NABAWI TV – Membangun bahtera rumah tangga yang harmonis, sakinah mawaddah wa rahmah, adalah impian setiap pasangan. Namun, dalam perjalanan, badai kerap datang. Dua masalah krusial yang sering kali menjadi momok terbesar adalah perselingkuhan dan perceraian.
Buya Yahya, dalam sesi “Ngobrolin Rumah Tangga Eps. 6” [00:24], menegaskan bahwa kedua hal ini memiliki hubungan erat, meskipun bisa terjadi terpisah. Beliau mengajak umat untuk menanggapi masalah ini secara mendalam, tidak hanya menyalahkan pasangan, namun juga menelaah sumber-sumber yang menjadi pemicunya.
Mengapa Perselingkuhan Terjadi? Buya Yahya Sebut Sumber Utamanya
Perselingkuhan, menurut Buya Yahya, bukanlah kejadian yang terjadi serta-merta [00:59]. Ia berakar dari hati yang kurang bersyukur dan mata yang liar.
“Kurangnya kita mensyukuri halal yang Allah berikan, menjadikan kita tamak kepada yang haram,” ujar beliau [01:05].
Syahwat dan hawa nafsu tidak akan tiba-tiba bangkit jika kita senantiasa menjaga rambu-rambu syariat. Buya Yahya menyoroti beberapa sebab utama perselingkuhan yang sering diremehkan:
1. Bahaya Tontonan Kotor (Pornografi)
Buya Yahya dengan tegas menyebutkan bahwa film kotor atau pornografi adalah sumber terbesar penyebab orang berselingkuh [01:53]. Beliau membantah keras anggapan sebagian pihak yang membolehkan menonton film porno untuk suami-istri.
Menurut beliau, menonton konten porno, bahkan bersama pasangan, dapat merusak mental. Secara tidak langsung, hal itu menunjukkan kepada pasangan bahwa ada hal yang lebih indah di luar sana, atau memberikan pesan: “Kalau aku pergi, kau boleh cari sendiri.” [02:15]
Akibatnya, hati menjadi kotor (kotor mentalnya), syahwat menjadi kecanduan, dan pasangan halal sendiri terasa tidak lagi indah [02:30].
Takutlah kepada Allah. Zina adalah hina di diri, zina hina di dunia, hina di akhirat. Tapi kuncinya menjaga mata agar tidak dikotori hati.
— Buya Yahya [04:51]
2. Melalaikan Rambu-Rambu Pergaulan
Rambu-rambu syariat yang mencegah khulwah (berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan non-mahram) serta ikhtilath (campur baur) juga kerap dilalaikan. Perselingkuhan bermula dari hal-hal yang dianggap sepele, seperti:
- Mengentengkan pandangan [03:56]: Memandang orang lain seolah lebih indah dari pasangan sendiri.
- Mengentengkan pergaulan [03:56]: Guyonan antara laki-laki dan perempuan yang memicu ketertarikan.
- Curhat kebablasan [04:13]: Ketika ada masalah rumah tangga, seseorang mencari kenyamanan pada lawan jenis, yang berujung pada kedekatan, bertukar foto, dan kehilangan kontrol.
Buya Yahya menekankan bahwa pondasi utama pencegahan adalah menguatkan iman dan menjaga mata [03:25]. Zikir dan tahajud tidak akan banyak membantu jika setelahnya mata kembali dikotori tontonan haram [03:30].
Perceraian Bukan Solusi Pertama: Memahami Bahasa Perempuan
Beralih ke masalah perceraian, Buya Yahya memberikan peringatan keras: Perceraian adalah hal terakhir. Ia ibarat amputasi, yang hanya dilakukan jika tidak ada lagi cara pengobatan lain [05:50].
Beliau mengingatkan para suami bahwa hak talak ada di tangan laki-laki karena ia adalah seorang pemimpin. Maka, seorang suami jangan bertindak seperti perempuan yang mudah sekali meminta cerai ketika ada masalah [06:20].
Memahami ‘Cerai’ Versi Istri
Hal yang menarik, Buya Yahya mengajak suami untuk memahami psikologi dan bahasa lembut perempuan. Ketika seorang istri berkata, “Cerai saja,” itu bukanlah permintaan talak yang sesungguhnya.
“Laki-laki harus paham bahasa perempuan. Perempuan itu karena lembut, itu bahasa kita,” jelas Buya Yahya [06:34].
Kosakata perempuan, dalam kondisi marah atau sedih, terbatas. Ungkapan “cerai” seringkali bermakna, “Abang, yuk berubah,” atau “Jangan gitu terus!” [00:06:48 – 00:07:03]. Jika suami langsung menanggapi dengan talak, itu menunjukkan kebodohan dan kurangnya ilmu dalam rumah tangga.
Pertimbangan Pascacerai: Antara Pukulan dan Zina
Sebelum bercerai, pasangan (terutama wanita) harus mempertimbangkan keselamatan dirinya setelah berpisah [07:35]. Buya Yahya memberikan pertimbangan yang sangat berat:
“Jauh lebih bagus Anda dengan seorang suami yang memukuli Anda setiap hari, daripada menjanda lalu esok hari berzina” [07:09].
Ini karena setelah perceraian, syahwat yang sempat terkubur karena problem rumah tangga bisa bangkit kembali, dan tanpa perlindungan, seorang wanita yang awalnya salihah bisa terjerumus dalam zina [07:21].
Kewajiban Tasrih Bi Ihsan
Jika perceraian harus terjadi, maka harus dilakukan dengan cara yang baik (tasrih bi ihsan) [07:59]. Permusuhan tidak boleh terjadi, apalagi jika sudah memiliki anak.
Seorang ayah tidak boleh mengajari anaknya membenci ibunya, dan sebaliknya [08:09].
Seorang istri maka kalau seorang istri mengajari anaknya memusuhi ayahnya, istri menghantarkan ke neraka. Sebab anaknya akan bermusuhan dengan ayahnya, akan durhaka selamanya. Mana ada surga bagi anak durhaka?
— Buya Yahya [08:17]
Pada akhirnya, segala ilmu yang didengar, baik tentang perselingkuhan maupun perceraian, harus dikembalikan kepada diri sendiri. Jangan hanya mendengarkan untuk menilai orang lain, tapi jadikanlah bekal untuk diri sendiri: “Aku harus sadar, di rumahku ini” [08:40].
Wallahu a’lam bishawab.

