Perjalanan spiritual setiap manusia adalah kisah yang unik dan menyentuh. Bagi seorang Ruben Onsu, perjalanan mencari “damai sejati” telah membawanya pada satu titik balik besar dalam hidupnya. Meski telah menemukan ketenangan setelah memeluk Islam, Ruben mengaku bahwa dunia dengan segala hiruk-pikuknya masih kerap mengguncang hati.
Dalam sebuah momen yang penuh keakraban, Ruben Onsu menumpahkan kegelisahannya kepada ulama kharismatik, Habib Umar bin Hafidz.
“Saya banyak mencari arti damai sejati setelah memeluk Islam saat ini. Saya mulai merasakannya, tapi kadang dunia tetap mengguncang hati,” ungkap Ruben dengan tulus. Ia kemudian bertanya, “Bagaimana agar seorang mualaf seperti saya bisa menjaga kedamaian batin meski hidup penuh ujian?” [00:15]
Pertanyaan ini sejatinya bukan hanya milik Ruben, melainkan mewakili perasaan banyak orang yang tengah berjuang menjaga istiqomah di tengah badai kehidupan. Menjawab kegelisahan tersebut, Habib Umar bin Hafidz memberikan lima “kunci” atau resep spiritual untuk menjaga hati tetap tenang.
1. Membangun Visi Akhirat: Mendampingi Rasulullah ﷺ
Resep pertama yang disampaikan Habib Umar adalah tentang mindset atau visi hidup. Beliau mengingatkan bahwa kita hidup di dunia ini bukan tanpa tujuan. Misi terbesar kita adalah mempersiapkan diri untuk kelak bisa mendampingi Rasulullah ﷺ di akhirat.
“Ingat bahwasanya kita punya misi untuk bisa kelak mendampingi Rasulullah ﷺ dan kita dalam proses persiapan itu.”
– Habib Umar bin Hafidz [00:39]
Dengan menanamkan visi ini, segala guncangan dunia akan terasa kecil karena fokus kita bukan lagi pada masalah sesaat, melainkan pada tujuan abadi. Tuntut hati kita untuk senantiasa merindukan dan mencintai Sang Nabi ﷺ.
2. Perbanyak Selawat dan Bahagiakan Orang Lain
Habib Umar memberikan solusi praktis yang sangat indah: Perbanyak Selawat. Beliau mengutip sebuah hadis di mana seorang sahabat bertanya tentang pahala berselawat. Rasulullah ﷺ menjamin, jika seseorang mendedikasikan waktunya untuk berselawat, maka “semua beban pikiranmu akan dicukupi oleh Allah dan dosamu akan diampuni” [01:52].
Selain hubungan vertikal (selawat), Habib Umar juga menekankan hubungan horizontal.
“Dan sebisa mungkin gembirakan orang-orang yang ada di sekelilingmu. Senangkan mereka.”
– Habib Umar bin Hafidz [01:14]
Membahagiakan orang lain adalah cara tercepat untuk mendapatkan kebahagiaan bagi diri sendiri. Energi positif yang kita berikan akan kembali kepada kita dalam bentuk ketenangan batin.
3. Meneladani Kehidupan Sahabat Nabi
Bagi seorang mualaf atau siapa saja yang sedang belajar agama, kisah hidup para sahabat Nabi adalah sumber inspirasi yang tak habis-habisnya. Habib Umar menyarankan untuk memiliki obsesi mempelajari kehidupan mereka dan mengambil hikmah dari ucapan-ucapan bijak mereka [02:15]. Para sahabat adalah orang-orang yang hidupnya penuh ujian berat, namun hati mereka tetap damai karena iman yang kokoh.
4. Pentingnya Guru (Sanad) atau Teman yang Shalih
Perjalanan spiritual tidak bisa ditempuh sendirian. Habib Umar menekankan pentingnya memiliki seorang pembimbing atau guru yang sanad keilmuannya tersambung hingga ke Rasulullah ﷺ.
“Carilah guru yang bisa engkau teladani… yang menuntun engkau membimbing engkau menuju untuk dekat dan terkoneksi kepada Nabi Muhammad ﷺ.”
– Habib Umar bin Hafidz [02:30]
Jika belum menemukan guru yang demikian, Habib Umar menyarankan setidaknya memiliki teman yang baik dan tulus (circle positif) yang bisa saling mengingatkan dan membimbing menuju Allah. Lingkungan pergaulan sangat mempengaruhi kondisi hati kita.
5. Amalan Harian Penenang Jiwa
Terakhir, sebagai bekal menghadapi guncangan sehari-hari, Habib Umar mengijazahkan (memberikan) amalan zikir khusus yang bisa dibaca setiap hari. Amalan ini dipercaya sebagai sebab datangnya kelapangan hati.
Beliau menyarankan untuk rutin membaca Ayat Kursi dan zikir dari doa Nabi Musa AS berikut ini sebanyak 100 kali setiap hari:
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي
(Rabbisyrahli shadri wa yassirli amri)
Artinya: “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku.”
“Dibaca zikir ini sebanyak 100 kali setiap hari. Itu pun juga penyebab datangnya kedamaian di dalam hati.”
– Habib Umar bin Hafidz [03:38]
Jawaban Habib Umar bin Hafidz kepada Ruben Onsu ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa kedamaian sejati tidak ditemukan dengan menjauhi masalah dunia, tetapi dengan mendekatkan hati kepada Pemilik Dunia, melalui cinta kepada Rasul-Nya, menebar kebaikan, dan zikir yang istiqomah.

