Di tengah dinamika kebangsaan yang terus berkembang, peran tokoh agama menjadi semakin krusial. Bukan sekadar pemimpin ritual, tetapi sebagai perekat yang menyatukan serpihan perbedaan. Hal ini ditegaskan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA, saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Haul Para Pendiri Rabithah Alawiyah 2025.
Kehadiran Menag dalam acara agung yang digelar oleh Rabithah Alawiyah ini bukan sekadar kunjungan formalitas, melainkan sebuah pernyataan sikap pemerintah yang mengakui peran strategis para Habaib dan Ulama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Habaib: Pilar Penyangga Bangsa
Dalam sambutannya yang hangat dan penuh rasa hormat, Prof. Nasaruddin Umar menyoroti posisi vital para Habaib. Beliau mengibaratkan para Ulama dan Habaib sebagai pilar-pilar kokoh yang menopang bangunan bangsa.
Sebagai bangsa besar yang plural, kita bersyukur mampu menjaga kerukunan. Salah satu kuncinya adalah peran para ulama dan habaib sebagai pilar penting dalam menjaga persatuan bangsa ini.
Pernyataan ini sejalan dengan realitas sejarah di mana para pendiri Rabithah Alawiyah dan tokoh-tokoh Habaib terdahulu tidak hanya fokus pada pemurnian nasab, tetapi juga berkontribusi aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan pendidikan karakter bangsa.
Persatuan adalah Kunci Kemajuan
Menag Nasaruddin Umar mengingatkan jamaah akan sebuah rumus sederhana namun fundamental bagi kemajuan sebuah negara: Persatuan.
“Jika rakyatnya bersatu, maka bangsa ini akan menjadi besar. Sebaliknya, jika terpecah belah, maka bangsa ini akan menjadi lemah,” tegas beliau.
Di era digital yang penuh dengan potensi gesekan sosial, pesan ini menjadi pengingat (alarm) bagi kita semua. Perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi, namun ukhuwah (persaudaraan) harus tetap di atas segalanya. Rabithah Alawiyah, sebagai wadah resmi para Dzurriyat Rasulullah ﷺ di Indonesia, dinilai telah sukses menjadi teladan dalam merajut ukhuwah tersebut.
Mengedepankan Politik “Cinta”
Salah satu poin menarik dari ceramah beliau adalah ajakan untuk mengedepankan “Cinta” dalam setiap perilaku kita, termasuk dalam berbangsa dan bernegara.
Mari kita mengedepankan cinta dalam perilaku kita. Jika cinta sudah bekerja dalam hati dan pikiran kita, maka Insyaallah semuanya akan indah.
Filosofi ini sangat relevan dengan ajaran Nabi Muhammad ﷺ yang diutus sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Cinta dan kasih sayang harus menjadi bahasa universal umat Islam dalam berinteraksi dengan sesama anak bangsa, bukan kebencian atau curiga.
Apresiasi untuk Rabithah Alawiyah
Menutup sambutannya, Menteri Agama memberikan apresiasi tinggi kepada Rabithah Alawiyah yang konsisten menggelar acara-acara majelis ilmu seperti Maulid dan Haul. Kegiatan semacam ini dinilai bukan hanya sebagai ritual keagamaan, tetapi juga “oase” spiritual yang membawa keberkahan bagi Indonesia.
“Semoga acara ini dapat membawa banyak keberkahan untuk kita, keluarga besar kita, dan tentunya bangsa ini,” doa beliau yang diaminkan oleh ribuan jamaah yang hadir.
Kehadiran pemerintah di tengah-tengah para Habaib ini menjadi simbol harmonisnya hubungan antara Umaro (pemerintah) dan Ulama. Sinergi inilah yang kita butuhkan untuk membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih gemilang dan diberkahi.
Wallahu a’lam bishawab.

