NABAWI TV – Pernahkah Anda merasa bingung atau bahkan terdiam seribu bahasa ketika ada rekan non-muslim yang mengajukan pertanyaan kritis tentang Islam? Fenomena ini bukan karena Islam tidak memiliki jawaban, melainkan karena kita seringkali tidak dibekali dengan perangkat logika yang cukup untuk menjawabnya.
Di tengah arus informasi yang begitu deras, tantangan akidah hari ini tidak hanya datang dari godaan duniawi, tetapi juga dari serangan pemikiran yang terstruktur. Banyak orang tua Muslim yang bangga jika anaknya sukses menjadi dokter atau pejabat, namun lupa membekali mereka dengan “baju besi” intelektual untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang menggugat iman.
Bersama Zulkifli M. Abbas atau yang akrab disapa Bang Zuma, kita akan membedah bagaimana cara cerdas dan elegan dalam menjawab tuduhan-tuduhan yang sering dialamatkan kepada Islam, tanpa perlu emosi, melainkan dengan data dan logika yang tak terbantahkan.
Akar Masalah: Rapuhnya Benteng Intelektual
Kenyataan pahit yang harus kita akui adalah adanya ketimpangan dalam pola pendidikan anak-anak kita. Bang Zuma menyoroti sebuah fenomena ironis di mana orang tua berlomba-lomba menyekolahkan anak di institusi umum terbaik demi mengejar karier duniawi, namun abai terhadap pendalaman akidah yang bersifat apologetik (pembelaan iman).
Akibatnya, ketika anak-anak ini tumbuh dewasa dan berhadapan dengan lingkungan yang majemuk, mereka mudah goyah hanya karena satu-dua pertanyaan sederhana yang memojokkan [04:11]. Padahal, jika kita menelaah lebih dalam, Islam memiliki struktur logika yang sangat kokoh. Kelemahan kita bukanlah pada ajarannya, melainkan pada kurikulum pendidikan dasar kita yang belum menyentuh aspek counter-argument atau cara menjawab syubhat (keraguan).
Menjawab Tuduhan “Penyembah Batu”
Salah satu pertanyaan klasik yang paling sering dilontarkan adalah tuduhan bahwa umat Islam menyembah batu (Hajar Aswad) karena menciumnya saat haji atau umrah. Logika mereka sederhana: jika mencium batu dianggap ibadah penghapus dosa, bukankah itu berhala?
Bang Zuma memberikan teknik jawaban yang sangat brilian. Alih-alih hanya bertahan dengan dalil internal, kita bisa mengajak mereka melihat referensi dari kitab mereka sendiri. Beliau mengutip Yesaya 6:6-7 (dalam tradisi Yahudi/Kristen), di mana dikisahkan bahwa dosa bisa dihapus dengan sentuhan bara api atau batu bara [08:14].
“Maka terbanglah salah seorang dari para Serafim itu kepadaku, di tangannya ada bara api, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah; ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.”
Logikanya sederhana: Apakah batu baranya yang menghapus dosa? Tentu bukan. Itu adalah perintah Tuhan. Begitu pula dengan Hajar Aswad; kita menciumnya bukan karena batunya sakti, melainkan karena itu adalah bentuk ketaatan atas perintah Allah dan contoh dari Rasulullah ﷺ. Dengan jawaban komparatif seperti ini, tuduhan penyembahan berhala runtuh seketika dengan logika mereka sendiri.
Gugatan Terhadap Wahyu dan Kerasulan
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah tentang keabsahan wahyu. Mereka bertanya, “Siapa saksi yang melihat Muhammad menerima wahyu?” Jika tidak ada saksi manusia, mereka menganggapnya tidak valid.
Di sinilah pentingnya memahami Al-Qur’an sekaligus wawasan lintas kitab. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Tetapi Allah mengakui Al-Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya.” — (QS. An-Nisa: 166)
Bang Zuma menegaskan, jika standar kebenaran harus ditakar dengan saksi mata manusia, maka runtuhlah semua agama, termasuk agama mereka. Tidak ada satu pun manusia yang melihat Nabi Musa menerima Taurat di bukit Sinai, atau melihat Paulus menerima visinya [16:31]. Jika mereka bisa mengimani kitab mereka tanpa saksi mata manusia, mengapa standar ganda itu diterapkan pada Al-Qur’an yang justru kemukjizatannya (segi bahasa dan isinya) masih bisa disaksikan hingga detik ini?
Urgensi Kurikulum “Imunisasi” Akidah
Pemaparan di atas hanyalah segelintir contoh dari pentingnya ilmu kristologi atau apologetika Islam. Ini bukan untuk menyerang keyakinan orang lain secara membabi buta, melainkan sebagai upaya pertahanan diri (self-defense) yang wajib dimiliki setiap Muslim di era keterbukaan informasi.
Sudah saatnya masjid-masjid, TPA, dan majelis taklim tidak hanya mengajarkan cara membaca huruf hijaiyah, tetapi juga mulai menyisipkan materi penguatan logika akidah [39:48]. Generasi muda harus ditanamkan pemahaman bahwa “La ilaha illallah” bukan sekadar zikir lisan, tetapi sebuah proklamasi kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan secara rasional di hadapan siapa pun.
Wallahu a’lam bishawab.

