Pertanda ‘Islam Segera Bersatu’: Gus Ajir Ubaidillah Ungkap Pintu Harapan

Gus Ajir Ubaidillah mengungkap bahwa persatuan Islam bukan sekadar utopia. Membedah resep dan harapan untuk menghadapi badai perpecahan dan adu domba.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

Bagi sebagian orang, membicarakan “persatuan Islam” mungkin terasa seperti utopia, sebuah mimpi indah yang mustahil diwujudkan di tengah carut-marutnya perbedaan mazhab, ormas, dan pandangan politik. Namun, jangan pernah berputus asa. Kekuatan terbesar umat Islam adalah berprasangka baik (husnudzon) kepada Allah, Dzat Yang Maha Kuasa mempersatukan hati yang berserakan.

Dalam program Towards Unity di Nabawi TV, Gus Ajir Ubaidillah hadir memberikan landasan kuat, mengapa persatuan Islam bukan sekadar khayalan, melainkan janji dan harapan yang harus terus diperjuangkan.

Jejak Persatuan Nabi ﷺ: Arsitek Peradaban

Sejak awal, tugas utama Rasulullah Muhammad ﷺ adalah merangkai kembali umat manusia yang terpecah belah oleh fanatisme jahiliyah.

1. Kebijaksanaan Hajar Aswad Lima tahun sebelum kenabian, terjadi perselisihan hebat di Mekkah tentang siapa yang paling berhak meletakkan kembali Hajar Aswad setelah renovasi Ka’bah. Konflik ini nyaris memicu pertumpahan darah. Nabi ﷺ tampil sebagai juru damai. Beliau membentangkan kain, mempersilakan setiap kabilah mendelegasikan satu orang untuk memegang ujung kain, dan Nabi ﷺ sendiri yang meletakkan batu mulia itu. [02:00]

Ini adalah pelajaran pertama: Persatuan dicapai bukan dengan mengeliminasi pihak lain, melainkan dengan melibatkan semua pihak.

2. Fondasi Muakhah di Madinah Ketika hijrah ke Madinah, hal pertama yang beliau lakukan adalah mengikat tali persaudaraan (Muakhah) antara kaum Muhajirin dan Anshar. Kisah legendaris Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’ menjadi contoh nyata bagaimana ukhuwah di atas iman mengalahkan kepentingan materi.

Persaudaraan adalah hal yang sangat fundamental dalam membangun sebuah peradaban yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. [05:23]

Senjata Utama Setan: Adu Domba

Gus Ajir mengingatkan, setan telah berputus asa untuk disembah oleh umat Islam, namun tidak pernah putus asa untuk memecah belah mereka. Perpecahan adalah penyakit paling berbahaya bagi umat, melampaui bahaya musuh di depan mata.

Perjuangan Melawan Bangsa Sendiri Mengutip proklamator Ir. Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena jelas melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.” [08:32]

Sejarah politik Divide et Impera (Pecah Belah dan Kuasai) Belanda membuktikan bahwa konflik internal seperti Perang Padri, perpecahan Kerajaan Banten (Sultan Ageng vs. Sultan Haji), dan Mataram Islam, selalu menjadi pintu masuk bagi penjajah untuk memonopoli kekuasaan dan ekonomi.

Ancaman terbesar bagi kita adalah ketika hasutan dan provokasi sudah dilakukan sesama kita, membuat kita sibuk menjatuhkan satu sama lain, dan melupakan isu besar seperti rendahnya kualitas hidup dan pendidikan umat. [08:41]

Ancaman Modern: Buzzer dan Fitnah Digital

Di era digital, politik adu domba berevolusi menjadi lebih halus, namun lebih masif: kemunculan buzzer dan akun anonim.

Gerombolan pemecah belah telah berevolusi menjadi buzzer yang selalu mencari kesalahan lawan dan menjelek-jelekkannya. [18:47]

Aktivitas buzzer ini adalah bentuk modern dari Namimah (adu domba). Mereka sering melakukan cherry picking potongan video dai tertentu lalu menyebarkannya dengan data yang tidak utuh, menimbulkan cacian dan perdebatan kusir di kalangan awam.

Nabi ﷺ sangat membenci sosok ini: “Sungguh yang paling dibenci oleh Allah dari kalian adalah mereka yang berjalan ke sana kemari untuk mengadu domba, memecah belah di antara mereka yang bersaudara, serta mencari-cari kesalahan.” [22:10]

Solusi Ampuh: Diam dan Gerakan Islah

Bagaimana cara menghadapi provokasi digital yang tanpa henti? Gus Ajir memberikan dua kunci ampuh:

1. Jangan Tanggapi Provokator Kunci Al-Qur’an (QS. Al-Hujurat 6 dan Al-Qalam 11) adalah jangan ditanggapi! Siapapun yang menyebarkan keburukan seorang Muslim—baik berita itu benar (gossip) maupun dusta (fitnah)—adalah orang yang tercela (fasiq).

Bertobatlah, ada gerombolan makhluk yang dipandang buruk di mata Islam, yaitu gerombolan pemecah belah umat. [18:17]

Jika tidak mampu berkata baik, maka diamlah. “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia hanya berkata kebaikan atau diam.” [22:41]

2. Melawan dengan Gerakan Islah Provokasi harus dilawan, tetapi bukan dengan provokasi tandingan, melainkan dengan Gerakan Islah (rekonciliasi/perdamaian).

Apakah kalian ingin aku kabarkan mengenai amalan yang lebih utama daripada keutamaan puasa, shalat, dan sedekah? Yaitu mendamaikan dua kelompok yang bertikai. [28:14]

Allah SWT telah berjanji, jika dua pihak juru damai memang ikhlas menginginkan perbaikan dalam suatu perselisihan, niscaya Allah akan memberikan taufik kepada mereka (QS. An-Nisa 35). Ini adalah janji yang berlaku untuk rumah tangga, kelompok, dan bangsa.

Mari kita galakkan gerakan Islah ini. Sebab, bangsa kita merdeka bukan hanya karena peran satu golongan, melainkan karena para pendahulu kita berkenan duduk bersama, bahu-membahu mengusir penjajah. Perbedaan adalah keniscayaan, namun persatuan adalah kodrat kita sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar