Setiap tahun, Kota Solo berubah menjadi lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru negeri, bahkan mancanegara. Bukan untuk konser musik atau pesta duniawi, melainkan untuk menghadiri Haul seorang ulama besar yang cintanya kepada Rasulullah ﷺ abadi hingga kini: Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.
Namun, siapakah sebenarnya sosok agung yang mampu menggerakkan jutaan hati untuk berkumpul di Masjid Riyadh, Solo ini? Dalam rangkaian acara Haul, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi mengisahkan biografi dan perjalanan hidup sang Shohibul Maulid dengan begitu menyentuh.
Lahir dari Rahim Dakwah dan Cinta Ilmu
Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi tidak lahir dari ruang hampa. Beliau adalah buah dari pohon yang akarnya menancap kuat dalam ilmu dan dakwah. Ayah beliau, Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, adalah seorang Mufti Makkah yang hidupnya habis untuk berdakwah dari satu kota ke kota lain.
Uniknya, pernikahan orang tua Habib Ali pun didasari oleh semangat dakwah. Ketika Habib Muhammad berdakwah di Kota Syibam, beliau mencari istri bukan sekadar pendamping, tetapi partner perjuangan. Pilihan jatuh pada Hababah Alawiyah binti Husein Al-Jufri, seorang wanita shalihah yang cerdas.
“Tahu gak pernikahan yang seperti itu yang merayakan bukan manusia seperti kita, tapi malaikatlah yang akan merayakan pernikahan yang seperti itu.”
– Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi
Hasil dari pernikahan yang penuh berkah ini adalah lahirnya Habib Ali pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H di Qasam, Hadramaut. Sejak kecil, Habib Ali dididik langsung oleh ibundanya dengan kecintaan pada orang-orang sholeh.
“Ibu, Jadikan Aku Seperti Mereka”
Salah satu rahasia kesuksesan Habib Ali adalah pola asuh ibunya. Sejak belia, Habib Ali tidak dijejali dengan dongeng fiktif, melainkan kisah-kisah nyata para ulama dan auliya. Setiap kali mendengar kisah orang sholeh, Habib Ali kecil akan berlari kepada ibunya dan berkata:
“Wahai Ibu, saya habis mendengarkan cerita orang sholeh Fulan. Ibu, jadikan aku seperti dia.”
Sang ibu pun langsung menengadahkan tangan, mendoakan putranya agar kelak menjadi seperti tokoh yang dikaguminya. Ini menjadi tamparan lembut bagi kita para orang tua hari ini: Siapakah idola anak-anak kita? Apakah tokoh yang sujud kepada Allah, atau justru mereka yang ingkar kepada-Nya?
Bakti Luar Biasa kepada Ibunda
Habib Ali tumbuh menjadi pemuda yang sangat berbakti. Ada satu kisah yang menggetarkan hati. Suatu ketika, Habib Ali ingin menjamu tamu-tamu ulama besar namun tidak memiliki apa-apa. Dengan segala upaya, beliau dan ibunya menyiapkan jamuan terbaik.
Di akhir jamuan, sang ibu keluar dan bersaksi di hadapan para ulama:
“Kalian semua yang ada di sini saksikanlah bahwasanya aku ridha pada anakku Ali. Dia gak pernah menyelisihi aku, enggak pernah menyakiti hatiku.”
Mendengar itu, Habib Ali menangis bahagia. Ridha ibu adalah tiket emas menuju ridha Allah SWT.
Sejarah Terciptanya Maulid Simtudduror
Karya agung Habib Ali yang paling fenomenal dan dibaca di seluruh dunia adalah Maulid Simtudduror. Habib Muhammad bin Husein menceritakan bahwa maulid ini digubah saat Habib Ali berusia 68 tahun.
Proses penyusunannya sangat istimewa. Bukan dengan berpikir keras mencari kata-kata, melainkan mengalir begitu saja dari lisan beliau (imla’).
“Alhamdulillahilladzi qawwa sulthana dzuhurihi…”
Kalimat demi kalimat indah itu meluncur deras dari hati yang dipenuhi cinta kepada Rasulullah ﷺ, lalu dicatat oleh murid-muridnya. Hanya dalam beberapa kali majelis, terciptalah mahakarya yang kini menggema di ribuan majelis di Indonesia.
Jejak di Solo: Warisan Habib Alwi dan Habib Anis
Mungkin banyak yang bertanya, mengapa Haul Habib Ali yang wafat di Hadramaut justru diperingati secara besar-besaran di Solo?
Jawabannya ada pada sosok putra beliau, Habib Alwi bin Ali Al-Habsyi, yang pertama kali mendirikan Masjid Riyadh di Solo. Habib Alwi membawa semangat ayahnya: memuliakan tamu dan istiqomah dalam dakwah.
Tongkat estafet kemudian dilanjutkan oleh cucu beliau, Habib Anis bin Alwi Al-Habsyi. Habib Anis dikenal sebagai sosok yang sangat ramah dan pemulia tamu. Dapur rumah beliau, seperti dapur kakeknya, selalu mengepul untuk menjamu siapa saja yang datang.
“Di sini kita berupaya untuk menjamu tamu… Enggak ada kotak infak keliling. Kenapa? Karena niat kita sebagaimana niat para pendahulu kita, bahwasanya kita di sini adalah ingin melayani umat.”
Haul Solo bukan sekadar peringatan kematian, melainkan perayaan kehidupan. Kehidupan hati yang dihidupkan dengan zikir, ilmu, dan cinta kepada orang-orang sholeh. Semoga kita semua mendapatkan percikan keberkahan dari Shohibul Haul, Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi.

