Ziarah Kebangsaan Ulama Jakarta di Makam Proklamator

Liputan momen bersejarah Ziarah Kebangsaan para Ulama dan Habaib Jakarta yang menundukkan kepala di makam Proklamator RI sebagai penghormatan.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

Pernahkah kita merenung, di balik hiruk-pikuk perayaan kemerdekaan dengan lomba dan pesta, ada satu hal fundamental yang sering terlupakan: Rasa Syukur dan Terima Kasih.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah cuma-cuma yang turun dari langit, melainkan buah dari tetesan darah, keringat, dan doa para syuhada. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada para pendahulu, Dewan Pimpinan Pusat Forum Ulama dan Habaib (FUHAB) Provinsi DKI Jakarta kembali menggelar tradisi mulia: Ziarah ke Makam Proklamator RI, Dr. Drs. H. Mohammad Hatta (Bung Hatta) di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 18 Agustus ini bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah manifestasi nyata dari hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman) yang dicontohkan oleh para pewaris Nabi.

Mengetuk Pintu Langit untuk Para Pahlawan

Dalam suasana khidmat, puluhan ulama, kiai, habaib, serta perwakilan ormas Islam berkumpul mengelilingi pusara Bung Hatta. Tujuannya satu: mendoakan agar sang Proklamator dan seluruh pahlawan bangsa mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Ketua Umum FUHAB DKI Jakarta, KH. Lutfi Zawawi, menegaskan bahwa ziarah ini adalah agenda rutin yang dilakukan secara istiqomah setiap tahun.

Tujuan daripada FUHAB mengadakan acara ini adalah dalam rangka bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan. Dan tentu, tidak langsung dari langit, perlu perjuangan dan proses. [03:29]

Beliau mengingatkan kita pada sebuah hadits Nabi Muhammad ﷺ yang sangat relevan: “Man lam yasykurin nas, lam yasykurillah.” (Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka ia belum bersyukur kepada Allah). [03:49]

Berziarah ke makam pahlawan adalah wujud konkret dari rasa terima kasih kita kepada manusia-manusia pilihan yang telah mewakafkan hidupnya untuk negeri ini.

Persatuan: Kunci Kemerdekaan yang Hakiki

Salah satu pesan paling kuat yang digaungkan dalam ziarah ini adalah tentang Persatuan. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih oleh satu golongan saja, melainkan hasil gotong royong seluruh elemen bangsa.

Para tokoh yang hadir sepakat bahwa kunci utama Bung Hatta dan Bung Karno dalam meraih kemerdekaan adalah kemampuan mereka menanamkan nilai-nilai ukhuwah (persaudaraan).

  • Ukhuwah Basyariyah: Persaudaraan sesama umat manusia.
  • Ukhuwah Wathaniyah: Persaudaraan sesama anak bangsa.
  • Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan sesama umat Islam.

Ternyata untuk meraih sebuah kemerdekaan, kunci yang paling utama adalah menanamkan nilai-nilai ukhuwah dan persatuan. [01:55]

Kehadiran berbagai elemen masyarakat dalam ziarah ini—mulai dari MUI, NU, Ansor, FPI, hingga ormas-ormas lainnya—menjadi simbol indah bahwa perbedaan baju dan bendera organisasi luruh ketika berbicara tentang Indonesia. Mereka bersatu padu untuk satu tujuan: mempertahankan keutuhan NKRI.

Mengisi Kemerdekaan dengan Kebahagiaan Rakyat

Ziarah ini juga menjadi momen refleksi (muhasabah) bagi generasi penerus. Kemerdekaan bukan titik akhir, melainkan gerbang emas (“jembatan emas” meminjam istilah Bung Karno) menuju cita-cita luhur bangsa.

Bung Hatta pernah berpesan bahwa kemerdekaan hanyalah satu bagian. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kemerdekaan itu diisi dengan kebahagiaan dan kemakmuran rakyatnya.

Kita para generasi saat ini, berhasilnya kemerdekaan diraih adalah dengan nilai-nilai persatuan… Mudah-mudahan ke depan, Indonesia akan menjadi Baldatun Thoyyibatun Wa Robbun Ghofur. [05:52]

Meneladani Nasionalisme Rasulullah ﷺ

Menariknya, ziarah kebangsaan ini juga dikaitkan dengan sirah nabawiyah. Salah satu ulama yang hadir mengutip hadits shahih Bukhari tentang bagaimana Rasulullah ﷺ mencintai tanah kelahirannya, Makkah.

Saat hendak hijrah ke Madinah, Nabi ﷺ bersabda kepada Makkah: “Wahai Makkah, engkau adalah bumi yang paling dicintai Allah, dan aku pun cinta kepadamu. Karena engkau adalah tanah airku, engkau adalah tanah tumpah darahku.” [04:44]

Semangat inilah yang ingin ditularkan oleh FUHAB DKI Jakarta. Bahwa menjadi religius dan menjadi nasionalis bukanlah dua kutub yang berseberangan. Justru, semakin tinggi iman seseorang, semakin besar pula cintanya pada tanah air.

Semoga tradisi baik ini terus terjaga, dan kita semua diberikan kekuatan untuk mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, bukan sekadar kata-kata.

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Allahu Akbar!

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar