NABAWI TV – Iman bukan sekadar pengakuan lisan, namun perpaduan antara keyakinan akal yang kokoh dan kelembutan hati dalam bersikap. Dalam kajian Kitab Aqidatul Awwam dan Ar-Rahmah Fi Hayatir Rasul, kita diajak menyelami dua fondasi penting: membuktikan keberadaan Allah secara rasional dan meniru kasih sayang Nabi dalam merespon aib sesama.
Seringkali kita bertanya atau ditanya, “Mana bukti Tuhan itu ada?” atau di sisi lain kita terjebak dalam sikap “kepo” (ingin tahu berlebihan) terhadap dosa orang lain. Berikut adalah pencerahan dari Habib Geys Assegaf dan Ustaz Wildan mengenai hal tersebut.
Sifat Nafsiyah: Bukti Allah Itu Ada
Dalam ilmu tauhid, sifat ‘Wujud’ (Ada) bagi Allah disebut sebagai Sifat Nafsiyah. Artinya, sifat yang menunjukkan eksistensi Zat itu sendiri. Mustahil Allah itu tidak ada.
Habib Geys Assegaf menjelaskan bahwa dalil keberadaan Allah terbagi dua: Dalil Naqli (Al-Qur’an) dan Dalil Aqli (Akal). Salah satu sandaran wahyu yang mengajak kita berpikir adalah firman Allah:
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ ۗ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar…” — QS. Ar-Rum: 8.
Secara akal, alam semesta yang terus berubah (siang-malam, panas-dingin, bayi menjadi tua) adalah bukti adanya Sang Pengatur. Sesuatu yang berubah pasti ada yang mengubahnya.
Debat Logika Kapal Tak Berawak
Imam Abu Hanifah pernah membungkam kaum ateis (Dahriyun) dengan sebuah analogi cerdas. Beliau berkata, “Tunggu sebentar, saya sedang memikirkan sebuah kabar aneh. Ada kapal besar di lautan yang berlayar sendiri, memuat barang sendiri, menerjang ombak besar, dan berlabuh sendiri tanpa nakhoda maupun awak kapal.”
Kaum ateis menjawab, “Itu tidak masuk akal! Mana mungkin kapal berjalan tanpa pengendali?”
Imam Abu Hanifah membalas telak, “Jika kapal kecil saja mustahil berjalan tanpa nakhoda, bagaimana mungkin alam semesta dengan langit, bumi, dan orbit planet yang begitu presisi ini berjalan tanpa Pencipta?”
Misteri Satu Daun
Imam Syafi’i pun memiliki cara unik membuktikan adanya Allah lewat selembar daun Murbei (Tut). Daun yang sama, jika dimakan ulat sutra akan menghasilkan sutra, jika dimakan lebah menghasilkan madu, dan jika dimakan kambing menjadi kotoran.
“Siapa yang menciptakan output berbeda dari input yang sama persis itu jika bukan Allah?”
Seni Menutup Aib: Kisah Ma’iz bin Malik
Setelah akal kita dipuaskan dengan bukti keesaan Allah, hati kita disentuh oleh Ustaz Wildan melalui kisah Ma’iz bin Malik dalam kitab Ar-Rahmah Fi Hayatir Rasul. Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak gemar mengumbar atau mencari-cari dosa orang lain.
Ma’iz bin Malik, seorang sahabat, tergelincir melakukan dosa besar (zina). Ia didorong oleh rekannya bernama Huzzal untuk mengaku kepada Nabi ﷺ agar disucikan (dihukum).
Apa respon Rasulullah ﷺ saat Ma’iz datang mengaku? Beliau tidak langsung memvonis. Justru, Nabi berpaling dan menolak pengakuan itu sampai empat kali.
Rasulullah Mencari “Alasan”
Nabi ﷺ berusaha mencari celah agar Ma’iz tidak dihukum dengan pertanyaan-pertanyaan yang memberi peluang bebas:
- “Mungkin engkau gila (tidak sadar)?”
- “Apakah engkau sedang mabuk?” (Bahkan Nabi menyuruh sahabat mencium mulut Ma’iz untuk memastikan bau alkohol).
- “Mungkin engkau hanya menyentuh atau mencium?”
Nabi ﷺ tidak “kepo” atau antusias mendengar rincian dosa umatnya. Beliau justru menyesalkan kenapa aib itu dibuka. Kepada Huzzal yang menyuruh Ma’iz mengaku, Nabi bersabda:
يَا هَزَّالُ، لَوْ سَتَرْتَهُ بِثَوْبِكَ لَكَانَ خَيْرًا لَكَ
“Wahai Huzzal, sekiranya engkau menutup aibnya dengan jubahmu, itu jauh lebih baik bagimu.” — HR. Ahmad dan Abu Dawud.
Pelajaran Bagi Kita
Di era media sosial saat ini, aib seringkali menjadi komoditas tontonan. Kita sering merasa perlu tahu (kepo) masalah rumah tangga orang lain atau viralnya dosa seseorang. Padahal, akhlak Nabi mengajarkan sebaliknya: Tutup aib saudaramu.
Jika Rasulullah ﷺ saja berusaha memalingkan wajah dari pengakuan dosa di hadapannya, siapakah kita yang justru mencari-cari kesalahan orang lain? Cukupkan tobat antara hamba dengan Tuhannya, tanpa perlu diumbar ke khalayak ramai.
Wallahu a’lam bishawab.

