Pertanyaan fundamental yang sering memicu perpecahan umat Islam di era digital adalah: Apakah mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi) berarti harus membenci Sahabat Nabi? Menurut Prof. Dr. H. Mohammad Baharun, S.H., M.A., pandangan ini adalah narasi liar yang bertentangan dengan akidah Ahlusunah wal Jamaah (Aswaja). Aswaja adalah manhaj (metode) yang secara kafah mengikuti Sunah Nabi dan Khulafaur Rasyidin.
“Tidak ada di dalam internal Ahlusunah wal Jamaah pertentangan antara argumen satu dengan lainnya. Hanya periode kebelakanganlah muncul sentimen yang seolah menciptakan dikotomi antara kelompok Sahabat dengan kelompok Ahlul Bait.”
Aswaja: Manhaj yang Mengikuti Sunah Nabi dan Sahabat
Prof. Baharun menjelaskan bahwa Ahlusunah wal Jamaah merupakan metode (manhaj), jalan (thariqah), dan mazhab yang berpegangan teguh pada sabda Nabi: “’Alaikum bisunnati wasunatil khulafair rasyidina min ba’di” (Pegang teguh sunahku dan sunah Khulafaur Rasyidin setelahku). Keempat Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) merupakan sahabat Nabi. Sayidina Ali sendiri, selain sebagai anggota Ahlul Bait, juga adalah seorang sahabat Nabi.
Kedudukan Imam Jafar Shadiq dan Mazhab
Muncul spekulasi bahwa Imam Jafar Shadiq menggagas mazhab Ahlul Bait. Prof. Baharun menepisnya dengan menjelaskan bahwa Imam Jafar Shadiq bukanlah pendiri mazhab, melainkan **Guru Besar** para pendiri mazhab. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik belajar langsung kepada beliau, dan dua imam mazhab lainnya (Imam Syafi’i dan Imam Ahmad) secara tidak langsung mengambil ilmu dari rantai keilmuan beliau. Ini menunjukkan adanya mata rantai keemasan ilmu yang sambung-menyambung, bukan pertentangan.
Fakta Dukungan Ali bin Abi Thalib kepada Khulafa Sebelumnya
Sejumlah narasi liar muncul belakangan yang menuduh Sayidina Ali tidak membaiat ketiga khalifah sebelumnya. Prof. Baharun membantah keras tuduhan ini dengan bukti sejarah faktual:
- Mustasyar (Penasihat): Sayidina Ali secara aktif menjadi penasihat pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Umar. Mustahil seseorang menjadi penasihat tanpa membaiat pemimpin.
- Pengakuan Umar: Sayidina Umar pernah mengakui, “Laula Ali lahalaka Umar” (Seandainya tidak ada Ali, niscaya binasalah Umar), menunjukkan peran sentral Ali sebagai faqih dan penasihat kekhilafahan.
- Urutan Senioritas: Urutan kekhilafahan (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali) diatur sedemikian rupa berdasarkan senioritas, mertua, menantu, dan usia, yang semuanya adalah anggota rumah tangga besar Nabi.
Menyikapi Konflik dan Isu Abu Hurairah
Mengenai Perang Jamal dan Siffin, ahlusunah wal jamaah memilih untuk “Wa ma jaro baina sahabati naskutu” (Terhadap apa yang terjadi di antara sesama sahabat, kita memilih diam) sebagai kearifan beragama. Para ulama ahlusunah wal jamaah, khususnya di Hadramaut, mengambil sikap ini untuk menghindari fitnah. Dalam isu Abu Hurairah yang dituduh memalsukan hadis, Prof. Baharun menegaskan bahwa tuduhan itu bersumber dari orientalis Barat (Ignas Goldzehir) dan bukan dari ulama ahli hadis. Abu Hurairah adalah sahabat pilihan Nabi yang didoakan dan dikhususkan untuk menghafal lebih dari 5.000 hadis.

Penting bagi umat Islam, terutama anak muda, untuk membentengi diri dari narasi yang memecah belah dan kembali kepada sanad keilmuan ulama ahlusunah wal jamaah, yang senantiasa berupaya merekatkan ukhuwah Islamiah.

