NABAWI TV – Di tengah ibadah puasa Ramadan yang sedang kita jalani, kerap muncul pertanyaan: mengapa Allah ﷻ mewajibkan puasa? Bukankah lebih baik menjanjikan rezeki atau kesembuhan?
Dalam kajian di Rubath Nurul Fajri 2025, Habib Abdurrahman Assegaf menjawab pertanyaan ini dengan menegaskan kembali tujuan sejati puasa, yaitu mencapai derajat ketakwaan (taqwa).
Diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian juga diwajibkan untuk berpuasa. Tujuan puasa apa? La’allakum tattaqūn (Agar kalian menjadi orang yang bertakwa).
— Habib Abdurrahman Assegaf [00:47]
Habib Abdurrahman menjelaskan bahwa Allah ﷻ tidak perlu menjanjikan rezeki secara langsung, karena janji ketakwaan sudah mencakup segalanya, sebagaimana firman Allah ﷻ:
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya (2). Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.
— (Q.S. At-Talaq: 2-3) [01:38]
Ini berarti, puasa Ramadan adalah program intensif yang Allah berikan agar hamba-Nya mencapai taqwa, sekaligus mendapatkan solusi tuntas bagi masalah rezeki, rumah tangga, dan kesulitan hidup lainnya [03:34].
Dua Kebahagiaan Orang Berpuasa
Habib Abdurrahman Assegaf kemudian mengupas hadits Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: Liṣ-ṣā’imi farḥatāni (Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan) [01:41].
1. Kebahagiaan Dunia (Farhatun ‘inda fiṭrihi)
Kebahagiaan pertama dirasakan saat berbuka. Kegembiraan ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi karena:
- Perubahan Hukum: Yang tadinya haram (makan dan minum) menjadi halal. Perubahan hukum dari haram menjadi halal mendatangkan kegembiraan batiniah bagi seorang mukmin [08:50].
- Melaksanakan Sunnah Terbaik: Orang yang berpuasa akan menjadi orang baik di sisi Allah ﷻ karena bersegera berbuka (La yazālu n-nāsu bikhairin mā ‘ajjalū al-fiṭra) [10:33]. Menunda buka puasa adalah kebiasaan Ahlul Kitab.
- Doa Dikabulkan: Waktu menjelang berbuka adalah waktu yang Mustajab. Doa orang yang berpuasa saat berbuka termasuk tiga golongan doa yang tidak ditolak oleh Allah ﷻ [12:41, 13:46].
2. Kebahagiaan Akhirat (Farhatun ‘inda liqā’i Rabbihi)
Kebahagiaan kedua dirasakan saat berjumpa dengan Allah ﷻ di hari Kiamat:
- Sambutan Hangat Allah: Orang yang puasa akan disambut oleh Allah ﷻ dengan sambutan yang hangat [33:15], tidak seperti mereka yang tidak berpuasa (tanpa uzur) yang akan dicueki dan tidak dihiraukan.
- Mulut yang Wangi: Bau mulut orang yang berpuasa, meskipun tidak sedap di dunia, kelak di sisi Allah ﷻ akan lebih wangi daripada minyak misik [38:05]. Sebaliknya, orang yang tidak puasa, kelak mulutnya akan lebih bau daripada bangkai [38:49].
- Tiada Lapar dan Haus: Mereka yang menahan lapar dan haus karena puasa di dunia tidak akan merasakan lapar dan haus di Padang Mahsyar [39:36].
- Pintu Khusus Surga: Allah ﷻ menyediakan satu pintu khusus di Surga, bernama Ar-Rayyān (yang tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang-orang yang berpuasa) [42:52]. Pintu tersebut akan memanggil dan menyambut mereka dengan penuh kegembiraan.
Gaya Hidup Taqwa Harus Berlanjut
Ramadan adalah pesantren kilat yang mendidik umat Islam untuk memiliki gaya hidup orang yang bertakwa [08:25]. Gaya hidup ini ditunjukkan melalui:
- Perhatian besar terhadap salat tepat waktu [11:59].
- Konsisten menghidupkan malam (Qiyamulail) [13:23].
- Istiqamah membaca Al-Qur’an [20:31].
- Meningkatkan sedekah [29:12].
- Sangat berhati-hati dalam hukum (ikhtiar), bahkan saat menelan air liur sendiri [39:39].
Habib Abdurrahman mengingatkan, setelah Ramadan berlalu, taqwa tidak boleh ikut pergi. Sesuai pesan ulama: “Kun rabbaniyyah wa la takun ramadhaniyyah” (Jadilah hamba Allah, jangan menjadi hamba Ramadan) [38:29].
Wallahu a’lam bishawab.

