Pernahkah Sahabat Nabawi merasa lelah saat scroll media sosial? Bukannya mendapat ketenangan atau ilmu, kita justru sering disuguhi “perang komentar” antar sesama Muslim. Sedikit-sedikit dibilang bid’ah, sedikit-sedikit dituduh sesat, bahkan tak jarang sampai pada level mengkafirkan. Padahal, seringkali yang diperdebatkan hanyalah masalah cabang (furu’iyah), bukan pokok akidah.
Fenomena “gaduh” di internal umat Islam ini menjadi sorotan utama dalam podcast Kalaam Nabawi TV yang menghadirkan dua narasumber istimewa: Ustadz Faris Baswedan dan Gus Ajir Ubaidillah. Dalam obrolan santai namun “daging” semua isinya ini, mereka membedah akar masalah perpecahan umat dan menawarkan solusi cerdas menuju persatuan (Towards Unity).
Akar Masalah: Krisis Literasi dan Fanatisme Buta
Mengapa sesama Muslim begitu mudah saling menyerang? Ustadz Faris Baswedan melihat bahwa perdebatan hari ini sudah masuk ke tahap yang tidak sehat. Bukan lagi adu argumen ilmiah, melainkan serangan yang menjatuhkan kehormatan (body shaming, caci maki) [03:17].
Gus Ajir Ubaidillah menambahkan diagnosis yang tajam. Menurut beliau, penyebab utamanya adalah minimnya literasi dan kurangnya kemauan untuk memahami pihak yang berbeda.
Ketika mereka membahas masalah perbedaan di internal kaum muslim ini sudah mulai tidak sehat… padahal yang dilakukan oleh kami enggak seperti yang mereka tuduhkan. Mungkin karena kurangnya ilmu, minimnya literasi. [04:37]
Banyak orang yang “belajar” agama hanya dari potongan video pendek (reels/tiktok) tanpa merujuk ke kitab aslinya atau guru yang bersanad. Akibatnya, mereka merasa pendapat kelompoknyalah yang paling benar (kebenaran mutlak), sementara yang lain pasti salah dan masuk neraka. Padahal, dalam khazanah fikih Islam, perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan yang justru memperkaya wawasan.
Persatuan Tidak Sama dengan “Seragam”
Salah satu poin pencerahan yang disampaikan Ustadz Faris adalah meluruskan definisi “bersatu”. Banyak orang mengira bersatu itu artinya harus sama semua: cara shalatnya harus sama, bacaan doanya harus sama, penentuan hari rayanya harus sama.
Padahal, Persatuan (Unity) tidak harus Seragam (Uniformity).
Ustadz Faris memberikan contoh nyata dari generasi terbaik, yakni para Sahabat Nabi ﷺ. Sejak zaman Rasulullah ﷺ masih hidup, para sahabat sudah memiliki perbedaan pendapat, namun hati mereka tetap bersatu.
Perselisihan tersebut tidak menghalangi mereka untuk tetap menjaga kecintaan satu sama lainnya. Itulah yang seharusnya kita contoh. Ketika kita bersatu, bukan berarti kita harus seragam. [18:46]
Contoh masyhur adalah perbedaan sahabat dalam memahami perintah Nabi ﷺ saat menuju Bani Quraizah tentang waktu Shalat Ashar. Ada yang memahaminya secara tekstual, ada yang kontekstual. Nabi ﷺ tidak menyalahkan salah satunya. Ini bukti bahwa keberagaman penafsiran adalah hal yang lumrah selama masih dalam koridor syariat.
Memegang Teguh Kaidah Emas Imam Syafi’i
Di tengah obrolan, Ustadz Faris mengingatkan kita pada sebuah prinsip agung dari Imam Syafi’i yang sepertinya mulai dilupakan oleh para “pejuang keyboard” zaman now. Kaidah ini adalah obat paling ampuh untuk mengikis kesombongan intelektual:
Ra’yi shawab yahtamilul khata, wa ra’yu ghairi khata yahtamilush shawab. (Pendapatku benar tapi mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah tapi mengandung kemungkinan benar). [25:14]
Jika prinsip ini kita pegang, maka hilanglah sikap ujub (merasa paling benar). Kita akan lebih rendah hati (tawadhu) dalam berdiskusi. Boleh saja kita meyakini pendapat guru kita yang paling kuat, tapi jangan sampai kita mengklaim bahwa itulah satu-satunya kebenaran mutlak dari Allah SWT dan Rasul-Nya, lalu memvonis sesat saudara kita yang berbeda pandangan.
Kapan Kita Harus Tegas dan Kapan Harus Toleran?
Lantas, apakah kita harus mentoleransi semua hal? Tentu tidak. Gus Ajir dan Ustadz Faris memberikan batasan yang jelas.
- Ranah Sepakat (Mujma’ Alaih): Hal-hal pokok yang sudah disepakati ulama (seperti wajibnya shalat 5 waktu, haramnya zina). Di sini tidak ada toleransi bagi penyimpangan.
- Ranah Berbeda (Mukhtalaf Fih): Masalah-masalah ijtihadiah yang para ulama mazhab pun berbeda pendapat (seperti masalah qunut, jumlah rakaat tarawih, dll). Di sinilah wajib hukumnya kita bertoleransi (tasamuh).
Masalahnya, banyak orang hari ini yang membolak-balik. Pada hal yang seharusnya sepakat, mereka malah berdebat. Sedangkan pada hal yang boleh berbeda, mereka malah memaksakan kehendak.
Solusi: Perbanyak “Ngopi” (Ngolah Pikir) dan Literasi
Sebagai penutup, Gus Ajir memberikan nasihat yang sangat relevan bagi generasi milenial dan Gen Z. Kita diberi dua telinga dan satu mulut, artinya kita harus lebih banyak mendengar dan membaca daripada berkomentar.
Kita harus sadar kembali bahwa yang membuat kita mulia itu adalah Islam itu sendiri, dan yang kedua adalah ilmu. [41:02]
Jangan sampai kita menjadi “silent majority” yang diam saja melihat narasi kebencian merajalela. Kita perlu mendukung gerakan-gerakan literasi yang mencerahkan, seperti program Towards Unity ini. Mari sudahi debat kusir yang tidak berujung. Fokuslah memperbaiki diri, memperdalam ilmu dari guru yang bersanad, dan menjaga adab kepada sesama Muslim.
Ingat, kita mungkin tidak bisa menyatukan semua pemikiran manusia, karena Allah yang membolak-balikkan hati. Tapi setidaknya, kita bisa menjaga lisan dan jari kita agar tidak menjadi penyebab retaknya ukhuwah Islamiyah.
Wallahu a’lam bishawab.

