Pernahkah Sahabat Nabawi mendengar celotehan seperti, “Ah, agama itu candu, cuma buat orang yang malas mikir!” atau “Kalau sudah bicara iman, logikanya dimatikan dulu ya!”?
Stigma bahwa iman bertentangan dengan akal sehat seolah menjadi makanan sehari-hari di era modern ini. Sebagian orang mengira bahwa menjadi beriman berarti harus menelan mentah-mentah segala doktrin tanpa boleh bertanya. Padahal, benarkah Islam mengajarkan iman yang “buta” seperti itu?
Dalam program Towards Unity di Nabawi TV, intelektual muda NU, Gus Abdul Wahab Ahmad, mengupas tuntas relasi mesra antara Iman dan Logika. Beliau membantah keras anggapan bahwa orang beriman harus membuang akalnya. Justru sebaliknya, iman yang kokoh mustahil terwujud tanpa pondasi rasional yang kuat.
Al-Qur’an Mengajak Kita Berpikir, Bukan Sekadar “Pokoknya Percaya”
Gus Wahab membuka wawasan kita dengan fakta menarik: Al-Qur’an sendiri menggunakan argumen rasional untuk membuktikan kebenaran. Allah SWT tidak hanya memerintah dengan kata “pokoknya”, tapi mengajak manusia berdialog menggunakan akal sehatnya.
Salah satu contoh paling epik adalah kisah Nabi Ibrahim AS saat menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Ketika diinterogasi, Nabi Ibrahim menggunakan “jebakan logika” yang cerdas:
Sebenarnya patung besar ini yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara. (QS. Al-Anbiya: 63)
Jawaban satir ini memaksa kaumnya berpikir: Kalau patung itu Tuhan, kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak bisa membela diri? Logika sederhana ini meruntuhkan keyakinan syirik mereka seketika.
Begitu pula saat Al-Qur’an membantah konsep banyak tuhan (politeisme). Logikanya sederhana: Jika ada dua Tuhan, pasti alam semesta hancur karena rebutan kekuasaan.
Kalau Tuhan lebih dari satu, maka mereka tidak mungkin mempunyai pikiran yang sama sehingga dunia akan hancur menjadi area perebutan kekuasaan. [03:39]
Ghaib ≠ Tidak Masuk Akal
Seringkali orang ateis atau skeptis menyerang agama dengan dalih: “Surga, Neraka, Malaikat itu tidak ilmiah karena tidak bisa dilihat (ghaib). Berarti itu tidak masuk akal!”
Gus Wahab meluruskan kerancuan berpikir ini. Sesuatu yang Ghaib (tidak terlihat) bukan berarti Irasional (tidak masuk akal). Istilah yang tepat adalah: Belum terverifikasi secara empiris.
Beliau memberikan analogi yang sangat relate dengan dunia medis: Zaman dahulu, orang tidak percaya adanya virus atau kuman karena tidak bisa dilihat mata telanjang. Apakah keberadaan kuman saat itu tidak masuk akal? Tentu masuk akal, hanya saja alatnya (mikroskop) belum ditemukan.
Hanya orang bodohlah yang mengatakan bahwa keberadaan virus dan kuman adalah irasional hanya karena mereka belum pernah melihatnya. [06:34]
Begitu juga dengan akhirat. Saat ini indra kita belum mampu mengaksesnya, tapi secara logika (rasio), keberadaannya adalah sebuah probabilitas yang sangat mungkin terjadi, apalagi jika informasinya datang dari sumber terpercaya (Al-Qur’an dan Nabi) yang rekam jejak kejujurannya sudah terbukti.
Tuhan Bukan Objek Penelitian Laboratorium
Kesalahan fatal manusia modern adalah mencoba mengukur Tuhan dengan metode sains materialisme. Mereka ingin Tuhan bisa diobservasi, diukur, dan diteliti layaknya batu atau bakteri di laboratorium.
Gus Wahab menegaskan: Tuhan bukan objek fisik (jisim). Jika Tuhan bisa diobservasi dan dibatasi ruang-waktu, berarti Dia bukan Tuhan, melainkan makhluk. Tuhan adalah Pencipta ruang dan waktu itu sendiri, sehingga Dia berada di luar jangkauan metode penelitian material.
Orang yang mencari Tuhan dalam batas-batas material… maka dia dapat dipastikan akan berakhir menjadi ateis. Karena Tuhan memang tidak seperti itu. Dia mencari Tuhan dengan metode yang salah. [12:02]
Peran Vital Akal dalam Ilmu Agama
Bagi yang masih alergi dengan “akal” dalam beragama, Gus Wahab mengingatkan bahwa seluruh bangunan ilmu Islam—mulai dari Tafsir, Hadits, Fiqih, hingga Ushul Fiqih—semuanya dibangun di atas Dalil Rasional (Akal).
- Ilmu Hadits: Menentukan hadits itu shahih atau dhaif butuh logika dan analisis perawi. Rasulullah tidak pernah membagi hadits menjadi shahih/hasan/dhaif, itu kerja akal para ulama.
- Ilmu Fiqih: Menentukan hukum halal-haram lewat Qiyas (analogi) butuh kecerdasan akal tingkat tinggi.
Jadi, mempertentangkan Iman dan Logika adalah tindakan yang kurang piknik secara intelektual.
Kesimpulannya: Jangan takut menggunakan akal dalam beragama. Justru, akal adalah perangkat pertama yang Allah instal dalam diri kita untuk mengenal-Nya. Seperti pesan tersirat Gus Wahab: “Rasio yang lurus akan berbuah pada keimanan yang kokoh.”
Wallahu a’lam bishawab.

