NABAWI TV – Pernahkah Anda membayangkan shalat di dalam masjid yang sejuk alami tanpa ketergantungan penuh pada AC, atau berwudhu dengan air daur ulang yang jernih? Pemandangan menyejukkan ini kini bukan sekadar angan-angan.
Dunia sedang menyoroti tren “Green Islam”, sebuah gerakan di mana nilai Islam diterjemahkan ke dalam gaya hidup ramah lingkungan. Contoh paling nyata ada di depan mata kita, yakni wajah baru Masjid Istiqlal di Jakarta. Istiqlal kini dinobatkan sebagai masjid ramah lingkungan pertama di dunia yang meraih sertifikasi Excellence in Design for Greater Efficiencies (EDGE). Panel surya yang membentang di atap dan sistem penghematan air yang canggih menjadi bukti bahwa masjid bisa menjadi pelopor teknologi hijau.
Tak hanya di Indonesia, di Inggris terdapat Cambridge Central Mosque. Masjid ini didesain unik dengan struktur kayu yang menyerupai pepohonan rindang untuk menangkap cahaya matahari alami (skylight), sehingga meminimalkan penggunaan lampu di siang hari. Namun, bagi seorang Muslim, ini sejatinya bukan sekadar tren arsitektur belaka.
Manusia sebagai Khalifah Penjaga Bumi
Islam bukan agama yang hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum Minallah) dan hubungan antar manusia (Hablum Minannas), tetapi juga hubungan manusia dengan alam (Hablum Minal Alam). Al-Qur’an secara tegas menyebutkan posisi manusia sebagai Khalifah fil ardh (wakil pemimpin di bumi).
Tugas utama khalifah bukanlah mengeksploitasi, melainkan memakmurkan dan menjaga keseimbangan alam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
— QS. Al-A’raf: 56.
Ayat ini menjadi landasan teologis yang kuat bahwa merusak lingkungan, membuang sampah sembarangan, atau boros energi adalah tindakan yang bertentangan dengan mandat ilahi.
Masjid sebagai Pusat Peradaban Hijau
Kehadiran masjid seperti Istiqlal dan Cambridge Central Mosque adalah simbol visual dari kesadaran umat. Ketika masjid didesain hemat energi dan mengelola limbah air wudhu, ia sedang mengajarkan jamaahnya sebuah dakwah bil hal (dakwah dengan perbuatan).
Gerakan pengurangan sampah plastik saat acara keagamaan, seperti pembagian daging kurban dengan besek bambu atau penyediaan air minum isi ulang saat kajian, adalah langkah kecil yang berdampak besar.

Memulai dari Diri Sendiri
Fenomena Green Islam mengajak kita merenung. Jangan sampai kesalehan ritual kita di dalam masjid—seperti shalat dan zikir—ternoda oleh perilaku buruk kita di luar masjid yang merusak alam.
Apa yang bisa kita lakukan mulai hari ini?
- Membawa botol minum sendiri (tumbler) saat menghadiri majelis ilmu untuk mengurangi sampah gelas plastik.
- Menggunakan air wudhu secukupnya, meneladani Rasulullah ﷺ yang berwudhu hanya dengan satu mud air.
- Mendukung pembangunan atau renovasi masjid yang memperhatikan sirkulasi udara alami.
Menjaga bumi adalah bagian dari menjaga amanah Allah. Masjid yang ramah lingkungan bukan hanya indah dipandang mata, tetapi juga menjadi saksi ketaatan kita dalam merawat tempat tinggal sementara ini sebelum menuju kampung akhirat yang abadi.
Wallahu a’lam bishawab.

