Waspada Fenomena Ruwaibidhah

Analisis fenomena Ruwaibidhah (orang bodoh yang berbicara dalam urusan publik) di akhir zaman. Bagaimana Islam menyikapi saat orang tak berilmu mendominasi panggung.

Nabawi TV
5 Menit Bacaan

Pernahkah Sahabat Nabawi merasa bingung dengan banjirnya informasi di media sosial? Di satu sisi, berita menyebar begitu cepat dalam hitungan detik. Namun di sisi lain, kita sering kesulitan membedakan mana yang fakta, mana yang opini, dan mana yang sekadar fitnah untuk menggoyahkan akidah.

Dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Haul Pendiri Rabithah Alawiyah 2025, Ustadz Faris Baswedan menyampaikan pesan menohok mengenai tantangan umat Islam di era digital ini. Beliau mengingatkan kita pada sebuah nubuwwat (prediksi) Rasulullah ﷺ tentang zaman di mana kebenaran dan kebatilan menjadi samar, dan panggung publik dikuasai oleh orang-orang yang sebenarnya tidak layak berbicara.

Era “Sanawat Khadda’at” (Tahun-Tahun Penuh Tipu Daya)

Derasnya arus informasi saat ini bagaikan pisau bermata dua. Ustadz Faris menyoroti bahwa keterbukaan informasi ini sering kali dimanfaatkan untuk menyerang keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah, bahkan mencoba meroposkan pondasi agama Islam itu sendiri [03:22].

Kondisi ini sangat relevan dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Rasulullah ﷺ bersabda tentang datangnya masa-masa penuh tipu daya:

Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan (Sanawat Khadda’at). Pembohong dibenarkan, orang yang jujur justru didustakan. Pengkhianat diberi amanah, sedangkan orang yang amanah dituduh berkhianat. Dan pada saat itu, Ruwaibidhah akan berbicara.

Nubuwwat ini terasa begitu nyata hari ini. Betapa sering kita melihat sosok yang jujur justru disudutkan, sementara mereka yang pandai memutarbalikkan fakta justru mendapat panggung dan tepuk tangan.

Apa Itu Ruwaibidhah?

Istilah Ruwaibidhah mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Namun, maknanya sangat krusial untuk kita pahami agar tidak salah memilih panutan. Dalam hadits tersebut, para sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Apakah itu Ruwaibidhah?”

Beliau ﷺ menjawab: “Arrajulut tafih yatakallam fil ammah.” (Orang yang bodoh/tidak memiliki kapasitas, namun berbicara tentang urusan orang banyak/umat) [06:07].

Hari ini, fenomena ini terlihat jelas. Banyak orang yang tidak memiliki latar belakang keilmuan yang mumpuni, tidak menguasai apa yang dibicarakannya, namun dengan lantang berbicara soal agama, hukum, dan kebijakan umat tanpa rasa takut sedikitpun. Mereka berbicara seolah-olah pakar, padahal tidak memiliki otoritas keilmuan.

Ilmu Adalah Benteng Pertahanan

Lantas, bagaimana kita membentengi diri dari fitnah Ruwaibidhah dan kesimpangsiuran informasi ini? Ustadz Faris Baswedan menegaskan bahwa tidak ada perlindungan yang lebih kuat selain Ilmu Agama.

Mengutip perkataan Sahibur Ratib, Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, disebutkan bahwa:

Kejahilan adalah pangkal dari segala keburukan.

Segala kerusakan—baik itu kerusakan agama, kerusakan moral bangsa, maupun kerusakan pada diri sendiri—bermula dari ketidaktahuan (kejahilan). Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ menyebut bahwa dunia ini terlaknat beserta isinya, kecuali aktivitas dzikir kepada Allah dan kegiatan belajar-mengajar ilmu agama [08:33].

Saatnya Orang Berilmu Tampil, Bukan Sembunyi

Ada poin menarik yang disampaikan Ustadz Faris bagi para penuntut ilmu dan ulama. Di tengah gempuran informasi negatif dan hoax, orang yang memiliki ilmu (Alim) tidak boleh diam atau bersembunyi di balik alasan “tawadhu” (rendah hati) yang tidak pada tempatnya.

Mengutip Imam Al-Qurtubi, beliau menyampaikan: “Barangsiapa yang dianugerahi ilmu dan Al-Qur’an, hendaknya ia menampakkan/memperkenalkan dirinya (untuk meluruskan umat)” [10:24].

Mengapa demikian? Karena jika orang-orang berilmu diam, maka panggung akan diambil alih oleh orang-orang jahil. Tawadhu memang sifat mulia, namun tawadhu di saat umat membutuhkan pencerahan justru bisa menjadi keburukan. Orang alim harus berani tampil untuk:

  • Meluruskan pemahaman yang salah.
  • Menjawab syubuhat (keraguan) yang ditebar musuh Islam.
  • Membimbing umat ke jalan yang diridai Allah SWT.

Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sebagai umat Islam yang hidup di akhir zaman, Ustadz Faris mengajak kita untuk tidak hanya menjadi penonton. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa kita ambil:

  • Saring Sebelum Sharing: Jangan mudah menelan informasi mentah-mentah, terutama yang berpotensi mengadu domba.
  • Kembali ke Ulama: Rujuklah segala permasalahan kepada para ulama yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, seperti peran yang selama ini dijaga oleh Rabithah Alawiyah.
  • Perdalam Ilmu: Hadiri majelis ilmu. Jangan biarkan hari berlalu tanpa bertambahnya pemahaman agama, karena ilmu adalah cahaya yang membedakan jalan yang benar dan yang salah.

Semoga Allah SWT menjaga kita dari fitnah Ruwaibidhah dan mengumpulkan kita bersama orang-orang yang sholeh. Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar