Pernahkah Sahabat Nabawi mendengar celetukan, “Yang lain sudah pergi ke bulan, kok kita masih sibuk ngurusin agama?” atau “Negara Barat gak pakai agama juga maju-maju aja tuh, hidupnya teratur!”
Di era modernitas yang serba digital dan canggih ini, pertanyaan nakal semacam itu sering muncul. Sebagian orang merasa bahwa peradaban manusia sudah mencapai puncaknya, aturan hukum sudah lengkap, teknologi sudah maju, sehingga peran Tuhan dan agama dianggap usang alias tidak relevan lagi.
Namun, benarkah demikian? Apakah kemajuan materi bisa menggantikan peran spiritual? Dalam kajian Towards Unity di Nabawi TV, Gus Abdul Wahab Ahmad memberikan jawaban yang sangat menohok dan logis. Beliau memaparkan alasan fundamental mengapa manusia modern justru mutlak membutuhkan agama.
Apa Itu Agama? Jangan Salah Definisi!
Sebelum berdebat, Gus Wahab mengajak kita meluruskan definisi. Jika agama hanya diartikan secara bahasa Sansekerta (a = tidak, gama = kacau) yang berarti “keteraturan”, maka wajar jika orang berpikir hukum negara bisa menggantikan agama.
Namun, definisi Islam tentang agama (Ad-Din) jauh lebih dalam.
Agama adalah akidah dan jalan hidup… ia adalah serangkaian keyakinan yang diyakini oleh seseorang sehingga perbuatan-perbuatannya disesuaikan dengan keyakinan tersebut. [02:03]
Dalam Islam, agama tidak bisa dilepaskan dari unsur Tuhan. Selama manusia masih meyakini adanya Tuhan, maka di situlah agama hidup.
Tiga Alasan Kenapa Manusia Modern Tetap Butuh Agama
Gus Wahab menjabarkan tiga alasan rasional mengapa secanggih apapun zaman, agama tidak akan pernah tergantikan:
1. Manusia Tidak Bisa Menentukan “Baik dan Buruk” Sendirian
Tanpa wahyu Tuhan, standar moral manusia itu relatif dan kacau. Apa yang dianggap buruk oleh sebagian orang, bisa dianggap baik oleh orang lain atas nama “kebebasan”.
- Miras & Narkoba: Ada yang bilang buruk, tapi ada yang bilang itu kebutuhan untuk “healing”.
- Zina: Agama bilang itu dosa besar dan merusak nasab. Tapi peradaban modern tanpa agama menganggapnya wajar selama “suka sama suka”, bahkan menyediakan alat kontrasepsi sebagai solusi, bukan melarang perbuatannya. [04:16]
- Penjajahan: Dulu, orang Eropa merasa menjajah itu perbuatan mulia (misi pemberadaban). Padahal bagi kita, itu kejahatan kemanusiaan.
Tanpa Tuhan sebagai Hakim Tertinggi, siapa yang berhak memutuskan mana yang benar? Manusia butuh standar absolut dari Sang Pencipta.
2. Tanpa Tuhan, HAM Itu Omong Kosong
Ini poin yang sangat menarik. Hak Asasi Manusia (HAM) yang diagung-agungkan dunia modern sejatinya adalah konsep relijius. Para ahli mendefinisikan HAM sebagai hak yang diberikan oleh Tuhan (God-given rights).
Jika seseorang mengaku ateis atau menolak agama, secara logika ia meruntuhkan pondasi HAM itu sendiri.
Ketika Tuhan dianggap tidak ada, maka manusia tidak lebih hanya sebagai satu organisme di alam semesta ini yang setara dengan organisme lain… Manusia tanpa Tuhan juga harus dianggap wajar ketika memangsa manusia lain yang dianggap lebih lemah. [08:27]
Tanpa Tuhan, manusia tak ubahnya kumpulan sel seperti hewan. Hewan kuat memakan hewan lemah itu wajar (hukum rimba). Agama-lah yang memuliakan manusia dan memberikan batasan moral untuk saling menghormati.
3. Nasib Setelah Kematian (Eskatologi)
Modernitas bisa memberikan kenyamanan hidup di dunia: AC dingin, mobil cepat, internet kencang. Tapi, apakah modernitas punya jawaban tentang apa yang terjadi setelah jantung berhenti berdetak?
Nilai-nilai modern sama sekali tidak dapat menggantikan agama dalam satu poin krusial ini, yaitu soal keimanan, soal keselamatan setelah kematian. [10:21]
Para Nabi diutus dengan mukjizat yang nyata untuk memberitahu kita tentang pertanggungjawaban di akhirat. Ini adalah informasi valid yang tidak bisa dijangkau oleh sains atau teknologi manapun.
“Yang Lain Sudah ke Bulan, Kita Masih Bahas Agama?”
Gus Wahab menutup kajian dengan menyindir orang-orang yang suka mempertentangkan agama dengan kemajuan sains. Menurut beliau, ucapan seperti itu justru menunjukkan ketidaktahuan.
Agama Islam justru memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu dan menjadi orang yang bermanfaat (Khairunnas anfa’uhum linnas). Jadi, menjadi religius tidak menghalangi seseorang untuk jadi ilmuwan roket, dokter hebat, atau ahli IT. Keduanya bisa berjalan beriringan.
Padahal aslinya sebenarnya kebanyakan cuman malas salat, lalu mencari pembenaran dengan menggugat agama. [12:44]
Sebuah closing statement yang jenaka namun menampar kesadaran kita. Yuk, jadi Muslim yang modern secara akal, namun tetap teguh secara spiritual!
Wallahu a’lam bishawab.

