Habib Alwi bin Al-Habsyi: Zikir Lailahaillallah, Kunci Surga dan Penyelamat dari Api Neraka

Keutamaan zikir tahlil sebagai zikir paling utama dan wirid wajib para penempuh jalan Allah.

Nabawi TV
4 Menit Bacaan

NABAWI TV – Zikir adalah santapan rohani bagi hati yang beriman. Di antara sekian banyak kalimat thayyibah, terdapat satu kalimat yang menjadi kunci surga, pembuka pintu langit, dan tameng dari siksa api neraka. Dalam kajian kitab Irsyadul Ibad ila Sabil Rasyad, Al-Habib Alwi bin Al-Habsyi menguraikan secara mendalam tentang kedahsyatan zikir Lailahaillallah.

Mengapa para ulama dan guru-guru besar tarekat sepakat menjadikan kalimat ini sebagai wirid utama bagi para murid (salik)? Dan bagaimana zikir ini bisa menjadi jaminan keamanan bahkan bagi pendosa sekalipun? Berikut intisari nasihat Habib Alwi bin Al-Habsyi.

Rajanya Segala Zikir

Habib Alwi menekankan bahwa Lailahaillallah adalah zikir yang paling afdal (utama) dan tidak ada satu pun zikir lain yang mampu menandinginya. Beliau menukil sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bazzar:

“Sesungguhnya Lailahaillallah adalah kalimat yang mulia di sisi Allah dan memiliki kedudukan yang agung. Barangsiapa mengucapkannya dengan tulus, Allah masukkan ia ke surga. Dan barangsiapa mengucapkannya dengan dusta (pura-pura), maka haram darah dan hartanya (di dunia), adapun hisabnya di sisi Allah.”

Keagungan kalimat ini begitu besar hingga Rasulullah ﷺ pernah menegur keras sahabat Usamah bin Zaid RA yang membunuh musuh yang telah mengucapkan Lailahaillallah di medan perang, karena menganggapnya hanya sebagai tameng. Nabi ﷺ bertanya berulang kali, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Lailahaillallah? Apakah engkau sudah membelah dadanya untuk tahu isi hatinya?”

Jaminan Surga, Meski Pendosa

Salah satu riwayat paling menggembirakan yang disampaikan adalah dialog antara Nabi ﷺ dan sahabat Abu Said Al-Khudri RA (atau dalam riwayat lain Abu Dzar Al-Ghifari RA). Nabi ﷺ bersabda bahwa siapa pun yang mengucapkan Lailahaillallah dan mati di atasnya, pasti masuk surga.

Ketika ditanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri?” Nabi ﷺ menjawab tegas, “Meskipun ia berzina dan mencuri.” Ini menunjukkan bahwa kalimat tauhid ini adalah tiket keselamatan yang tak ternilai harganya, yang pada akhirnya akan menghantarkan seorang mukmin ke surga, meskipun ia harus dibersihkan dulu dari dosa-dosanya (jika tidak diampuni).

Wirid Wajib Para Salik

Para Masyayikh (guru besar) dan orang-orang saleh sepakat menjadikan Lailahaillallah sebagai menu utama dalam suluk (perjalanan spiritual) menuju Allah. Bagi seorang pemula (mubtadi), dianjurkan untuk memperbanyak zikir ini di setiap waktu luang, setelah salat fardhu maupun sunnah.

Namun, Habib Alwi juga mengingatkan nasihat Imam Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam Risalatul Muawanah, agar tidak menghabiskan waktu hanya untuk satu jenis zikir saja.

“Jangan kamu habiskan waktumu hanya untuk satu zikir, meskipun itu yang paling afdal. Karena setiap wirid (bacaan Quran, tasbih, shalawat) memiliki cahaya, rahasia, dan karunia tersendiri yang tidak dimiliki oleh yang lain.” —Imam Abdullah Al-Haddad

Variasi zikir akan menghindarkan hati dari rasa bosan dan membuka berbagai pintu waridat (limpahan karunia) dari Allah SWT.

Zikir Lisan vs Zikir Hati

Mana yang lebih utama, zikir lisan atau hati? Menurut Imam Nawawi, yang paling sempurna adalah zikir lisan yang disertai kehadiran hati (hudhuraul qalb). Namun, jika hati belum bisa khusyuk, jangan sekali-kali meninggalkan zikir lisan.

“Lebih baik zikir walau hati lalai, daripada tidak zikir sama sekali (lalai lisan dan hati),” ujar Habib Alwi mengutip hikmah Ibnu Athaillah. Teruslah berzikir, karena lama-kelamaan zikir yang lalai itu bisa berubah menjadi zikir yang sadar (yaqzhah), dan akhirnya menjadi zikir yang penuh kehadiran (hudhur).

Di akhir kajian, Habib Alwi mengingatkan tentang keutamaan bulan Rajab sebagai bulan menanam benih. Beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak istighfar Rabbighfirli warhamni watub ‘alayya (70 kali pagi dan sore) serta puasa sunnah, minimal 3 hari di bulan haram ini.

“Kalau di Rajab ini kita tidak menanam (amal saleh), apa yang mau kita siram di Syaban? Dan apa yang mau kita panen di Ramadan?” pungkas beliau.

Wallahu a’lam bishawab.

Bagikan Artikel Ini
Tidak ada komentar