Setelah Nabi Muhammad ﷺ berhasil mempersatukan hati kaum Muslimin, khususnya antara Muhajirin dan Anshar, timbullah pertanyaan besar: bagaimana cara merawat persatuan itu di tengah realitas bahwa manusia pasti memiliki perbedaan?
Dalam kajian di Nabawi TV, Ustadz Faris Baswedan mengupas tuntas rahasia para aimmah (imam) dan ulama salaf dalam menjaga ukhuwah islamiyah agar tidak terkoyak oleh fanatisme buta dan khilafiyah.
Berikut adalah tiga resep utama yang diajarkan oleh para ulama untuk merawat persatuan umat:
1. Perisai Emas Orang Berilmu: “Saya Tidak Tahu”
Penyebab terbesar rusaknya persatuan umat hari ini adalah banyaknya orang yang tidak berkompeten namun berani berbicara dalam urusan agama dan umat. Sebaliknya, ciri orang yang berilmu tinggi adalah kerendahan hatinya dalam mengakui batas pengetahuan.
Kalau sekiranya orang jahil (orang yang tidak memiliki pengetahuan) itu diam, tidak banyak berbicara, maka akan sedikit timbulnya perpecahan.
—Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA [07:48]
Ustadz Faris menyoroti bagaimana para imam besar menjadikan kalimat “La Adri” (Saya tidak tahu) sebagai perisai.
- Imam Sya’bi (murid Ibnu Mas’ud) disebut sebagai sosok yang paling banyak mengucapkan La Adri. Beliau berkata: “Aku berkata tidak tahu itu adalah separuh daripada ilmu.” [05:23]
- Imam Malik, yang merupakan guru dari Imam Syafi’i, bahkan pernah ditanya 20 lebih pertanyaan, namun mayoritas jawabannya adalah La Adri. Beliau bersabda: “Perisainya orang alim itu adalah apa, mengatakan saya tidak tahu.” [12:45]
Mengucapkan La Adri bukanlah aib, melainkan bukti ketakwaan, kecerdasan, dan kehati-hatian dalam menjaga keutuhan umat dari fatwa yang salah dan provokasi yang tidak berdasar.
2. Persatuan Tidak Harus Seragam
Kesalahan berpikir yang sering terjadi adalah menganggap persatuan (unity) harus berarti keseragaman (uniformity). Ustadz Faris menegaskan, perbedaan pendapat bukanlah alasan untuk berpisah.
Yang namanya persatuan itu tidak mengharuskan untuk kita seragam satu pendapat, enggak. [19:46]
- Sahabat Nabi: Di kalangan sahabat, perbedaan pendapat dalam banyak masalah adalah hal biasa, namun hal itu tidak pernah menjadi alasan untuk tidak bersatu atau saling menolong.
- Imam Syafi’i dan Imam Malik: Imam Syafi’i bahkan menulis satu bab khusus untuk membantah beberapa pendapat gurunya, Imam Malik. Namun, hubungan keduanya tetap terjaga sebagai guru dan murid. Di fase hidupnya, Imam Syafi’i sendiri pernah merubah pendapatnya sebanyak dua kali (Qaul Qadim dan Qaul Jadid) [21:43].
Perbedaan adalah kekayaan khazanah ilmu yang harus disikapi dengan lapang dada, bukan dengan emosi dan kebencian.
3. Ilmu Adalah Kunci Lapang Dada
Semakin dalam ilmu seseorang, semakin kecil kemungkinan ia menjadi fanatik dan mudah menuding. Sebaliknya, orang yang dangkal ilmunya (mainnya di situ-situ aja) akan mudah terprovokasi.
Semakin seseorang dalam ilmunya, semakin berat bobot ilmunya, akan semakin berat lisannya dalam mengingkari saudaranya. [34:08]
Ustadz Faris memberikan contoh teladan dari Imam Ahmad bin Hanbal, seorang imam mujtahid yang terkenal sangat ketat:
Imam Ahmad pernah mengingkari perbuatan seseorang (seorang buta) yang membaca Al-Qur’an di kuburan, dan beliau menganggapnya bid’ah.
Namun, ketika orang tersebut datang dan memberitahu Imam Ahmad bahwa ia mendengar sanad yang sahih (melalui perawi yang terpercaya) bahwa Abdullah bin Umar mewasiatkan hal tersebut kepada anaknya, Imam Ahmad langsung meralat! Beliau berkata, “Ya sudah kalau begitu kamu kembali temui laki-laki tersebut, katakan lanjutin ngajinya.” [29:55]
Imam Ahmad tidak membiarkan ego mengalahkan kebenaran. Beliau segera mengakui dalil yang sahih meskipun baru didengar, menunjukkan bahwa ilmu yang luas membuatnya cepat menerima kebenaran dan menghindari perpecahan.
Adab Diskusi Imam Syafi’i: Bertujuan Nasihat, Bukan Menang
Ustadz Faris menutup dengan adab berdiskusi yang dicontohkan oleh Imam Syafi’i.
Tidaklah aku mendebat seseorang melainkan tujuannya untuk menyampaikan nasihat. [25:03]
Imam Syafi’i berdiskusi bukan untuk mengalahkan, melainkan untuk saling mengambil manfaat. Bahkan, setelah berhasil mematahkan hujjah lawan, beliau pernah berkata kepada orang yang berdebat dengannya: “Engkau sekarang mengikuti pendapatku, dan aku mengikuti pendapatmu.” [24:18]
Ini adalah puncak kerendahan hati: tujuannya adalah kebenaran, bukan kemenangan. Semoga kita semua mampu meneladani para ulama ini untuk merawat persatuan yang telah dianugerahkan Allah SWT kepada kita.
Wallahu a’lam bishawab.

