalkan ketergantungan pada manusia atau keadaan, serta memulai niat hijrah dengan persiapan yang matang.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar