NABAWI TV – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan dunia, bulan Rajab hadir sebagai oase ketenangan dan kesempatan emas bagi setiap Muslim untuk berbenah. Dalam Pengajian Akbar di Masjid Nur Syamsiah, Habib Taufiq Assegaf mengajak kita untuk menyelami makna mendalam dari bulan yang dimuliakan Allah ini. Bukan sekadar pergantian kalender, Rajab adalah titik start bagi mereka yang merindukan kemenangan di bulan Ramadan.
Mengapa bulan Rajab disebut sebagai “Bulan Hening”? Dan apa hubungannya dengan kesuksesan ibadah kita di bulan-bulan berikutnya? Berikut intisari tausiyah Al-Habib Taufiq bin Abdul Qadir Assegaf.
Rajab: Bulan Menanam, Bukan Memanen
Habib Taufiq menggunakan analogi pertanian yang sangat indah untuk menggambarkan siklus ibadah umat Islam. Beliau menjelaskan bahwa Rajab adalah Syahrul Badri (bulan menanam benih).
“Ibarat menanam, Rajab adalah saatnya kita menebar benih amal saleh. Bulan Syaban adalah saatnya menyirami dan memupuk (Syahrus Saqi), dan Ramadan adalah bulan panen raya (Syahrul Hashad),” terang beliau.
Banyak orang yang “kaget” saat Ramadan tiba; merasa berat untuk tarawih, malas baca Quran, dan sulit bangun malam. Mengapa? Karena tidak ada pemanasan. “Kalau Anda menunggu malam Ramadan baru mau ibadah, abot (berat), Pak! Enggak ada latihan dulu. Pemanasan itu mulai bulan Rajab,” tegas Habib Taufiq.
“Bulan Hening” yang Penuh Rahmat
Salah satu julukan unik bulan Rajab adalah Syahrul Ashamm (Bulan yang Tuli/Hening). Habib Taufiq menjelaskan sejarahnya bahwa di masa jahiliyah pun, bulan ini sangat dihormati. Tidak boleh ada suara pedang beradu, tidak ada peperangan, bahkan musuh pun dijamu layaknya saudara.
“Jika orang jahiliyah saja bisa menjaga kedamaian di bulan ini, betapa naifnya kita jika di bulan mulia ini masih ribut, bertengkar, dan menyebar kebencian,” pesan beliau.
Selain itu, Rajab juga disebut Syahrullah (Bulan Allah). Ini bukan berarti Allah hanya memiliki bulan ini, melainkan Idhafah Tasyrif (penyandaran untuk pemuliaan). Di bulan ini, Allah mengucurkan rahmat dan ampunan-Nya deras-deras (Al-Ashabb). Sungguh merugi orang yang melewati Rajab tanpa mendapatkan ampunan-Nya.
Selektif Memilih Teman Duduk
Dalam kajian ini, Habib Taufiq juga menekankan pentingnya lingkungan pergaulan (suhbah). Agama seseorang itu bergantung pada siapa teman dekatnya. Beliau mengutip hadits Nabi SAW tentang perumpamaan teman yang baik layaknya penjual minyak wangi: jika tidak diberi minyaknya, minimal kita kecipratan wanginya.
“Kita ini ibarat kertas karton. Karton di tempat sampah tidak ada harganya. Tapi karton yang menjadi sampul Al-Qur’an, dicium, ditaruh di tempat tinggi, dan dimuliakan. Kenapa? Karena dia ‘berkumpul’ dengan Al-Qur’an,” jelas Habib Taufiq memberikan tamsil yang mengena.
Maka, carilah teman duduk yang jika dipandang mengingatkan kita pada Allah, jika berbicara menambah ilmu kita, dan jika beramal membuat kita semangat beribadah.
Jangan Menunggu “Mati”
Di akhir tausiyah, Habib Taufiq memberikan peringatan keras namun penuh kasih sayang. Beliau mengingatkan agar kita tidak menunggu sakit atau tua untuk beribadah.
“Mumpung sehat, manfaatkan mata sebelum rabun untuk baca Quran. Manfaatkan kaki yang masih kuat untuk Qiyamullail. Jangan sampai nunggu stroke baru kepingin ibadah,” ujar beliau.
Hati yang hidup akan menyambut seruan Allah dengan semangat. Namun hati yang mati, walaupun diteriaki dengan pelantang suara sekalipun, tidak akan bergeming. Mari hidupkan hati kita di bulan Rajab ini dengan memperbanyak istighfar dan amal saleh.
Wallahu a’lam bishawab.

