Gus Baha: Uniknya Nabi Muhammad ﷺ

Gus Baha membedah keunikan Nabi Muhammad ﷺ. Kegiatan sehari-hari seperti makan dan minum justru menjadi bukti kenabian yang membedakan beliau dari mitos dewa.

Nabawi TV
6 Menit Bacaan

Dalam peringatan Maulid Nabi dan Haul KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, kembali mengajak kita menyelami samudera hikmah dengan gaya khasnya yang santai namun berbobot. Kali ini, beliau menyoroti sisi unik dari cara Allah menyifati kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad ﷺ.

Seringkali kita berpikir bahwa kemuliaan seorang Nabi itu diukur dari hal-hal yang “ajaib” atau supranatural. Namun, Gus Baha justru membuka mata kita bahwa sisi manusiawi Rasulullah ﷺ adalah bagian dari skenario agung Allah untuk menjaga akidah umat Islam.

Mengapa Nabi Muhammad ﷺ Makan dan Minum?

Gus Baha memulai kajian dengan sebuah logika yang menarik. Beliau membandingkan Nabi Muhammad ﷺ dengan Nabi Isa AS. Sebagaimana diketahui, Nabi Isa AS sempat “dipertuhankan” oleh sebagian kaumnya karena dianggap terlalu suci, lahir tanpa ayah, dan memiliki mukjizat menghidupkan orang mati.

Untuk mencegah kesalahpahaman serupa terjadi pada umat Islam, Allah SWT menampilkan sisi Basyariyah (kemanusiaan) Rasulullah ﷺ secara jelas.

Saya sering bela Rasulullah ﷺ dengan pembelaan, andaikan Nabi Isa semalaman itu salat sujud, sedangkan Nabi (Muhammad) itu dahar (makan) sarapan… itu tetep afdal Kanjeng Nabi Muhammad ﷺ.

Mengapa demikian? Gus Baha menjelaskan bahwa perilaku makan dan minum Nabi ﷺ adalah bentuk Nafyun Lil Uluhiyah (peniadaan sifat ketuhanan). Dengan makan, Nabi secara tidak langsung memproklamirkan: “Saya bukan Tuhan. Tuhan tidak butuh makan, sedangkan saya butuh makan.”

Ini sejalan dengan firman Allah SWT yang dikutip beliau: “Wama arsalna qoblaka minal mursalin illa innahum laya’kulunath tho’ama wayamsyuna fil aswaq.” (Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar). [02:13]

Jadi, bagi Anda yang hobi kuliner, Gus Baha memberikan “angin segar”. Niatkan makan Anda untuk meniru sunnah Basyariyah Nabi, sebagai bukti bahwa kita adalah makhluk yang lemah dan butuh asupan, berbeda dengan Allah yang Maha Berdiri Sendiri.

Logika Tauhid yang Menyelamatkan

Salah satu poin penting yang ditekankan Gus Baha adalah pentingnya mengawal agama ini dengan logika atau ilmu kalam. Agama Islam bukan hanya sekadar dogma, tetapi Dinun Aqliyun (agama yang logis).

Beliau menceritakan kisah Jubair bin Muth’im, seorang musyrik cerdas yang datang ke Madinah untuk membebaskan tawanan Perang Badar. Saat itu, ia mendengar Nabi ﷺ membaca Surat At-Tur ketika salat Maghrib.

Ayat yang didengar Jubair sangat menohok logika: “Am khuliqu min ghairi syai’in am humul kholiqun?” (Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?) [05:27]

Logika ini sederhana namun mematikan bagi paham ateisme atau politeisme:

  1. Jika Anda merasa Tuhan, Anda harusnya ada sejak awal (Wajib Wujud), bukan lahir pada tanggal dan tahun tertentu.
  2. Jika alam semesta ini ada, tidak mungkin tercipta dari ketiadaan (adam). Pasti ada Sang Pencipta.
  3. Jika Anda merasa hebat, cobalah ciptakan langit dan bumi.

Mendengar logika Al-Qur’an ini, hati Jubair bin Muth’im langsung luluh dan ia pun beriman. “Nabi mboten seminar, mboten pidato ning panggung… Nabi salat santai, tapi bacaan Qur’annya mengandung logika yang menghujam,” ujar Gus Baha.

Kebenaran Itu Tidak Perlu “Jaim”

Gus Baha juga menyindir fenomena sebagian pendakwah atau tokoh agama yang terlalu menjaga image (jaim) agar terlihat berwibawa. Menurut beliau, kebenaran sejati (Al-Haq) itu sudah kuat dengan sendirinya tanpa perlu polesan pencitraan berlebihan.

Hati-hatimu nutupi goblokmu. Karena ketika kebenaran sejati itu ndak butuh hati-hati. Memang 1 + 1 pasti 2. [06:59]

Beliau mengutip istilah Al-Qur’an “Naqdzifu bil haqqi” (Kami melontarkan kebenaran). Kata Qodzfa bermakna melempar secara acak/sekenanya. Maksudnya, kebenaran Islam itu mau disampaikan oleh siapa saja—entah itu orang sopan seperti Abu Bakar, orang tegas seperti Umar, atau bahkan mantan budak seperti Bilal—tetap akan menjadi kebenaran yang indah. Mutiara tetaplah mutiara, baik di leher ratu maupun di leher unta.

Membela Poligami Nabi dengan Logika

Dalam sesi yang lebih santai, Gus Baha juga menyinggung pertanyaan kritis yang sering muncul di kalangan akademisi: “Kenapa Nabi itu religius, tapi istrinya banyak?”

Alih-alih menjawab dengan dalil normatif yang kaku, Gus Baha menawarkan jawaban logika sosial: “Nolong orang satu itu baik. Membaikan orang dua tambah baik. Membaikan orang tiga tambah baik… Lah kalau Anda menterlantarkan orang satu haram, dua lebih haram.” [15:02]

Poligami Nabi ﷺ adalah bentuk solusi sosial dan dakwah pada masanya, bukan sekadar urusan nafsu seperti tuduhan para orientalis. Jawaban logika seperti ini seringkali lebih bisa diterima oleh akal modern.

Penutup: Agama Harus Dikawal Akal

Di akhir ceramahnya, Gus Baha mengingatkan bahwa warisan terbesar Nabi Muhammad ﷺ yang membuat Islam abadi hingga hari ini adalah Warisan Intelektual (Logika Tauhid).

Fisik Nabi memang telah tiada, namun hujjah (argumentasi) yang beliau bawa tetap hidup di akal setiap mukmin. “Agama ini lili ulil albab, bagi orang-orang yang berakal,” tegas beliau.

Semoga kita termasuk umat yang tidak hanya meniru ibadah Nabi secara ritual, tetapi juga mampu meneladani kecerdasan beliau dalam memahami dan menyampaikan kebenaran Islam.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar