Curhat Syamsir Alam: Tips “Mahal” Habib Umar tentang Popularitas

Pesepakbola Syamsir Alam curhat mengenai popularitas dan harta kepada Habib Umar bin Hafidz, yang kemudian memberikan tips mahal tentang makna hidup sejati.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

Dunia olahraga, khususnya sepak bola, tak pernah lepas dari sorotan kamera dan gemuruh tepuk tangan. Bagi seorang atlet seperti Syamsir Alam, popularitas adalah makanan sehari-hari. Namun, di balik kemerlap ketenaran itu, tersimpan bahaya laten yang mengintai hati: ujub (merasa kagum pada diri sendiri) dan kesombongan.

Keresahan inilah yang dibawa Syamsir Alam ke hadapan Ulama Besar Dunia, Al-Habib Umar bin Hafidz. Dengan penuh ketawaduan, Syamsir bertanya, “Bagaimana caranya agar kami bisa menjaga hati dari rasa ujub dan tetap menggunakan ketenaran ini untuk kebaikan dan dakwah?”

Jawaban yang diberikan Habib Umar sungguh membuka mata. Beliau tidak menyuruh atlet untuk meninggalkan lapangan, tetapi justru mengubah lapangan menjadi medan dakwah yang luas.

Pujian Hanyalah Persepsi Makhluk

Langkah pertama untuk “menjinakkan” rasa ujub, menurut Habib Umar, adalah menyadari hakikat pujian. Ketika ribuan orang mengelu-elukan nama kita, ingatlah satu hal: itu hanyalah persepsi manusia.

“Pujian ini adalah persepsi dari suatu makhluk dan ini belum tentu seperti apa persepsi dari Allah Taala kepada orang itu.”
– Habib Umar bin Hafidz

Pujian manusia seringkali menipu. Mereka memuji karena melihat “kulit luar” kehebatan kita, sementara Allah Maha Mengetahui segala aib dan kekurangan yang kita sembunyikan. Habib Umar mengingatkan, seharusnya saat dipuji, hati kita justru semakin merunduk dan berharap, “Ya Allah, sebagaimana Engkau menutup aibku di dunia sehingga mereka memujiku, maka berikanlah aku keridhaan-Mu yang sesungguhnya di akhirat.”

Olahraga Sebagai “Kendaraan” Dakwah

Habib Umar bin Hafidz menegaskan bahwa olahraga adalah lahan dakwah yang sangat potensial. Atlet punya power yang tidak dimiliki banyak orang: mereka diidolakan dan didengar.

Habib memberikan beberapa strategi jitu bagi para atlet (atau public figure lainnya) untuk berdakwah tanpa harus menjadi penceramah di atas mimbar:

  1. Sisipkan Zikir: Jangan ragu untuk berzikir kepada Allah di sela-sela aktivitas latihan atau pertandingan. Walaupun sedikit, zikir yang dilakukan seorang idola bisa memberikan pengaruh besar bagi fans yang melihatnya.
  2. Tunjukkan Akhlak Mulia: Fair play bukan cuma aturan main, tapi juga syiar Islam. Akhlak yang baik di lapangan—seperti menghormati lawan, tidak emosional, dan santun—adalah dakwah tanpa kata yang paling efektif.
  3. Muliakan Syiar Agama: Habib Umar menyarankan untuk tidak malu menunjukkan pengaguman kita pada agama. Misalnya, menjaga salat atau melakukan sujud syukur. “Pertunjukkan kepada mereka bentuk takzim (pengaguman)mu kepada agama,” pesan Habib Umar.
  4. Manfaatkan “Mic” dan Media Sosial: Ketika ada momen wawancara atau saat memposting di media sosial, sisipkan kalimat-kalimat nasihat yang baik. Atau, sesederhana membagikan link kajian, kutipan ulama, atau merekomendasikan tokoh agama yang kredibel kepada para pengikut.

Menjadi “Influencer” Kebaikan

Poin menarik lainnya adalah ajakan Habib Umar untuk menjadi jembatan kebaikan. Beliau menyarankan atlet untuk mengenalkan fans mereka kepada “sumber” yang jernih.

Men-support, menunjukkan kepada circle dan orang-orang yang mengidolakan kita tentang link dari orang-orang baik yang memiliki ajaran dan dakwah yang baik, itu pun juga bentuk dakwah ke jalan Allah.
– Habib Umar bin Hafidz

Dengan cara ini, seorang atlet tidak hanya mencetak gol di gawang lawan, tetapi juga mencetak “pahala jariyah” dengan mengarahkan ribuan pengikutnya menuju jalan Allah.

Nasihat Habib Umar kepada Syamsir Alam ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang sedang berada di puncak karir. Bahwa ketenaran bukan untuk dinikmati sendiri hingga melahirkan kesombongan, melainkan titipan Tuhan yang harus dikembalikan dalam bentuk manfaat bagi orang banyak.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar